Beranda blog Halaman 9

Bupati Anwar Sadat Pimpin Yasinan Doa Bersama Hari Santri 2025: Doa untuk Korban Sidoarjo dan Komitmen Bantuan Pesantren

Kuala Tungkal – Malam yang penuh keharuan menyelimuti Aula Rumah Dinas Bupati Tanjung Jabung Barat saat Bupati Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag, memimpin kegiatan Yasinan doa bersama Hari Santri 2025. Acara ini digelar pada Rabu malam, 22 Oktober 2025, sebagai lanjutan dari upacara pagi hari, menjadi momen spiritual yang menyatukan doa untuk para santri korban tragedi Sidoarjo dan penguatan peran pesantren dalam pembangunan daerah. Yasinan doa bersama Hari Santri 2025 ini dihadiri oleh berbagai tokoh, menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mengintegrasikan nilai keagamaan dalam tata kelola Tanjung Jabung Barat.

Kegiatan yang menjadi inisiatif pertama kali digelar oleh Pemkab Tanjung Jabung Barat ini bukan sekadar ritual malam, melainkan pengingat akan kontribusi besar santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Hadirin yang memadati aula meliputi Sekretaris Daerah, para Asisten Sekretariat Daerah, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kabag di lingkup Sekretariat Daerah, perwakilan Kementerian Agama (Kemenag), Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tanjung Jabung Barat, pimpinan pondok pesantren, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), alim ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya. Suasana semakin khidmat dengan lantunan ayat-ayat suci Yasin yang mengalun lembut, diiringi doa bersama yang penuh haru, menciptakan ikatan emosional yang mendalam di antara peserta.

Dalam sambutannya, Bupati Anwar Sadat menyampaikan rasa syukur atas kesempatan menggelar Yasinan doa bersama Hari Santri 2025 ini, yang ia analogikan dengan tradisi malam resepsi kenegaraan yang diikuti doa selamat. “Ini adalah yang pertama bagi Pemkab Tanjung Jabung Barat, sebagai pengingat bahwa santri adalah bagian tak terpisahkan dari NKRI. Seperti pagi kita rayakan upacara, malam ini kita panjatkan doa untuk seluruh santri, pimpinan pondok, guru, santriwan, dan santriwati di kabupaten kita. Khususnya, kita berdoa bagi para santri korban ambruknya gedung Pondok Pesantren Al-Khozini di Sidoarjo, semoga mereka dirahmati Allah SWT dan keluarga diberi ketabahan,” ujar Bupati dengan nada penuh empati. Tragedi yang menewaskan puluhan santri muda itu masih membekas, dan doa malam ini menjadi bentuk solidaritas konkret dari daerah terpencil seperti Tanjung Jabung Barat, yang memiliki ratusan pondok pesantren sebagai benteng pendidikan karakter.

Bupati Anwar Sadat tak berhenti di situ; ia menekankan visi jangka panjang untuk memasukkan agenda keagamaan ke dalam struktur pemerintahan daerah. “Ke depan, Pemkab akan mengintegrasikan kegiatan rohani seperti ini secara rutin, sebagai wujud komitmen bahwa nilai-nilai agama menjadi pondasi penyelenggaraan pemerintahan. Santri bukan hanya pewaris tradisi, tapi juga motor penggerak kemajuan sosial dan ekonomi,” tegasnya. Di Tanjung Jabung Barat, di mana pesantren tersebar di 13 kecamatan dengan ribuan santri, integrasi ini berpotensi besar. Misalnya, program literasi digital untuk santri yang telah digulirkan sebelumnya kini bisa dikaitkan dengan kegiatan malam seperti ini, membantu mereka menyebarkan dakwah melalui platform online sambil menjaga akhlak mulia.

Sebagai tindak lanjut nyata, Bupati mengumumkan penyaluran bantuan beras khusus untuk pondok pesantren se-kabupaten, yang akan langsung didistribusikan dalam waktu dekat. “Beras ini bukan hanya makanan, tapi simbol dukungan Pemkab agar santri fokus belajar tanpa khawatir kebutuhan dasar,” katanya. Lebih ambisius lagi, Bupati mendorong pesantren untuk memanfaatkan lahan idle mereka untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. “Kami siap sediakan bibit unggulan, pupuk, dan alat produksi dari Dinas Pertanian. Bayangkan, santri yang belajar mengolah tanah untuk tanaman hortikultura atau peternakan ikan bisa menciptakan kemandirian ekonomi, sekaligus melestarikan lingkungan di daerah kita yang kaya sungai dan hutan,” tambahnya. Inisiatif ini selaras dengan program santripreneur yang sukses di pesantren tetangga, di mana lulusan pondok kini menjalankan usaha pengolahan produk halal, menyerap ratusan tenaga kerja muda dan meningkatkan pendapatan desa hingga 20 persen.

Kegiatan Yasinan doa bersama Hari Santri 2025 dirangkai dengan tausiyah agama yang menyentuh hati, disampaikan oleh Tuan Guru K.H. Hasan Basri. Beliau mengupas tema “Santri di Tengah Arus Modernitas: Menjaga Iman, Merangkul Inovasi”, mengajak hadirin untuk menyeimbangkan ilmu agama dengan keterampilan duniawi. “Santri adalah pejuang tanpa pedang, tapi dengan ilmu dan doa. Di era ini, gunakan doa sebagai senjata, dan teknologi sebagai perisai,” pesannya, yang langsung diapresiasi dengan tepuk tangan meriah. Tausiyah ini menjadi penutup sempurna, meninggalkan pesan bahwa doa malam ini bukan akhir, tapi awal dari kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan pesantren.

Yasinan doa bersama Hari Santri 2025 ini meninggalkan jejak positif yang mendalam di Tanjung Jabung Barat. Di daerah yang mayoritas Muslim dan bergantung pada sektor primer seperti perikanan serta perkebunan, peran santri semakin krusial untuk membangun masyarakat yang berakhlak dan produktif. Pemkab berencana menjadikan acara ini sebagai agenda tahunan, dengan tambahan workshop santripreneur pasca-doa. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, BAZNAS Tanjung Jabung Barat membuka program donasi khusus untuk pesantren, sementara Dinas Pertanian siap konsultasi gratis untuk inisiatif pertanian pondok. Ini adalah momen di mana doa bertemu aksi, mengukir masa depan bangsa dari hati yang tulus.

