Ini Lho Pasar Tertua di Indonesia, Tempatnya di Kota Pelajar

publisher

YOGYAKARTA, bungopos.com – Pasar Legi Kotagede dan telah menjelma sebagai pasar tertua di Kota Gudeg. Seperti dikisahkan dari Babad Tanah Jawi, pasar tersebut berawal dari hadiah yang diberikan oleh Sultan Hadiwijaya selaku pemimpin Kesultanan Pajang kepada Ki Ageng Pamanahan usai menyingkirkan Arya Penangsang pada tahun 1549 silam.

Hadiah itu berupa tanah yang lokasinya berada di Mentaok, yaitu antara Mataram dan Pati. Ki Ageng Pamanahan bersama adik angkatnya, Ki Penjawi yang turut membantu menumpas Arya Penangsang, mulai merencanakan pemanfaatan hadiah pemberian Sultan Hadiwijaya tersebut yang masih berupa hutan.

Usai dibersihkan oleh Ki Ageng Pamanahan bersama para prajuritnya, lahan tersebut kemudian dibangun sebuah pasar yang ia sebut dengan Sargedhe atau Pasar Gede. Ki Ageng Pamanahan berpendapat, membangun pasar terlebih dulu jauh lebih penting dibandingkan mendirikan keraton sebagai pusat pemerintahan.

Bukan saja sebagai pusat kegiatan ekonomi, ayah dari Panembahan Senopati tersebut berpendapat, masyarakat Mataram membutuhkan tempat untuk saling berinteraksi. Ini sejalan dengan konsep Catur Gatra Tunggal yang dibuat oleh pendiri Kerajaan Mataram Islam itu.

Konsep tersebut merupakan bagian dari manajemen tata kota tempo dulu dengan mengedepankan empat hal. Yaitu keraton sebagai pusat kerajaan, alun-alun untuk tempat berkumpul, masjid sebagai sarana ibadah, dan pasar untuk pusat ekonomi serta pusat interaksi warga dengan segala bentuk kegiatan yang dapat dilakukan.

Ketika pertama kali didirikan, pasar ini masih berada di antara kerimbunan pohon-pohon besar. Pembeli datang menghampiri lapak-lapak para penjual yang duduk beralaskan tanah. Barang-barang yang diperdagangkan sebagian besar merupakan hasil bumi berupa beras, sayur-mayur, dan buah-buahan.

Dalam perkembangannya, Pasar Gede dinamai juga sebagai Pasar Legi karena ada hari pasaran menurut kalender Jawa di mana terjadi aktivitas transaksi yang paling ramai, yaitu pada hari pasaran Legi. Pada hari pasaran tersebut, selain dijual berbagai kebutuhan hidup sehari-hari, juga dijual berbagai jenis kain batik.

Ikut dijajakan barang-barang dari besi dan tembaga. Seperti alat penanak nasi, sabit, cangkul, dan pisau. Selain itu beragam produk gerabah ikut diperjualbelikan, seperti kendil (alat penanak nasi) dan kendi (tempat air minum). Beragam keperluan membatik juga dijual di pasar ini, seperti lilinmalam, dan celupan.

Seperti dikutip dari website Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pasar Legi Kotagede mengalami perkembangan pesat di era kolonial Hindia Belanda. Pasar mulai diramaikan oleh para pedagang yang berdatangan dari luar Yogyakarta. Mereka kemudian menetap dan ikut mengembangkan beberapa jenis perdagangan baru seperti kerajinan perak, kedai makanan dan minuman, serta menjual kayu bakar.

Pasar ini mengalami renovasi menyeluruh pada tahun 1986 dan diresmikan oleh Wali Kota Yogyakarta saat itu, Soegiarto pada 22 Februari 1986. Kini, pasar seluas 4.158 meter persegi itu masih tetap berdiri kokoh sebagai pusat ekonomi yang menjual beragam kebutuhan masyarakat.

Saat ini Pasar Legi Kotagede berlokasi di antara Jalan Mentaok Raya dan Jalan Mondorakan, Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede. Pasarnya buka hampir 24 jam. Bentuk bangunan tempo dulu masih dipertahankan.

Pengunjung tidak hanya menemukan aneka sayuran, buah-buahan, lauk pauk, daging, dan rempah-rempah saja, tapi juga aneka unggas dan burung yang selalu berkicau setiap saat sehingga memunculkan keriuhan. Ikut dijajakan aneka pakan ternak dan hewan peliharaan, bersanding dengan pedagang batu akik, obat tradisional dan perabot rumah tangga.

Keunikan pasar dengan lebih dari 600 pedagang tersebut tak berhenti sampai di situ saja. Pasalnya, kita juga bisa menyumpai aneka jajanan tradisional yang sudah mulai langka. Misalnya kue kipo, kembang waru, jenang sumsum, grontol, geplak, pukis, dan pentol. Pengunjung juga dapat mencicipi kuliner lain seperti nasi goreng, bakwan kawi, sate kambing dan sate kere. (***)