Konflik berskala besar antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki babak baru yang mencemaskan. Setelah gencatan senjata rapuh selama dua pekan gagal diperpanjang, eskalasi justru meningkat drastis di jalur perairan strategis Selat Hormuz.
Perang yang dipicu serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu ini kini telah menelan ribuan korban jiwa dan kerugian materiil mencapai ratusan miliar dolar AS. Diplomasi menemui jalan buntu, sementara militer di kedua belah pihak bersiap menghad kemungkinan perang total.
Awal Mula Konflik: Serangan Kilat yang Gagal
Konflik besar ini bermula ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Tujuan awal koalisi AS-Israel adalah melakukan perang kilat untuk melumpuhkan kepemimpinan Iran.
Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior dan pejabat tinggi lainnya. Sasaran serangan tidak hanya terbatas pada tokoh penting, tetapi juga mencakup instalasi militer dan fasilitas sipil di seluruh Iran yang menyebabkan kerusakan infrastruktur meluas.
Namun, Iran membuktikan diri tidak mudah tumbang. Negeri Persia itu melancarkan serangan balasan besar-besaran dengan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas AS di Asia Barat serta posisi pasukan Israel di wilayah pendudukan. Perang yang diharapkan berlangsung singkat oleh AS-Israel justru berlarut hingga memasuki hari ke-40.
Update Korban: Lebih dari 2.000 Tewas di Iran
Korban jiwa akibat perang ini terus bertambah seiring meluasnya konflik ke negara-negara tetangga. Berdasarkan data terbaru hingga 5 April 2026, korban jiwa di pihak Iran mencapai 2.076 orang, sementara korban luka 26.500 orang.
Di Lebanon yang bergerak mendukung Iran, korban jiwa berjumlah 1.345 orang dengan 4.040 luka-luka. Irak juga mencatat 109 korban jiwa. Di pihak Israel, perang ini merenggut 24 nyawa dan melukai 6.594 orang, sementara AS kehilangan 13 personel militernya dengan 200 luka-luka.
Klaim Kemenangan Iran dan 10 Poin Gencatan Senjata
Di tengah hiruk-pikuk perang, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, dengan tegas menyatakan bahwa negaranya telah keluar sebagai pemenang. Ia mengklaim Iran berhasil memaksa Washington menerima 10 poin tuntutan gencatan senjata yang diajukan Teheran.
“Syukur kepada Allah SWT karena pada hari ini, Republik Islam Iran meraih kemenangannya. Islam memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnya,” ujar Boroujerdi di Jakarta pada 11 April 2026.
Dubes Iran itu juga mengklaim bahwa pasukannya telah menghancurkan 17 pangkalan militer AS-Israel dan melumpuhkan sistem pertahanan Israel, sehingga mampu mengirimkan serangan balasan ke kota-kota di wilayah tersebut. Gencatan senjata sendiri sempat disepakati pada 8 April 2026, dengan perundingan damai yang digelar di Islamabad, Pakistan.
Kegagalan Perundingan Islamabad
Sayangnya, perundingan damai yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, pada 12 April 2026 berakhir tanpa kesepakatan. Delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance dan delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf gagal menemukan titik temu.
Beberapa isu krusial menjadi batu sandungan utama. Poin-poin sengketa meliputi program nuklir Iran, pembebasan aset Iran yang dibekukan, kendali atas Selat Hormuz, hingga tuntutan ganti rugi perang dari Iran yang mencapai angka fantastis.
Blokade Total AS di Selat Hormuz
Menyusul kegagalan diplomasi, Presiden Donald Trump mengambil langkah dramatis. Militer AS melalui Komando Pusat (Centcom) mengumumkan blokade total terhadap semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai 13 April 2026.
“Blokade akan ditegakkan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” demikian pernyataan Centcom.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia setiap harinya. Kebijakan blokade ini langsung berdampak pada lonjakan harga energi global, dengan minyak mentah Brent menembus kembali angka 100 dolar AS per barel dan sempat melonjak hingga 8 persen.