Bupati Anwar Sadat Pimpin Upacara Hari Santri Nasional 2025: Duka Cita atas Tragedi Sidoarjo dan Panggilan Inovasi Santri

Kuala Tungkal – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti Alun-Alun Kota Kuala Tungkal saat Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag, memimpin upacara peringatan Hari Santri Nasional 2025. Ribuan santriwan dan santriwati, tepatnya sekitar 1.650 jiwa, ikut meramaikan acara yang digelar pada Rabu, 22 Oktober 2025. Hari Santri Nasional 2025 ini bukan hanya sekadar seremoni tahunan, melainkan momen refleksi mendalam atas peran santri sebagai penerus peradaban bangsa, di tengah duka cita nasional akibat musibah tragis di Pondok Pesantren Al-Khozini, Sidoarjo.

Upacara yang dihadiri oleh deretan tokoh penting daerah ini mencerminkan solidaritas lintas sektoral. Wakil Bupati Tanjung Jabung Barat, Ketua dan Wakil Ketua DPRD, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama, Sekretaris Daerah, Staf Ahli, para Asisten, serta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) hadir penuh. Tak ketinggalan, Ketua TP-PKK Kabupaten, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag), Ketua Gerakan Ormas Wanita (GOW), Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP), pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), serta para ulama, pengasuh, dan pimpinan pondok pesantren se-kabupaten turut memeriahkan. Kebersamaan ini menjadi simbol betapa santri bukan hanya bagian dari komunitas keagamaan, tapi juga pilar utama pembangunan sosial dan budaya di Tanjung Jabung Barat, daerah yang kaya akan tradisi pesantren di tengah alam tropisnya.

Sebagai pembaca amanat resmi dari Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Bupati Anwar Sadat menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya 67 santri dalam musibah di Pondok Pesantren Al-Khozini, Sidoarjo. Tragedi yang menewaskan para pelajar muda ini telah mengguncang hati bangsa, meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga dan komunitas pesantren nasional. “Kita semua berduka, bangsa ini berduka. Semoga seluruh korban mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan serta kekuatan untuk bangkit kembali,” ujar Bupati dengan suara bergetar, mewakili empati kolektif yang hadir di acara. Sebagai bentuk respons cepat, Kementerian Agama telah turun langsung ke lokasi, meninjau kondisi pesantren, memberikan bantuan materi dan psikis, serta memastikan proses pemulihan berjalan lancar. “Langkah ini adalah bukti nyata kehadiran negara bagi pesantren dan para santri. Momentum duka ini justru mengingatkan kita untuk berbenah diri, agar peristiwa serupa tidak terulang di masa depan,” tambahnya, menekankan pentingnya peningkatan standar keselamatan di lembaga pendidikan keagamaan.

Di balik nada duka, sambutan Bupati Anwar Sadat membawa pesan harapan yang membara. Ia menegaskan bahwa Hari Santri Nasional 2025 harus menjadi titik tolak kebangkitan santri Indonesia di era digital. “Santri bukan lagi hanya penguasa kitab kuning dan tradisi klasik; mereka harus mahir dalam teknologi, sains, dan bahasa-bahasa dunia. Dunia digital kini adalah ladang dakwah baru, di mana para santri bisa menyebarkan ajaran Islam dengan jangkauan global melalui media sosial dan inovasi konten,” katanya, disambut anggukan setuju dari barisan santri yang mengenakan sorban dan gamis rapi. Di Tanjung Jabung Barat, di mana pondok pesantren seperti Al-Baqiyatus Shalihat dan Daarul Abrar telah menjadi benteng pendidikan karakter, pesan ini terasa sangat relevan. Bupati berpesan agar santri “berilmu, berakhlak, dan berdaya”—menjaga warisan pesantren sambil merangkul kemajuan zaman. Ini berarti tidak hanya hafal Al-Qur’an, tapi juga coding, entrepreneurship, dan keterampilan vokasi yang bisa mendukung ekonomi lokal seperti perkebunan sawit atau ekowisata pantai.

Pesan penutup Bupati Anwar Sadat menjadi klimaks yang inspiratif: “Barang siapa menanam ilmu, ia menanam masa depan. Dari tangan para santrilah masa depan Indonesia akan ditulis. Selamat Hari Santri 2025—mengawal Indonesia merdeka, menuju peradaban dunia.” Kata-kata ini bukan sekadar retorika; ia mencerminkan visi Pemkab Tanjung Jabung Barat untuk mengintegrasikan pendidikan pesantren dengan program unggulan seperti santripreneur dan literasi digital. Di daerah ini, santri telah berkontribusi nyata, misalnya melalui inisiatif BAZNAS yang melatih mereka dalam usaha kecil seperti pengolahan madu hutan atau kerajinan tangan Islami, yang kini menyerap ratusan pemuda dan mengurangi angka pengangguran hingga 15 persen di kalangan usia produktif.

Rangkaian Hari Santri Nasional 2025 tak berhenti di upacara; ia dilengkapi dengan penyerahan hadiah lomba yang digelar Kantor Kemenag pada 14–15 Oktober 2025. Perlombaan yang seru meliputi Lalaran Amtsilah Tashrif (membaca teks Arab dengan fasih), Fahmil Kutub (pengetahuan kitab klasik), Tenis Meja untuk mengasah fisik, serta Santripreneur yang diselenggarakan BAZNAS Tanjung Jabung Barat. Kategori santripreneur mencakup Industri Kreatif seperti desain grafis berbasis motif Islam, Peternakan dengan budidaya ayam kampung organik, Perkebunan untuk tanaman hortikultura halal, dan Video Kreatif yang mempromosikan nilai-nilai pesantren di TikTok atau YouTube. Pemenang, yang mayoritas dari pesantren pedesaan, menerima beasiswa dan modal usaha, menjadi inspirasi bagi ribuan santri lain untuk berinovasi.

