Gus Imin dan Politik Kemanusiaan

publisher

TIDAK banyak Ketua Umum Parpol dengan latar belakang aktivis. Untuk Partai Senayan, Gus Imin satu-satunya. Ketum Parpol lainnya umumnya adalah elit bisnis dan ada yang berlatar belakang militer. Mungkin karena itu, PKB tumbuh besar dan berkembang tanpa ditopang oleh kekuatan elit bisnis. Bagi kader-kader PKB seperti saya, hal ini tentu suatu kebanggaan tersendiri. Satu lagi, pengurus PKB juga tidak ada yang berlatang belakang mantan petinggi di TNI/Polri. Masuknya Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji sebagai caleg DPR RI mencatat sejarah baru di PKB.

Tanpa sokongan pendanaan dari elit bisnis, Gus Imin  sukses memimpin PKB. Dari Pemilu ke Pemilu raihan suara PKB terus meningkat. PKB menjadi pememang ke-IV pada Pemilu 2019 dan menjadi Partai Religius-Nasionalis terbesar di Indonesia. Gus Imin juga berhasil membawa PKB menjadi partai yang tansformatif, responsif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi dan warisan pemikiran dari para pendiri PKB. Keperpihakan terhadap kemanusiaan dan kaum mustadha’afin yg merupakan ajaran Gus Dur dan para kiai-kiai NU menjadi amanah yang wajib dijalankan oleh para kader.
Dorongan dan anjuran yang terus menerus disampaikan oleh Gus Imin kepada seluruh pengurus dan kader bahwa Politik adalah jalan mulia untuk memperjuangkan kemanusian dan memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat menjadi lahan lahan pengabdian yang memberi insentif ekletoral bagi kemenangan PKB di masa sekarang dan di masa-masa yang akan datang.

Apa yang dilakukan oleh Gus Imin  ini tidak hanya membuat PKB eksis dan aktual. Akan tetapi lebih jauh dari itu, politik rahmatan lil alamin yang dijalan oleh PKB membuat Nahdhatul Ulama (NU) menjadi eksis dan aktual. Mengapa demikian? Karena para kiai telah bersepakat bahwa NU tidak boleh absen dalam segenap proses politik kebangsaan. Jikalau absen, itu berarti bahwa NU telah meninggalkan tanggungjawab dalam menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dalam kehidupan bernegara. Hal ini merupakan “khittah perjuangan NU” sebagaimana ditulis Kiai Achmad Siddiq di tahun 1983:

“Sejak NU telah menetapkan khittahnya, organisasi para ulama ini telah pula memprioritaskan mahtsabah alaih (sasaran) dalam amar ma’ruf dan nahi mungkari pada masyarakat baik secara individual maupun kolektif. Urusuan pemerintahan dan politik adalah merupakan kebutuham yang wajar bagi kehidupan masyarakat yang sudah tersusun, supaya ketertiban umum terpelihara, kesejahteraan umum dapat ditingkatkan dan dikembangka untuk mencapai rahmatan lil alamin

Jadi selama PKB menjalankan politik kemanusiaan dan politik rahmatan lil alamin, maka sejatinya PKB telah menjalankan khittah perjuangan NU sebagaimana ditulis Kiai Achmad Siddiq tersebut di atas. Dengan demikian, maka rahmat dan pertolongan Allah akan senangtiasa menyertai perjuangan Gus Imin dan PKB atas berkah dari para ulama. Rahmat dan pertolongan Allah ini tidak bisa dibendung oleh pernyataan-pernyataan politik dari segelintir Pengurus Besar Nahdhatul Ulama. Yuk kaum nahdhiyyin di seluruh dunia bersatulah untuk mewujudkan “khittah perjuangan NU” yang sedang diperjuangkan oleh PKB. (TA Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar)