Bupati Tanjung Jabung Barat, Anwar Sadat, secara resmi membuka pelatihan pangkas rambut bagi 22 santri sebagai bentuk konkret zakat produktif yang diselenggarakan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) setempat di Hotel Rivoli Kuala Tungkal, Jumat (28/11). Program intensif dua hari ini dirancang untuk membekali santri dengan keterampilan vokasi praktis, mengubah dana sosial keagamaan menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi pesantren.
Zakat Produktif: Dari Dana Sosial Jadi Motor Penggerak Ekonomi Santri
Pembukaan ditandai aksi simbolis pemotongan rambut oleh Bupati dan Wakil Bupati. Tak kurang dari delapan pondok pesantren menerima paket peralatan pangkas rambut lengkap, sementara satu siswi berprestasi mendapat bantuan dana untuk lomba pidato nasional. Acara ini menegaskan komitmen pemberdayaan yang menyeluruh, tidak hanya sekadar pelatihan.
Dalam sambutannya, Bupati Anwar Sadat menekankan paradigma baru. Menurutnya, santri masa kini harus menguasai ilmu agama sekaligus keterampilan hidup yang dapat menjadi bekal berwirausaha. “Pelatihan ini adalah investasi nyata. Melalui zakat produktif, kita tak hanya menyalurkan bantuan, tapi menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia mengapresiasi kolaborasi strategis antara Baznas, perbankan syariah (BSI, BRI, Bank 9 Jambi), dan pelaku usaha seperti Barber Shop Taher yang menyediakan instruktur profesional. Sinergi segitiga antara filantropi, perbankan, dan dunia usaha ini dianggap model ideal untuk memaksimalkan dampak sosial dana zakat, infaq, dan sedekah (ZIS).
Ketua Baznas Tanjab Barat, Ahmad Haziq, membeberkan strategi program. Dua santri per ponpes yang dilatih diharapkan menjadi pioneer yang akan meregenerasi ilmu ke rekan-rekannya. “Ini adalah siklus pemberdayaan. Santri yang sudah mandiri nantinya diharapkan dapat berkontribusi kembali melalui infaq, memperkuat siklus kebajikan,” jelasnya.
Zahdan, santri Ponpes Al Anwar, tak menyembunyikan antusiasmenya. “Ini peluang usaha halal yang sangat nyata. Skill ini bisa langsung dipraktikkan di pondok dan menjadi bekal ketika pulang ke masyarakat,” ujarnya. Testimoni ini menyiratkan optimisme bahwa keterampilan vokasi dapat segera ditransformasikan menjadi nilai ekonomi.
Bupati Anwar Sadat juga menyoroti efisiensi program. Dengan memiliki tukang cukur andal di lingkungan pesantren, kebutuhan santri terlayani dan uang bisa berputar di internal lembaga. Pemerintah daerah dan Baznas berkomitmen melakukan pendampingan dan evaluasi untuk kemungkinan perluasan bantuan jika usaha ini dikelola dengan baik.
Kehadiran seluruh unsur terkait, mulai dari Diskoperindag, perbankan, hingga pimpinan ponpes, menunjukkan bahwa program zakat produktif ini dipandang sebagai langkah strategis. Program ini tidak lagi sekadar charity, melainkan pendekatan sistematis untuk membangun kemandirian ekonomi dari akar rumput, dimulai dari lingkungan pendidikan keagamaan.