Acara ditutup dengan pelepasan pawai megah Hari Santri Nasional 2025, yang menjadi puncak kemeriahan. Pawai diawali oleh barisan Pasukan Santri Pengibar Bendera dari Pondok Pesantren Al-Baqiyatus Shalihat, lengkap dengan parade bendera Merah Putih dan yel-yel Islami, diakhiri rombongan megah dari Pondok Pesantren Daarul Abrar di Kecamatan Tebing Tinggi. Ratusan santri berbaris dengan iringan rebana dan nasyid, melintasi jalan utama Kuala Tungkal, menyampaikan pesan persatuan dan ketangguhan. Pawai ini tak hanya parade, tapi juga kampanye publik untuk keselamatan pesantren, dengan spanduk-spanduk bertuliskan “Santri Aman, Bangsa Kuat”.

Hari Santri Nasional 2025 di Tanjung Jabung Barat meninggalkan warisan berharga: duka yang menyatukan dan harapan yang membangkitkan. Dengan dukungan Pemkab, santri di sini siap menjadi agen perubahan, menggabungkan ruh tradisi dengan denyut modernitas. Bagi masyarakat yang ingin terlibat, program kolaborasi seperti adopsi santri atau donasi BAZNAS terbuka lebar. Ini adalah panggilan untuk semua: mari wujudkan Indonesia yang santri kuat, berilmu, dan beradab.

Bupati Anwar Sadat Buka Pelatihan Konstruksi 2025: Tingkatkan Kompetensi Tenaga Kerja di Tanjung Jabung Barat

Kuala Tungkal – Di tengah semangat pembangunan daerah yang kian bergelora, Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag, secara resmi membuka kegiatan Pembinaan dan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Konstruksi 2025. Acara ini digelar di halaman Kantor Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tanjung Jabung Barat pada Senin, 20 Oktober 2025, menjadi tonggak penting dalam upaya mencetak generasi tenaga kerja konstruksi yang handal dan kompetitif. Pelatihan konstruksi 2025 ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai kecamatan, menandai komitmen Pemkab untuk mendukung sektor infrastruktur yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Bupati Anwar Sadat, dalam sambutannya yang penuh motivasi, menyoroti peran krusial tenaga kerja konstruksi dalam mendorong kemajuan pembangunan daerah. Ia merujuk pada Peraturan Daerah Nomor 09 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, yang menjadi landasan hukum bagi program ini. “Tanpa tenaga ahli yang terampil, mimpi-mimpi pembangunan kita hanyalah angan-angan. Pelatihan konstruksi 2025 ini adalah investasi nyata untuk mempercepat peningkatan kompetensi dan jumlah pekerja terlatih di Tanjung Jabung Barat,” tegasnya. Bupati menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar transfer ilmu, tapi juga pembentukan fondasi pengetahuan yang kuat, agar para pekerja bisa berkontribusi maksimal dalam proyek-proyek infrastruktur seperti jalan raya, jembatan, dan perumahan rakyat yang sedang marak di daerah ini.

Lebih lanjut, Bupati Anwar Sadat berharap para peserta menjalani pelatihan dengan semangat tinggi, komitmen penuh, dan rasa tanggung jawab yang besar. “Kami ingin kalian tidak hanya lulus dengan sertifikat, tapi juga dengan keterampilan yang bisa langsung diterapkan di lapangan. Ini akan mempercepat roda pembangunan kita, menciptakan lapangan kerja lebih banyak, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tanjung Jabung Barat,” ungkapnya. Di daerah yang kaya sumber daya alam seperti perkebunan sawit dan perikanan, tenaga kerja konstruksi terampil menjadi kunci untuk membangun fasilitas pendukung, seperti gudang penyimpanan atau irigasi modern, yang pada akhirnya bisa menekan pengangguran dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal hingga 5-7 persen per tahun, sesuai target RPJMD daerah.

Dalam laporan resminya, Kepala Dinas PUPR Tanjung Jabung Barat, Apri Dasman, S.T., M.T., mengungkapkan bahwa pelatihan konstruksi 2025 ini diikuti oleh 175 peserta dari 13 kecamatan di kabupaten. Peserta dibagi menjadi tujuh kelas spesialisasi, mencakup tukang batu untuk pondasi bangunan kokoh, tukang cat untuk finishing estetis, tukang keramik untuk instalasi lantai dan dinding, tukang plafon untuk elemen interior, tukang las listrik untuk pekerjaan struktural, tukang rangka baja ringan untuk konstruksi modern, serta tukang plester untuk penyempurnaan permukaan. “Dana pelatihan ini sepenuhnya bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2025, menunjukkan prioritas Pemkab terhadap pengembangan SDM sektor konstruksi,” jelasnya. Program ini dirancang berlangsung selama empat hari penuh, dari 20 hingga 24 Oktober 2025, dengan materi praktik langsung yang dipandu oleh narasumber ahli dari PUPR Provinsi Jambi dan mitra terkait.

Inisiatif pelatihan konstruksi 2025 ini selaras dengan visi nasional Indonesia Emas 2045, di mana sektor konstruksi diproyeksikan menyumbang 10 persen PDB. Bagi Tanjung Jabung Barat, yang masih bergulat dengan tantangan akses pelatihan di pelosok, program ini menjadi jembatan menuju pemerataan kesempatan. Pemkab berencana melanjutkan dengan sertifikasi nasional bagi lulusan, bekerja sama dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), agar mereka bisa bersaing di tingkat provinsi bahkan nasional. Bagi masyarakat yang tertarik bergabung di batch selanjutnya, Dinas PUPR membuka pendaftaran online melalui situs resmi Pemkab, dengan kuota prioritas untuk warga kurang mampu.