Kapal Perang AS Tembus Selat, Iran Bantah Keras
Pada 11 April 2026, AS mengklaim dua kapal perusaknya, USS Frank E Peterson dan USS Michael Murphy, berhasil melintasi Selat Hormuz dan beroperasi di Teluk Arab. Centcom menyebut misi tersebut untuk memastikan jalur pelayaran bebas dari ranjau laut yang diduga dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Klaim ini langsung dibantah keras oleh Iran. Juru bicara Markas Besar Pusat militer Iran, Khatam al-Anbiya, menegaskan tidak ada kapal AS yang melintasi selat tersebut. IRGC pun memperingatkan akan memberikan “tanggapan keras” terhadap setiap kapal militer asing yang mencoba melintas tanpa izin.
Ancaman Perang Total dari Israel
Di tengah ketegangan yang membuncah, Israel justru memberi sinyal akan melanjutkan perang. Tiga jaringan televisi utama Israel melaporkan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kini tengah bersiap menghadapi pecahnya konflik baru dengan Iran.
Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir telah memerintahkan militer untuk meningkatkan status kesiapsiagaan dan bersiap melanjutkan permusuhan dengan Iran. Bahkan, Israel dilaporkan tengah menunggu keputusan Trump untuk memulai kembali konflik, dengan rencana menekan Iran menyerahkan program nuklirnya melalui serangan terhadap infrastruktur energi.
Sementara itu, Trump sendiri dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan serangan terbatas terhadap Iran sebagai cara untuk memecah kebuntuan perundingan.
IRGC Siapkan Kemampuan Militer Baru
Menghadapi ancaman eskalasi, Iran tidak tinggal diam. IRGC mengumumkan akan menggunakan kemampuan militer baru jika perang dengan AS dan Israel terus berlanjut. Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi menyatakan, “Kami belum menggunakan kemampuan kami, dan jika perang terus berlanjut, kami akan mengungkap kemampuan yang sama sekali tidak diketahui musuh”.
Panglima tertinggi IRGC, Brigadir Jenderal Esmaeil Qaani, dengan lantang menegaskan bahwa AS dan Israel pada akhirnya akan mundur dari Timur Tengah tanpa membawa pencapaian apa pun.
Iran Tuntut Ganti Rugi 270 Miliar Dolar dan Seret 5 Negara Arab ke PBB
Di jalur diplomasi, Iran terus melancarkan serangan diplomatik. Pemerintah Iran mengungkapkan estimasi awal kerusakan akibat serangan gabungan AS-Israel mencapai sekitar 270 miliar dolar AS, atau setara Rp4,6 kuadriliun. Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani menegaskan angka tersebut masih bersifat sementara dan akan dievaluasi lebih lanjut.
Langkah lebih agresif diambil dengan menuntut ganti rugi dari lima negara Arab: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Yordania. Teheran menuding negara-negara tersebut melanggar kewajiban internasional dengan memberikan dukungan logistik, fasilitas militer, serta izin penggunaan wilayah udara bagi AS dan Israel untuk menyerang Iran.
Utusan Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, dalam surat resmi kepada Sekjen PBB Antonio Guterres dan Presiden Dewan Keamanan PBB, menegaskan bahwa kelima negara Arab tersebut harus memberikan ganti rugi penuh. “Mereka tidak hanya menyediakan wilayah mereka untuk agresi terhadap Iran, tetapi dalam beberapa kasus, mereka juga terlibat langsung dalam serangan bersenjata ilegal yang menargetkan objek sipil,” tegas Iravani.
Dampak Global dan Prospek ke Depan
Konflik Iran vs AS-Israel ini telah mengguncang stabilitas global. Harga energi melonjak, jalur perdagangan internasional terganggu, dan ketegangan geopolitik meningkat di berbagai kawasan.
Gencatan senjata yang sempat menjadi secercah harapan kini berada di ujung tanduk. Dengan persiapan perang dari kedua kubu, blokade maritim yang diberlakukan AS, serta ancaman kemampuan militer baru dari Iran, dunia kini menahan napas. Pertanyaan besarnya adalah: akankah perang total benar-benar meletus, atau diplomasi masih memiliki ruang untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar



