Perjalanan Heroik Pendamping Desa ke Desa Ujung Timur Jambi (1)

Jalan Berlumpur Dorong Motor, Berdebu Tahan Napas

0 275

berjambi.com-Perjalanan ke desa-desa di Ujung Timur Provinsi Jambi tidak mudah. Selain dibutuhkan fisik yang kuat, juga kita tak boleh mudah menyerah. Ada dua desa paling ujung dari Kecamatan Sadu, kabupaten Tanjungjabung Timur (Tanjabtim) yang disusuri Rabu (27/1) lalu. Kedua desa tersebut yakni Labuhan Pering dan Sungai Benuh. Untuk mencapai Sungai Benuh, perlu melewati desa Labuhan Pering terlebih dahulu.

Desa Sungai Benuh berbatasan langsung dengan desa Tanah Pilih, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Desa Sungai Benuh terletak di area paling ujung timur kabupaten Tanjungjabung Timur. Untuk mencapai ke sana kita bisa dengan jalur darat dan laut melalui pelabuhan di Kecamatan Nipah Panjang. Perjalanan darat hanya bisa dilalui dengan kendaraan roda dua selama hampir 8 jam lebih dari Nipah Panjang. Sedangkan perjalanan laut bisa dilalui dengan kapal dengan lama perjalanan hingga 12 jam lebih.
Perjalanan kali ini diikuti rombongan pendamping desa, yang terdiri dari Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Provinsi Jambi, Mohd Haramen yang juga Koordinator Pendampingan Wilayah Tanjabar dan Tanjabtim, Koordinator Kabupaten Tanjabtim, Jasmani, Pendamping Desa, M Syafi’i, Pendamping Lokal Desa, Fika Novita Sari. Rombongan pendamping ini langsung dikawal oleh Kepala Desa Labuhan Pering, Mukhtar.
Perjalanan dimulai saat jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB dari Kota Sabak, ibukota Kabupaten Tanjabtim. Dengan mengendarai kendaraan roda dua, melewati jalan beraspal, diselingi jalan tanah becek berdebu, rombongan berhasil sampai ke Nipah Panjang pukul 17.30 WIB melintasi beberapa desa di Kecamatan Dendang dan Rantau Rasau. Saat di kecamatan Dendang, rombongan terpaksa melewati jalur air, saat di desa Koto Kandis. Sesampai di Nipah, Setelah istirahat sejenak, rombongan menyebrang dengan pompong menuju kecamatan Sadu. Penyebarangan hanya memakan waktu sekitar lebih kurang 15 – 20-an menit.
Sesampai di seberang, perjalanan malam hari dimulai. Saat itu sang pendamping desa, M Syafi’i berpesan, jangan berjauh-jauhan. ‘’Kalau malam hari banyak musuh,’’ ingat pria yang biasa di panggil bang Fi’i ini. Maklum saja, baru baru ini heboh pemberitaan munculnya Harimau Sumatera di beberapa titik daerah yang dilalui.
Rombongan mengendarai kendaraan bermotor dengan cara beriring-iringan. Beberapa kali harus berhenti, selain untuk istirahat juga karena beberapa ruas jalan yang berlumpur. Sempat beberapa kali Kades Labuhan Pering harus turun tangan membantu mendorong motor rombongan yang terperosok di lumpur.
‘’Ada jalan sedikit bagus, pilih jalan berlumpur,’’ sebut pak Kades yang dikenal pendiam itu dengan logat bugis. “Mohon maaf pak Datuk, kalau malam mata saya kurang jelas melihat,’’ tukas salah seorang rombongan sambil ketawa.
Memang jalan yang bagus ukuran disana berbeda dengan barometer masyarakat kota. Jalanan di Sadu sudah dianggap bagus kalau tidak berlumpur alias bisa dilewati. Meskipun harus piawai mencari ruas yang mudah dilewati tersebut. Yang jelas sepanjang ruas jalan ada yang berlumpur dan ada juga yang berdebu. Saat bertemu ruas berlumpur harus dorong motor, dan saat bertemu yang berdebu harus tahan napas. “Kalau hujan, bisa bisa kita menangis, dorong motor aja gak bisa apalagi dikendarai,” imbuh bang Fi’i, Pendamping Desa yang selalu dipuji Kades di Kecamatan Sadu tersebut.
Tepat pukul 03.30 WIB dini hari Kamis (28/1), rombongan sampai di desa Labuhan Pering. Setelah diajak makan, rombongan istirahat. Soal menu, makan malam itu membuat mata rombongan pendamping desa terbelalak. Soalnya menu yang disajikan sangat enak, dan membuat rombongan pendamping makan besar. “Udangnya cuy,” seru salah seorang rombongan. (ditulis Mohd Haramen/bersambung)

Foto bersama aparatur desa dan pengurus BUMDes Fitrah Cahaya Mandiri Desa Labuhan Pering
Leave A Reply

Your email address will not be published.