Melalui pelatihan konstruksi 2025, Tanjung Jabung Barat tak hanya membangun bangunan, tapi juga membangun harapan. Ini adalah panggilan bagi semua pihak—pemerintah, swasta, dan masyarakat—untuk mendukung revolusi SDM di sektor ini. Dengan tenaga kerja yang kompeten, daerah ini siap melangkah lebih cepat menuju kesejahteraan merata, meninggalkan jejak abadi di peta pembangunan Jambi.

Bupati Anwar Sadat Resmi Buka Kejurprov Catur 2025 dan Bupati Cup di Tanjung Jabung Barat

Kuala Tungkal – Suasana penuh semangat olahraga intelektual menyelimuti Balai Pertemuan Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat pada Selasa malam, 14 Oktober 2025. Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag, yang didampingi Wakil Bupati Dr. H. Katamso, S.A., S.E., M.E., secara resmi membuka Kejurprov Catur 2025 dan Open Turnamen Bupati Cup Catur Tahun 2025. Acara ini, yang diselenggarakan oleh Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Pengprov Percasi) Jambi, menarik ratusan peserta dari berbagai penjuru provinsi, menjadikannya panggung bergengsi untuk mengasah strategi dan ketangkasan para pecinta catur.

Bupati Anwar Sadat, dalam sambutannya yang hangat, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih mendalam kepada Pengprov Percasi Jambi atas kepercayaan memilih Tanjung Jabung Barat sebagai tuan rumah. “Ini adalah kehormatan besar bagi kami. Kejurprov Catur 2025 dan Bupati Cup ini bukan hanya kompetisi, tapi juga momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar-atlet dan pecinta catur se-Jambi,” katanya. Ia juga memberikan sambutan selamat datang kepada seluruh peserta, baik dari dalam provinsi maupun tamu undangan dari luar daerah. Menurutnya, ajang ini berfungsi sebagai ajang evaluasi dan uji coba krusial bagi para atlet menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jambi 2026, sekaligus membangun semangat kolaboratif di kalangan komunitas catur.

Dengan nada optimis, Bupati Anwar Sadat menekankan nilai-nilai sportivitas yang harus dijunjung tinggi. “Selamat bertanding! Semoga setiap langkah di papan catur membawa prestasi membanggakan, tapi yang terpenting adalah menjaga fair play dan sportivitas. Ini adalah ajang untuk saling belajar dan berkembang, bukan hanya memperebutkan medali,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah dari hadirin. Kejurprov Catur 2025 ini diikuti oleh 320 atlet dari seluruh kabupaten dan kota di Jambi, sementara Open Turnamen Bupati Cup Catur menjaring 380 pendaftar. Total 25 medali emas, perak, dan perunggu dipertandingkan dalam kategori senior dan junior, mencakup berbagai kelas usia dan tingkat kemampuan, dari pemula hingga grandmaster muda.

Sementara itu, Ketua Percasi Kabupaten Tanjung Jabung Barat, H. Muh. Sjafril Simamora, S.H., menyampaikan laporan yang penuh syukur. Ia mengucapkan terima kasih kepada Bupati Anwar Sadat dan jajaran pemerintah daerah, termasuk Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jamal Darmawan, S.I.E., S.E., M.M., serta seluruh panitia. “Dukungan penuh dari Pemkab telah membuat persiapan berjalan lancar. Seperti suksesnya edisi 2022, kami yakin Kejurprov Catur 2025 dan Bupati Cup ini akan meninggalkan kenangan indah dan prestasi gemilang,” ungkapnya. Ia juga menyoroti komitmen panitia dalam menjamin kelancaran acara, mulai dari fasilitas papan catur standar internasional hingga protokol kesehatan yang ketat, memastikan semua peserta merasa nyaman dan aman.

Acara pembukaan tak hanya formalitas; ia dipenuhi momen-momen hangat yang memperkaya nuansa kebersamaan. Bupati Anwar Sadat secara pribadi membagikan doorprize berupa paket produk unggulan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Tanjung Jabung Barat kepada peserta dan tamu undangan. Tak ketinggalan, ritual pemotongan tumpeng dilakukan untuk merayakan ulang tahun ke-47 Ketua Percasi Provinsi Jambi, Mario Liberty Siregar, yang menjadi sorotan emosional acara. Usai seremoni, Bupati Anwar Sadat bahkan menyempatkan diri bermain catur santai bersama Mario Liberty Siregar, menunjukkan dedikasinya sebagai pemimpin yang dekat dengan masyarakat dan mendukung pengembangan olahraga lokal.

Hadir dalam kesempatan tersebut adalah para pejabat terkemuka, termasuk Dandim 0419/Tanjab, Kapolres Tanjung Jabung Barat yang diwakili Kabag Log AKP Gubril, Kajari diwakili Auditor Pratama Zulfriadi, S.H., serta perwakilan dari Pengadilan Agama, Pengadilan Negeri, Sekretaris Daerah, Kadispora Provinsi Jambi, Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesra. Tak hanya itu, Direktur Rumah Sakit K.H. Daud Arif Kuala Tungkal, Ketua KONI dan KORMI Provinsi Jambi, Ketua KONI Kabupaten/Kota se-Jambi, serta pimpinan NPCI dan Percasi dari berbagai daerah turut memeriahkan. Para peserta, panitia, dan tamu undangan lainnya melengkapi suasana yang penuh antusiasme, menjadikan malam itu sebagai pembuka yang sempurna untuk rangkaian pertandingan yang akan berlangsung hingga akhir pekan.

Melalui Kejurprov Catur 2025 dan Bupati Cup, Tanjung Jabung Barat tak hanya memamerkan kemampuan atlet lokal, tapi juga membangun fondasi untuk generasi mendatang. Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan atau terlibat, tiket penonton terbuka lebar, dan siaran langsung melalui media sosial KONI Jambi akan memudahkan akses. Ini adalah panggilan untuk semua: mari dukung olahraga catur sebagai alat pembentuk karakter unggul di Provinsi Jambi.

