Tawarkan Solusi Tekan Angka Pengangguran, Caleg DPR RI PKB Elpisina Ingin Pendidikan di Jambi Mampu Memotret Kebutuhan Dunia Kerja dan Industri

publisher

PADA tahun 2020 hingga tahun 2030 mendatang, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, yakni fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak.

Namun demikian, jika hal tersebut tidak terkelola dengan baik, justru akan menjadi masalah demografi dimana pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan kualitas dari jumlah penduduk tersebut. Salah satu yang menjadi ancaman adalah angka pengangguran yang cukup tinggi.

Di Indonesia sendiri pengangguran menjadi salah satu masalah yang cukup krusial, karena berdasarkan data tahun 2023 ada sekitar 147,71 juta angkatan kerja, yang mana 7,86 juta masuk dalam kategori pengangguran. Sementara di Jambi sendiri dari sebanyak 1,89 juta angkatan kerja pada tahun 2023, sekitar 85 ribu masuk dalam kategori pengangguran.

Menyikapi hal ini, anggota DPRD Provinsi Jambi, Elpisina menilai bahwa ada hal yang cukup mengherankan terjadi di Jambi, dimana banyak angkatan kerja di Provinsi Jambi terkategori dalam pengangguran padahal lapangan pekerjaan cukup memadai.

Sekretaris DPW PKB Provinsi Jambi itu juga berpendapat, latarbelakang
pendidikan atau bidang keilmuan yang dimiliki angkatan kerja di Jambi masih banyak yang tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.

“Kalo kita perhatikan selama ini pendidikan yang dilalui dengan dunia kerja tidak sejalan. Banyak anak-anak yang sudah lulus kuliah tetapi tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya,” ujar Elpisina.

Putra asli Jambi kelahiran terusan Kabupaten Batanghari itupun juga mendorong pemerintah mampu untuk menghasilkan terobosan baru dalam hal mengantisipasi dunia industri yang semakin kuat dan beragam.

Caleg DPR RI PKB Dapil Jambi itu mengatakan, bahwa pendidikan harus dapat memotret dunia kerja serta kebutuhan dunia industri pada masa yang akan datang.

“Pendidikan dalam hal ini sekolah maupun perguruan tinggi, harus mendesain lulusannya agar tidak menganggur dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja untuk membangun bangsa kedepan,” jelasnya.

Selain itu, hal lain yang menjadi penyebab tingginya angka pengangguran di Jambi yaitu, pekerja dengan kemampuan di bawah kualifikasi, dimana status pendidikannya tidak sesuai dengan kompetensinya.

“Kemudian yang juga menjadi masalah adalah underqualified, yakni status pendidikan yang tidak berbanding lurus dengan skill yang dimilikinya,” terangnya.

Lebih lanjut, kader murni Nahdlatul Ulama (NU) tersebut berharap, kedepan angkatan kerja haruslah mempunyai bidang keilmuan serta kemampuan yang memang menjadi kebutuhan lapangan pekerjaan.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat tiga periode itu bahkan memiliki gagasan, agar di Jambi yang merupakan daerah pertanian dan perkebunan, dimana mayoritas penduduknya bekerja dibidang tersebut agar berupaya menyiapkan angkatan kerja yang memang ahli dibidangnya untuk langsung dapat disalurkan ke dunia kerja.

“Permasalahan konkrit dalam hal konteks pekerjaan di Jambi ini merupakan fakta unik, disatu sisi tingginya angka pengangguran di Jambi tapi disisi lain tersedia lapangan pekerjaan yang cukup memadai,” ungkapnya.

“Setelah dicermati yang menjadi masalah adalah sangat minimnya sarana pendidikan baik sekolah maupun perguruan tinggi yang menyediakan lulusan, dimana tamatannya banyak dibutuhkan lapangan pekerjaan yang ada di Jambi,” lanjutnya.

Elpisina pun mencontohkan seperti fenomena di Jambi saat ini dimana maraknya usaha pertambangan batubara, namun disisi lain sangat minimnya sarana pendidikan yang menyediakan lulusan khusus yang mempelajari ilmu tentang pertambangan batubara.

Begitu juga dengan banyaknya usaha perkebunan kelapa sawit dan industri pengolahan kelapa sawit, namun tidak ada sekolah ataupun perguruan tinggi yang menyiapkan lulusan yang dibutuhkan oleh industri perkebunan kelapa sawit.

Ia pun berkomitmen, jika diberikan kepercayaan oleh masyarakat Jambi untuk menyuarakan aspirasi di Senayan, hal itu menjadi salah satu yang ingin diperjuangkannya untuk mengatasi permasalahan angka pengangguran yang masih cukup tinggi di Provinsi Jambi. (***)