Kemenangan Hakiki

Oleh Mohd Haramen

0 51

GEMA takbir, tahmid dan tahlil pagi ini berkumandang dimana mana. Takbir yang diucapkan seolah mendeklarasikan semua kebesaran milik Allah, dan kita adalah makhluknya yang kecil, dhaif dan penuh kealfaan. Tahmid merupakan ungkapan kesyukuran atas nikmat Ramadhan yang telah berhasil kita lalui. Sedangkan tahlil yang diucapkan sebagai manifestasi tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Apalagi menyembah manusia yang memiliki kekayaan, jabatan dan kedudukan yang tinggi. Semua amal kehidupan dipersembahkan sebagai bentuk penghambaan kepada Allah semata.

Waktu memang berlari begitu cepat. Ramadhan yang baru saja menghampiri kita sudah hilang seiring terbenam matahari 29 Ramadhan 1443 H. Perasaan masing masing kita menunggu terbitnya fajar 1 Syawal 1443 Hijriyah memang berbagai macam. Ada yang merasa menunggu sampai bosan, ada juga yang merasa waktu bergerak demikian cepat. Namun bisa dipastikan tempo menapak dengan kegesitan yang sama: tidak cepat, tidak lambat. Manusia sendiri yang membuatnya terasa cepat atau lambat. “The bad news is time flies. The good news is you are the pilot,” demikian ucap Michael Altshulter.

Kata kuncinya adalah kita mesti menjadi pilot waktu, bukan penumpang waktu. Pilot akan mengatur tujuan, rute, kecepatan, termasuk ragam cara memitigasi perubahan cuaca. Ia penentu arah. Maya Angelou punya petuah sederhana perkara ini: “If you don’t like something, change it. If you can’t change it, change your attitude.” Esok hari tahun telah berganti: kemarin direfleksikan, hari ini dirayakan, besok diperjuangkan.

Kemenangan yang hakiki bukan saja keberhasilan meraih ampunan setelah Ramadhan berlalu. Tapi kemampuan kita untuk menjadi pilot hidup ini menuju kebaikan dan terus menerangi kehidupan. Itulah yang disebutkan Nabi SAW khairunnas anfa’uhum linnas. Manusia yang baik bukanlah yang kaya, berkedudukan tinggi, tapi yang banyak memberikan manfaat untuk ummat. Gusdur seringkali berkata Sayangilah yang dibumi agar Engkau dikasihi yang dilangit. Semoga titah Ramadhan membekas di diri kita. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1443 H, mohon maaf lahir dan batin.

(Penulis adalah alumni Ponpes Fauzul Muslimin Yogyakarta dan  Ketua DKW Laskar Santri Nusantara Provinsi Jambi)

Leave A Reply

Your email address will not be published.