Bupati Anwar Sadat Perkuat Pemberdayaan WBP Melalui Kerja Sama Pemasyarakatan di Tanjung Jabung Barat

Kuala Tungkal – Dalam upaya memperkuat pemberdayaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag, telah menandatangani kesepakatan bersama dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Jambi. Acara penandatanganan kerja sama pemasyarakatan ini digelar secara resmi pada Rabu, 8 Oktober 2025, di Kantor Bupati Tanjung Jabung Barat, menandai komitmen penuh pemerintah daerah untuk mendukung rehabilitasi dan reintegrasi sosial bagi para narapidana.

Langkah strategis ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan fondasi nyata untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi WBP. Bupati Anwar Sadat menekankan bahwa tujuan utama dari kerja sama pemasyarakatan ini adalah memastikan para WBP tidak hanya menyelesaikan masa tahanan mereka, tetapi juga dibekali dengan keterampilan praktis, pengetahuan mendalam, dan semangat baru untuk berkontribusi secara produktif di masyarakat. “Kami ingin WBP kembali sebagai anggota masyarakat yang mandiri dan bermanfaat, bukan hanya bertahan hidup, tapi benar-benar berkembang,” ungkap Bupati Anwar Sadat dalam sambutannya yang penuh inspirasi.

Sebelumnya, hubungan antara Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan lembaga pemasyarakatan setempat sudah berjalan harmonis. Namun, dengan penandatanganan ini, sinergi kedua pihak diharapkan semakin kokoh. Cakupan kerjasama akan diperluas, mulai dari program pelatihan vokasi hingga dukungan pasca-pembebasan, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh WBP, tapi juga menyebar ke keluarga dan komunitas luas. “Ini adalah momen untuk memperkuat apa yang sudah baik menjadi luar biasa. Dengan kolaborasi ini, kita bisa menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan,” tambah Bupati Anwar Sadat, yang dikenal sebagai pemimpin visioner di tengah tantangan pembangunan daerah.

Kesepakatan kerja sama pemasyarakatan ini akan segera diikuti oleh perjanjian operasional antara berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Tanjung Jabung Barat. Beberapa dinas kunci yang terlibat meliputi Dinas Perkebunan dan Peternakan, yang akan menyediakan pelatihan budidaya tanaman unggulan; Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura untuk pengembangan sayuran organik; serta Dinas Perikanan yang fokus pada teknik budidaya ikan air tawar. Tak ketinggalan, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil akan membantu proses administrasi pasca-pembebasan, sementara Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, dan Perdagangan membuka peluang pemasaran produk WBP. Dinas Tenaga Kerja siap menyalurkan lowongan kerja, dan Dinas Kesehatan akan memberikan layanan medis preventif. Semua ini dikoordinasikan bersama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Kuala Tungkal, yang menjadi pusat pelaksanaan program di lapangan.

Pembaruan kesepakatan ini diharapkan menjadi katalisator bagi inovasi program pemberdayaan WBP di masa depan. Bukan hanya terpaku pada pembinaan dasar seperti pendidikan formal, tapi juga menyasar aspek ekonomi kreatif, seperti pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah. Bayangkan saja, WBP yang belajar mengolah madu hutan atau kerajinan tangan dari bahan daur ulang bisa langsung menjualnya melalui koperasi daerah. Selain itu, program integrasi sosial pasca-pembebasan akan mencakup konseling keluarga dan mentoring komunitas, membantu mereka menghindari stigma dan membangun jaringan dukungan yang kuat. “Kita semua bertanggung jawab untuk mengubah narapidana menjadi pilar masyarakat. Ini tentang harapan, bukan hukuman,” tegas Bupati Anwar Sadat, menutup sambutannya dengan nada optimis.

Langkah ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang mendorong otonomi daerah dalam mendukung pelayanan publik, serta Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2018 tentang Kerja Sama Daerah. Di Tanjung Jabung Barat, yang kaya akan sumber daya alam seperti perkebunan kelapa sawit dan perikanan sungai, potensi pemberdayaan WBP sangat besar. Program serupa di daerah lain, seperti pelatihan pertanian di Lapas Nusa Kambangan, telah membuktikan keberhasilan dengan tingkat recidivism (kembali berbuat kriminal) yang menurun hingga 20 persen. Dengan dukungan penuh dari Pemkab, diharapkan Tanjung Jabung Barat bisa menjadi model nasional untuk kerja sama pemasyarakatan yang inklusif.

Acara penandatanganan dihadiri oleh jajaran Forkopimda Kabupaten Tanjung Jabung Barat, termasuk Wakil Bupati, Ketua DPRD, dan Kapolres setempat. Kepala Kanwil Ditjenpas Jambi, yang memimpin delegasi, juga menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini, menjanjikan dukungan teknis dari pusat. Para Asisten Pemerintah Daerah dan kepala OPD hadir penuh semangat, siap mengimplementasikan rencana aksi. Kegiatan ditutup dengan doa bersama, melambangkan harapan kolektif untuk perubahan positif.

Inisiatif pemberdayaan WBP seperti ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi panggilan bagi seluruh masyarakat Tanjung Jabung Barat. Dengan kerja sama pemasyarakatan yang solid, daerah ini berpotensi mencetak generasi baru yang tangguh dan berdaya saing. Bagi warga yang ingin terlibat, Pemkab membuka ruang kolaborasi melalui program adopsi WBP atau donasi pelatihan. Ini adalah saatnya kita semua bergerak menuju masyarakat yang lebih adil dan produktif.

Bupati Anwar Sadat Hadapi Penurunan Transfer Keuangan dengan Optimisme di Penyusunan RAPBD Tanjung Jabung Barat 2026

Kuala Tungkal – Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tanjung Jabung Barat Tahun Anggaran 2026 menjadi ajang strategis untuk mengantisipasi penurunan transfer keuangan daerah dan dana desa, isu nasional yang kini menyasar hampir seluruh kabupaten di Indonesia. Dipimpin langsung Bupati Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., didampingi Wakil Bupati Dr. H. Katamso, S.A., S.E., M.E., rapat di Aula Utama Kantor Bupati pada Senin, 6 Oktober 2025, tak hanya membahas angka-angka kering, tapi juga komitmen kuat untuk jaga pelayanan publik meski kantong daerah semakin tipis. Surat resmi dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Nomor S-62/PK/2025 tanggal 23 September 2025 jadi pemicu utama, yang mengungkap alokasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) 2026 turun signifikan—sekitar 5-10% dari tahun sebelumnya, akibat penyesuaian anggaran pusat pasca-pandemi dan prioritas nasional seperti infrastruktur besar.

