Akhlak di Atas Ilmu

0 124

Oleh Mohd Haramen

SUATU ketika saya mengobrol dengan orang tua santri di salah satu pondok pesantren. Dirinya mengaku sudah menyekolahkan anaknya di pondok tersebut hingga selesai. Dan saat ini yang sedang ia pondokkan adalah anaknya yang kedua. Dirinya bercerita, bahwa di pondok tersebut, kemampuan kognitif (pikiran) tidak begitu dipentingkan. Terkadang nilai sang santri tinggi di rapor, tapi tetap tidak bisa naik kelas. Penyebabnya hanya satu, yakni kurangnya akhlak dalam pergaulan sesama santri, antara santri dan guru, dan santri dengan lingkungannya.

Tapi, dilain kesempatan cerita orangtua tersebut, ada santri yang nilai di rapornya rendah, tapi akhlaknya baik. Menghormati gurunya, kakak tingkatnya, maupun teman-temannya, itu malah naik kelas. Tradisi di pondok pesantren memang dari dulu hingga sekarang sangatlah menjunjung tinggi akhlak dibandingkan keilmuan. Makanya, pada ponpes salaf, kitab yang diajarkan pada santri-santri tingkat pertama itu adalah ta’lim muta’allim.

Tradisi penghargaan terhadap orang yang berakhlak mulia ini terkadang dilupakan ditengah-tengah masyarakat saat ini. Orang dianggap benar, ketika punya prestasi, sudah bergelar doktor, meski terkadang dalam pergaulannya tidak baik. Bahkan yang lebih parah lagi, ada anggapan segala yang diperbuat orang tersebut benar, sepanjang ia kaya.  Ia perkara sesat pikir yang terjadi disebagian masyarakat kita.

Padahal Indonesia hari ini bukan kekurangan orang yang berilmu tinggi, tapi masih kekurangan orang yang berakhlak mulia. Kondisi saat ini, sebagian orang kadang sudah kurang menghargai orang lain. Karena kesombongan dalam diri, apapun yang diperbuat orang lain dianggap salah. Perintah atasan dianggap intimidasi, beda pendapat dianggap musuh. Sehingga tidak ada lagi kedamaian didalam hati. Padahal pemikiran dan tindakan yang positif merupakan bukti  ketinggian akhlak manusia. Nabi SAW suatu ketika mengatakan, tidak beriman seseorang sebelum ia berbuat baik kepada tetangganya. Dilain kesempatan Nabi juga bersabda Aku tidak diutus (oleh Allah SWT) kecuali untuk menyempurnakan akhlak.

Begitu agungnya kemuliaan akhlak dimata Islam. Bahkan Allahpun lebih menghargai orang berakhlak dari pada orang beramal tapi tidak berakhlak. Suatu ketika ada ada seorang pelacur melewati gurun yang tandus. Pada saat melewati sebuah sumur tua ia melihat seekor Anjing yang kehausan, lalu dengan naluri kemanusiaannya, sang pelacur tersebut menggunakan sepatunya untuk mengambil air dalam sumur tersebut dan memberi minum kepada sang anjing hingga hilang hausnya. Dalam perjalanan selanjutnya, sang pelacur meninggal dunia dan ia mendapat keampunan dosanya oleh Allah hanya gara-gara berbuat baik kepada Anjing itu. Meski cerita ini ada yang mengatakan hadist dhoif, tapi dapat ambil pelajaran, berbuat baik kepada binatang yang najis saja dihargai oleh Allah. Apalagi berbuat baik kepada manusia yang diciptakan dengan sempurna.

Tapi dilain hadist, ada orang yang punya banyak amal kebajikan, rajin puasa, sholat, zakat, dan lain-lain. Hanya saja orang tersebut rajin menghardik orang lain, menyakiti orang lain. Maka, diakhirat nanti saat ditimbang, maka habislah amal-amalnya tersebut untuk menggantikan dosa-dosa yang ia perbuat kepada manusia.   Makanya, Gusdur berkata, sayangi apa yang ada dibumi maka yang dilangit akan menyayangimu.  Semoga kita selalu menjunjung tinggi kemuliaan akhlak, meskipun bergelar doktor.

(Penulis adalah pemikir kesempurnaan hidup dan pengagum Jalaluddin Rumi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.