Hijrah Konteks Kekinian

0 126

Oleh Sofyan Ali SH SAg MPdI

SEMALAM kita baru saja memperingati tahun baru 1441 Hijriyah. Tahun baru ini bertepatan dengan tanggal 1 Muharram yang merupakan awal bulan dalam tahun hijriyah. Bulan ini dikenal dengan nama Syahrullah (Bulan Allah). Menurut Ibnu Rajab al-Hambali (736–795 H),  Muharram disebut dengan Syahrullah (bulan Allah) karena memiliki dua hikmah.
Pertama, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan bulan Muharram. Kedua, untuk menunjukkan otoritas Allah SWT dalam mensucikan dan memuliakan bulan Muharram.
Muharram artinya suci. Bulan ini adalah bulan yang disebut Allah dalam Al-Qur’an sebagai Arba’atun hurum (empat bulan yang suci), para ulama sepakat keempat bulan yang suci tersebut adalah Rajab, Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharram.
Firman Allah swt dalam QS At-Taubah ayat 36 : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
Sabda Rasulullah saw, “Satu tahun itu ada 12 bulan. Di antaranya ada empat bulan haram, yaitu tiga bulan berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta Rajab yang berada di antara bulan jumada dan sya’ban.” (HR. Bukhari).
Bulan Muharram ini erat kaitan dengan sejarah hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Dimana ini adalah perintah Allah, agar umat Islam memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun, hijrah era kekinian bisa  dipahami sebagai bentuk transformasi umat dari kehidupan yang serba terbelakang ke kehidupan yang modern.

Di era globalisasi ini, fenomena VUCA (Volatilitas, uncertainty, compleks, dan ambiguitas, red) mewarnai dunia. Masyarakat dihadapkan dengan dua sisi kehidupan. Disatu sisi bagian dari citizen, dilain sisi adalah bagian dari nitizen. Citizen diikat dengan aturan kewarganegaraan, sedangkan nitizen tidak ada aturan yang mengikat dan tanpa garis batas negara. Fenomena Vuca ini merupakan anak kandung globalisasi dan konsekwensi dari revolusi industri 4.40. Ini disebabkan perkembangan penggunaan internet yang demikian pesat. Dan saat ini menyebabkan dunia serba tidak jelas.  Saat ini era matinya kepakaran, fiksi yang dikonstruksi terus menerus bisa jadi fakta.

Dengan hadirnya era ketidakpastian tersebut, kita harus menjadi manusia yang super kuat dalam menfilterisasi berbagai fenomena kehidupan. Mari kita sambut era ini dengan transformasi ke arah kebaikan dengan meningkatkan pengetahuan, keilmuan dan wawasan kebangsaan. Selamat tahun baru hijriyah 1441. Semoga kita semua diberikan kekuatan menatap hari esok yang lebih baik.

(Penulis adalah Ketua DPW PKB Provinsi Jambi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.