Suasana rapat di Aula Utama terasa tegang tapi penuh semangat. Puluhan pejabat daerah berkumpul, dari Sekretaris Daerah hingga para camat, sambil mencatat poin-poin krusial di buku catatan atau tablet. Bupati Anwar Sadat, dengan gaya bicara yang tenang tapi tegas, membuka sambutan dengan mengakui realitas pahit ini. “Penurunan transfer keuangan ini bukan cuma masalah kita di Tanjung Jabung Barat, tapi seluruh Indonesia. Dari Aceh sampai Papua, daerah-daerah sedang berjuang sama,” katanya, seperti dilansir dari rilis resmi Pemkab. Data Kementerian Keuangan menunjukkan, TKDD nasional 2026 diproyeksi Rp 800 triliun, turun Rp 40 triliun dari 2025, gara-gara efisiensi belanja pusat yang lebih ketat. Di Tanjung Jabung Barat, yang bergantung 60% pada dana transfer untuk gaji ASN dan program sosial, ini berarti potong anggaran hingga Rp 150 miliar—cukup untuk bangun puluhan jembatan atau bantu ribuan UMKM.

Tapi, Bupati Anwar Sadat tak mau pesimis. Ia tekankan, keterbatasan anggaran justru jadi momentum untuk lebih pintar kelola sumber daya. “Kita tetap komitmen berikan pelayanan terbaik. Efisiensi belanja bukan berarti potong program, tapi alihkan ke yang prioritas: pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar,” ujarnya. Strategi yang diusung? Pertama, optimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) lewat pajak bumi dan retribusi pasar yang lebih ketat, tapi adil. Kedua, dorong investasi swasta di sektor unggulan seperti perkebunan kelapa dan perikanan budidaya, yang potensinya belum tergarap maksimal. Ketiga, kolaborasi dengan desa untuk efisiensi dana desa—misalnya, program gotong royong untuk irigasi yang hemat biaya pusat. Wakil Bupati Katamso menambahkan, “Dengan data-driven budgeting, kita bisa identifikasi ‘lemak’ anggaran, seperti perjalanan dinas yang berlebih, dan alihkan ke bantuan langsung tunai untuk warga miskin.”

Rapat ini bagian dari rangkaian panjang penyusunan RAPBD, yang harus rampung Desember 2025 untuk disahkan DPRD. Hadir pula Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Asisten Administrasi Umum, Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesra, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat se-kabupaten, kabag Sekretariat Daerah, serta perencana OPD. Mereka berdiskusi serius: bagaimana realokasi untuk program unggulan seperti “Berkah Madani” yang fokus wisata religi dan pemberdayaan petani. “Dana desa turun 7%, tapi kita bisa dorong desa mandiri lewat homestay ekowisata di pinggiran sungai,” usul salah satu camat dari Kecamatan Jambi.

Dampak penurunan ini nyata bagi masyarakat. Di Tanjung Jabung Barat, dengan 10 kecamatan dan 126 desa, dana desa biasa dipakai untuk jalan usaha tani atau posyandu. Turunnya alokasi berarti proyek prioritas harus dipilih ketat—mungkin tunda renovasi gedung sekolah, tapi percepat vaksinasi anak. Namun, Bupati Anwar Sadat yakin, ini kesempatan bangun ketahanan lokal. “Ingat, Indonesia bangkit dari krisis 1998 lewat efisiensi seperti ini. Kita bisa!” katanya, memotivasi hadirin. Data BPS Jambi per Agustus 2025 tunjukkan inflasi daerah stabil di 2,5%, tapi pengangguran petani naik 1% gara-gara harga komoditas fluktuatif—jadi, anggaran 2026 harus lindungi lapangan kerja.

Akhir rapat, Bupati Anwar Sadat tutup dengan doa bersama, ingatkan semua: “Anggaran adalah amanah untuk rakyat. Mari kita jaga agar Tanjung Jabung Barat tetap maju, walau tantangan datang.” Langkah ini, di tengah gejolak ekonomi pasca-2025, bisa jadi inspirasi daerah lain. Siapa tahu, efisiensi ala Tanjab Barat nanti jadi model nasional.

Bupati Anwar Sadat Percepat Huluisasi dan Hilirisasi Kelapa di Tanjung Jabung Barat Bersama RoeKI

Kuala Tungkal – Huluisasi dan hilirisasi kelapa menjadi sorotan utama saat Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., menerima audiensi dari Roemah Kelapa Indonesia (RoeKI), organisasi nasional yang gencar mendorong inovasi di sektor perkebunan ini. Pertemuan di ruang rapat Bupati pada Jumat, 3 Oktober 2025, tak hanya membahas strategi jangka pendek, tapi juga visi besar untuk mengubah kelapa—komoditas unggulan daerah—dari barang mentah bernilai rendah menjadi industri terpadu yang menguntungkan petani dan UMKM lokal. Dengan luas lahan kelapa mencapai lebih dari 50 ribu hektare, Tanjung Jabung Barat sebagai produsen terbesar keempat di Indonesia punya peluang emas untuk naik kelas, sejalan dengan peta jalan hilirisasi nasional 2025-2045.

