Ramadhan, Corona dan BUMDes

0 145

Oleh Mohd Haramen, SE, ME,Sy

Marhaban ya Ramadhan. Hanya tinggal  sehari lagi, ummat Islam se dunia melaksanakan ibadah puasa. Ramadhan adalah bulan mulia, bulan penuh ampunan dan barokah. Ummat Islam menyambut bulan ini dengan suka cita. Maklum, pahala beribadah dilipatgandakan, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup rapat-rapat. Setan-setan yang biasa menggoda manusiapun dikrangkeng hanya untuk menghormati yang berpuasa.

Tapi, Ramadhan tahun ini suasananya agak berbeda. Mengingat, wabah Corona membayangi umat manusia. Negara-negara di dunia berjibaku melawan makhluk Allah yang sangat kecil tersebut. Sehingga perkantoran ditutup, para mahasiswa terpaksa belajar dari rumah, para pekerja ada yang di PHK.  Kondisi ini mempengaruhi produktivitas ekonomi masyarakat.

Hal inipun dibenarkan  Filipe Campante dan David Yanagizawa, guru besar Universitas Harvard. Dalam riset mereka, yang berjudul “Does Religion Affect Economic Growth and Happines”, dengan menggunakan data berbagai negara Muslim selama lebih dari 60 tahun menyimpulkan dua hal. Pertama, bulan Ramadhan menurunkan produktivitas kerja karena jam kerja yang lebih pendek. Kedua, bulan Ramadhan meningkatkan kebahagiaan masyarakat.

Sejalan dengan itu,  Pimkanok Piamjariyakul dalam artikelnya, “The Impact of Ramadan on Indonesia”,  juga mencatat adanya penurunan produktivitas bulanan sebesar 7,7 persen di Mesir dan Pakistan karena pengurangan dua jam kerja. Sedangkan, di Indonesia, penurunan hanya 3,8 persen karena pengurangannya hanya satu jam.

Kondisi ini diperparah lagi dengan keadaan wabah Corona saat ini. Disamping produktivitas yang menurun, daya beli juga sangat lemah. Hal ini berimbas kepada semua sektor. Tidak saja makro ekonomi, tetapi juga mikro ekonomi hingga ekonomi pedesaan.

Penulis mencatat di Provinsi Jambi, ada penurunan omzet BUMDes hingga 50,9 persen sejak Corona ini berlangsung. Bahkan, ada BUMDes yang tutup. Ada 539 karyawan dari 1119 BUMDes yang dirumahkan.

Namun, BUMDes harus tetap optimis. Karena penelitian  Janmohamed, konsultan pemasaran Ogilvy Noor, dalam risetnya, “The Great British Ramadan”, memperkirakan kenaikan permintaan 200 juta poundsterling setiap Ramadhan yang meliputi pembelian financial planning dan asuransi, makanan, baju, mainan, dan berbagai hadiah. Artinya ada peluang bisnis Ramadhan di sektor-sektor tersebut. Ditambah lagi dengan dana Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan bantuan sosial lainnya yang digelontor masyarakat. Itu semua merupakan peluang bagi BUMDes, untuk cepat berinovasi usaha agar bisa tetap hidup. Karena hari ini slogan dunia usaha, berinovasi atau mati ?

(Penulis adalah Tenaga Ahli Pengelolaan Keuangan Desa dan Pengembangan Ekonomi Lokal Kemendes PDT RI untuk Wilayah Provinsi Jambi)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.