Penguatan Marketing Politik Pemilih rational tidak gampang dipengaruhi dengan strategi Promosi dan Price. Mereka akan lebih fokus melihat produk baru yang mampu menciptakan perubahan dalam meningkatkan (pelayanan public, kesejateraan masyarakat dan daya saing daerah/Negara). Strategi yang dilakukan tentunya perlu penguatan pada aspek Produk dan Place. Produk lebih diutamakan jangka pendek (berupa crash program) dan periode kontestasi sehingga lebih kongkrit dan terukur. Jangka panjang berupa visi lebih bersifat abstrak, namun tetap berarti sebagai acuan penggapaian. Paling tidak jadi acuan mencapai masyarakat yang adil dan makmur (baidatun, toibatun, warabbun gafur). Sementara terukur yang dimaksud adalah sumber pembiayaannya tersedia tidak sesuai dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD)/devisa, RAPBD/RAPBN). Kalau tidak hanya bersifat utopis seperti burung pungguk merindukan bulan, dust tidak terealisir seperti rencana membangun fly over di Jambi dari oknum kandidat kepala daerah masa-masa sebelumnya, hingga sekarang satu tiangpun tidak tercagak (baca : terbangun). Ini yang disebut dalam pepatah lama : “besar pasak dari pada tiang”. Produk harus bersifat khas (Unique Preposition selling) misal Cak Imin (Muhaimin Iskandar) punya ide : hapus saja jabatan Gubernur, karena akan banyak mudarat dan manfaat. Ada juga bakal calon Presiden mengggagas akan memberantas mafia-mafia perizinan. Lain lagi gagasan yang sering disuarakan masyarakat Jambi agar membangun hilirisasi berupa pabrik minyak kelapa sawit dan pabrik ban. Jangan lagi karena kebingungan ketiadaan dan atau keterbatasan tempat penampungan akhirnya diekspor bahan baku. Hal tersebut jadi temuan lembaga pengawas kompeten ditinjau dari aspek akuntabilitas pemerintahan. Apalagi dekat-dekat tahun politik, tungau di seberang lautan bisa jadi nampak. Di kota Jambi misalnya perlu dibuat destinasi yang menguji nyali, dari hotel Wiltop ke Seberang dibuat kereta gantung (cable car). Pengguna dikenakan biaya, tentu akan mendatangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Gentala Arasy yang sudah terlanjur terbangun, anggap sebagai destinasi gratis. Ada juga gagasan dari pada eksploitasi batu bara yang bermasalah terhadap transportasi kenapa tidak tambang emas dilegalkan. Tentunya dibuat aturan-aturan yang jelas terlebih dahulu bagi petambang emas. Dengan dilegalkan, tentu Petambang Emas Tanpa Izin (PETI) tidak dioyak-oyak (dikejar-kejar) lagi. Hasil tambang emaspun tidak perlu pengangkutan banyak truck berimbas pada pengurangan kemacetan. Dalam pembuatan program harus diingat perubahan paradigma memperlakukan konstituen dan masyarakat pemilih sebagai subjek dalam penentuan strategi. Aspek Place yang perlu diperhatikan adalah memilih, menempatkan dan memanfaatkan posisi (positioning) serta segmentasi. Positioning perlu dipertimbangkan dalam memilih dan menempatkan posisi partai dan atau koalisi partai pengusung yang tepat sebagai calon atau kandidat yang diharapkan dapat dukungan pemilih. Positioning berkaitan dengan idiologi. Positioning juga berkaitan dengan partai penguasa, partai besar, menengah dan gurem. Segmentasi berdasarkan geografi, umur, dan jenis kelamin yang menjadi sasaran pemasaran secara defensive dan ofensif perlu pula dipertimbangkan. Last but not least, paradigma marketing politik dalam membangun relational dan branded akan menjadi perhatian dan pilihan pemilih rational.
---------------------- Penulis adalah Dosen Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Jambi.