Bayangkan ribuan petani di pinggiran sungai Batanghari atau di antara hamparan sawah gambut yang selama ini hanya menjual kelapa utuh dengan harga murah meriah. Kini, angin segar datang lewat kolaborasi ini. Bupati Anwar Sadat, yang dikenal dekat dengan isu pertanian, menyambut hangat tim RoeKI yang dipimpin Direktur Hubungan Pemerintah dan Kerjasama Udhoro Kasih Anggoro, serta Ketua Bidang Pemasaran Dewan Kelapa Indonesia Galih Batara Muda. Hadir pula Putra dan Liza Syahmirman dari RoeKI, yang membawa data dan ide segar untuk mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir. “Kita tak boleh lagi puas dengan ekspor mentah. Hilirisasi ini kunci untuk tambah nilai jual hingga seribu persen, mulai dari air kelapa jadi minuman fungsional, tempurung untuk arang aktif, hingga serabut untuk tali rami,” kata Bupati Anwar Sadat dengan semangat, seperti dilansir dari situs resmi Pemkab Tanjung Jabung Barat.

RoeKI sendiri bukan pemain baru di panggung nasional. Didirikan untuk memberdayakan petani dan pelaku industri, organisasi ini telah menjalin jaringan luas, termasuk MoU dengan IPB University sejak Februari 2025, serta kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri dan perusahaan seperti PT SASA Inti. Fokus mereka? Meningkatkan kapasitas melalui pelatihan, digitalisasi perdagangan, dan pengembangan bibit unggul. Di Tanjung Jabung Barat, yang menyumbang produksi kelapa kedua terbesar di Jambi setelah Tanjung Jabung Timur, tantangan utama adalah dominasi produk mentah. Data BPS menunjukkan, dari 95 ribu ton produksi tahunan, sebagian besar masih diekspor tanpa pengolahan, membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga global—seperti anjloknya harga kelapa pada 2022 yang pernah bikin petani megap-megap.

Makanya, pertemuan ini langsung ke pokok bahasan: langkah strategis lima tahun ke depan. Dimulai dari studi kelayakan pabrik pengolahan, penguatan kelembagaan koperasi petani, hingga revisi regulasi daerah untuk dukung investasi. “Kita butuh revitalisasi lahan gambut yang ramah lingkungan, pelatihan UMKM bikin produk turunan seperti minyak kelapa murni atau sabun organik, plus platform digital untuk jual langsung ke pasar ekspor,” tambah Udhoro Kasih Anggoro, yang optimis kolaborasi ini bisa ciptakan ribuan lapangan kerja. Bupati Anwar Sadat menambahkan, ini selaras dengan program nasional Menteri Pertanian yang baru saja dirapatkan di September 2025, di mana Tanjung Jabung Barat diundang sebagai model pilot hilirisasi.

Manfaatnya tak main-main. Industri kelapa yang terintegrasi bisa jadi tulang punggung ekonomi daerah, kontribusi hingga 20% terhadap PDRB Tanjung Jabung Barat yang kini bergantung pada pertanian dan perikanan. Bagi petani seperti Pak Joko dari Kecamatan Seberang Kota, yang menggarap 2 hektare lahan, harapan naik: pendapatan keluarga bisa melonjak dari Rp 5 juta per bulan jadi dua kali lipat lewat produk olahan. “Dulu kelapa cuma dijual Rp 3.000 per butir, sekarang kalau diolah jadi virgin coconut oil, bisa Rp 50.000 per liter,” ceritanya. Tak hanya itu, hilirisasi ini dukung ketahanan pangan nasional, karena kelapa punya potensi multifungsi—dari makanan hingga bahan baku farmasi.

Audiensi ini dihadiri pejabat kunci seperti Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Kepala Dinas Koperasi, Industri Kecil Menengah dan Perdagangan (Koperindag), Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMTSP), Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kabag Kerjasama, Kabag Sumber Daya Alam (SDA), serta Kabag Ekonomi Sekretariat Daerah. Mereka sepakat bentuk tim percepatan, dengan target pabrik mini hilirisasi beroperasi akhir 2026.

Optimisme Bupati Anwar Sadat menular. “Dengan dukungan RoeKI dan mitra nasional, Tanjung Jabung Barat siap jadi pusat kelapa dunia. Ini bukan mimpi, tapi rencana nyata untuk kesejahteraan petani dan bangsa,” tutupnya. Langkah ini, di tengah target hilirisasi nasional yang ambisius, bisa jadi contoh bagi daerah lain. Siapa tahu, kelapa dari Jambi nanti jadi bintang di rak-rak supermarket global.

Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di Tanjung Jabung Barat: Dorong Wisata Religi, Silaturahmi, dan Perekonomian Masyarakat

Kuala Tungkal – Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di Tanjung Jabung Barat bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga ajang wisata religi yang menyatukan silaturahmi lintas daerah sambil menggeliatkan perekonomian masyarakat. Acara ini, yang dirangkai dengan peringatan Milad Majelis Ta’lim Al Hidayah ke-46, dihadiri ribuan jamaah dari berbagai penjuru Sumatera hingga Jawa, menjadi bukti betapa kuatnya ikatan spiritual di tengah kehidupan modern. Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., menekankan bahwa momentum seperti ini selaras dengan visi “Berkah Madani” pemerintah daerah, di mana nilai-nilai keislaman dijadikan pondasi pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi.

Pada Kamis, 2 Oktober 2025, suasana di Pondok Pesantren Al-Baqiyatush Shalihat, Kuala Tungkal, dipenuhi lantunan dzikir dan shalawat yang menggema sejak pagi buta. Ribuan jamaah, mengenakan pakaian sorban dan mukena berwarna-warni, berdesak-desakan di halaman pesantren yang luas. Ada yang datang dari pelosok Kabupaten Tanjung Jabung Barat sendiri, tapi tak sedikit pula yang melintasi perbatasan provinsi—dari Bungo dan Merangin di Jambi, Indragiri Hilir di Riau, hingga daerah-daerah di Jawa Timur seperti Jember. Antusiasme ini, kata Bupati Anwar Sadat, mencerminkan semangat ukhuwah islamiyah yang tak terbatas oleh jarak atau batas wilayah. “Ini adalah bukti bahwa Islam kita di sini penuh dengan kebersamaan. Jamaah dari jauh datang bukan hanya untuk beribadah, tapi juga untuk saling berbagi cerita dan doa,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan di tengah acara.

