Wenny Ira Reverawati, Perempuan Inspiratif Penyulap Sampah Jadi Emas

publisher

JAMBI, berjambi.com – Tak banyak perempuan seperti mbak Wenny. Demikian nama Wenny Ira Reverawati, Penerima Apresiasi Tingkat Provinsi 2021  dipanggil. Akademisi yang lahir di desa Pematang Kancil, Kabupaten Merangin ini telah menginspirasi banyak perempuan di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini.

Berawal dari keprihatinannya terhadap tumpukan sampah, kini perempuan manis yang berkacamata ini mendirikan Sekolah Bank Sampah Perempuan di Desa Penyengat Olak, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi. Dimana masyarakat di desa tersebut terutama yang perempuan dilatihnya untuk mengubah sampah tersebut menjadi barang bernilai.

”Ada yang dibuat menjadi tas kecil, piring dan kerajinan lainnya yang tentunya bisa dijual,” ucapnya saat diwawancara melalui zoom meeting belum lama ini.

Mendirikan Sampah di desa Penyengat Olak tersebut baginya memang bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Tapi perjuangan yang penuh onak dan duri. Hampir dua tahun mbak Wenny memperjuangkannya demi kemajuan kaum perempuan desa ini. Diawali dari observasi pada awal 2015 hingga akhirnya mendapat legalitas resmi pada November 2016.

”Alhamdulillah sekarang sekolah tersebut sudah berdiri dan bisa bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.

Harapan mbak Wenny, paling tidak sekolah ini bisa membangkitkan kesadaran masyarakat desa agar jangan membuang sampah sembarangan. Dampak dari tumpukan sampah katanya, itu sangat banyak. Selain menimbulkan berbagai penyakit, juga akan menyebabkan banjir.

”Ini karena faktor kebiasaan yang melekat dan minimnya edukasi hingga ke tingkat desa,” tukasnya.

Oleh karena itulah lanjutnya, untuk membangkit masyarakat kesadaran akan sampah ini, maka perlu dilakukan edukasi sejak dini. Mulai dari usia anak-anak higga dewasa. Sehingga kedepan bisa menjadi corong dalam mengubah sikap terhadap sampah.

”Bagi saya, faktor kesadaran ini bukan saja disebabkan minimnya pendidikan tapi juga ketauladan,” tukasnya.

Diakuianya, ketauladan dari tokoh masyarakat juga sangat penting untuk diterapkan. Dan kedepan, jangan sampai para aparatur desa, tokoh tokoh agama, tokoh masyarakat memperlihat prilaku membuang sampah sembarangan.

”Dan lebih penting lagi saya kira, jika diperlukan, desa juga harus punya perdes soal sampah,” tegasnya.

Keberadaan perdes ini menurut akan membuat penegakan hukum tentang sampah ini semakin baik di masyarakat. Regulasi yang mengatur katanya akan menjadi kesadaran masyarakat timbul, bahwa sampah layak diperlukan secara baik, untuk kelestarian lingkungan.

Kini memang kerja kerasnya terbayar sudah.  Selain mendapat penghargaan Astra, mbak Wenny juga sudah bahagia melihat konsistensi semangat para perempuan mengembangkan Sekolah Bank Sampah Perempuan Penyengat Olak yang kini semakin besar dari hari ke hari. (Mohd Haramen)