Bagi Bupati Anwar Sadat, haul ini lebih dari sekadar peringatan tahunan atas wafatnya Sultanul Aulia Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, ulama sufi besar abad ke-12 yang dikenal sebagai pendiri tarekat Qadiriyah. Acara ini telah menjadi agenda tetap dalam kalender pemerintah daerah, sengaja diposisikan sebagai pilar utama pengembangan wisata religi. Di Tanjung Jabung Barat, yang kaya akan potensi alam seperti mangrove dan pantai, wisata religi seperti ini menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran jika pemerintah daerah terus mendorongnya sebagai bagian dari strategi “Berkah Madani”, yang mengintegrasikan spiritualitas dengan kemajuan ekonomi. “Kegiatan haul ini seperti rangkaian wisata religi yang menyegarkan jiwa. Di sini, kita tidak hanya mendengar pembacaan manaqib dan mauidzah hasanah, tapi juga menggali nasihat para guru untuk diaplikasikan dalam rutinitas harian. Ini momen muhasabah yang pas di era yang serba cepat ini,” tambahnya dengan nada hangat, seolah mengajak hadirin untuk merenung lebih dalam.

Manfaatnya tak berhenti di ranah spiritual. Bupati Anwar Sadat menyoroti dampak ekonomi yang langsung dirasakan warga setempat. Saat ribuan jamaah berdatangan, roda perekonomian pun ikut berputar kencang. Pedagang kaki lima di sekitar pesantren kebanjiran pembeli yang haus akan hidangan khas seperti gulai ikan patin atau kue tradisional berbahan kelapa. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan kain songket atau kerajinan tangan bambu tak ketinggalan meraup untung. Bahkan, sopir ojek dan angkutan umum lokal pun sibuk melayani tamu dari luar kota. “Bayangkan saja, satu acara seperti ini bisa menyuntikkan ratusan juta rupiah ke kantong masyarakat. Dari tiket transportasi hingga penginapan sederhana, semuanya bergerak. Ini berkah nyata yang datang dari kegiatan yang penuh barokah,” katanya, sambil tersenyum melihat keramaian di sekitar lokasi.

Acara inti haul kali ini semakin istimewa dengan penyampaian Al-Mauizhatul Hasanah oleh Al-Mukarram Tuan Guru Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, M.Hi., yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Arifin di Bangsalsari, Jember. Ceramahnya yang penuh hikmah, berfokus pada tema penguatan iman di tengah tantangan zaman, membuat hadirin terpaku. “Syekh Abdul Qodir mengajarkan kita untuk menjaga hati agar tetap bersih, seperti air sungai yang mengalir jernih. Di era digital ini, mari kita kembali ke akar, ke silaturahmi yang tulus,” demikian salah satu potongan pesannya yang langsung diapresiasi dengan tepuk tangan meriah.

Pungkas Bupati Anwar Sadat, “Haul ini adalah momentum emas untuk meningkatkan iman, mempererat persaudaraan, dan memberi berkah bagi perekonomian kita semua. Mari kita jaga agar tradisi ini terus hidup, sebagai warisan yang membanggakan.” Dengan semangat itu, acara pun ditutup dengan doa bersama, meninggalkan jejak kehangatan yang akan dirindukan hingga haul tahun depan.

Bupati Anwar Sadat Buka Bimtek Peningkatan Kompetensi Auditor: Fokus TKDN dan PDN Perpres 46/2025 Dorong Pengadaan Lokal

Kuala Tungkal – Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat M.Ag., secara resmi membuka kegiatan *Peningkatan Kompetensi Auditor dan Penguatan Kapasitas Pejabat Pembuat Komitmen serta Pejabat Pengadaan Barang/Jasa*, yang digelar di Ruang Pola Utama Kantor Bupati pada Senin (29/9). Acara ini, yang dihadiri Koordinator Pengawasan Bidang Akuntabilitas Pemerintah Daerah BPKP Perwakilan Jambi sekaligus narasumber Sumardi Ak., M.E., Inspektur Kabupaten Drs. Encep Jarkasih, para kepala OPD, hingga camat se-kabupaten, menjadi langkah strategis pemerintah daerah untuk tingkatkan pengawasan internal dan adaptasi terhadap *Perpres 46 Tahun 2025*. Kebijakan ini menekankan prioritas *Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)* dan *Produk Dalam Negeri (PDN)* dalam pengadaan barang/jasa, sejalan dengan arahan Presiden untuk perkuat ekonomi lokal di tengah tantangan global seperti inflasi impor dan kemandirian industri.

Pagi itu, Ruang Pola Kantor Bupati terasa begitu profesional, dengan deretan meja panjang yang dipenuhi laptop dan dokumen regulasi tebal. Aroma kopi Jambi menyapa para peserta yang datang pagi-pagi, siap ikuti bimtek dua hari ini. Bupati Anwar Sadat, mengenakan kemeja lengan pendek yang santai tapi rapi, naik ke podium dengan senyum lebar, langsung sapa hadirin yang memadati ruangan. “Hadirin sekalian, kegiatan hari ini adalah bukti nyata komitmen kita untuk tingkatkan kompetensi dan pengawasan internal di pemerintahan. Di era digital dan transparansi ini, auditor dan pejabat pengadaan harus jadi garda terdepan agar setiap rupiah anggaran benar-benar bermanfaat bagi rakyat Tanjab Barat,” katanya, membuka sambutan dengan nada penuh keyakinan. Ia ingatkan, pengadaan barang/jasa bukan sekadar rutinitas birokrasi, tapi pintu gerbang untuk dorong UMKM lokal naik kelas—dari petani sawit di Muara Bulian yang suplai minyak goreng, hingga pengrajin batik di Kuala Tungkal yang bisa jadi pemasok seragam dinas.

Lebih dalam, Bupati Anwar Sadat soroti substansi *Perpres 46 Tahun 2025*, yang merupakan amandemen kedua atas Perpres 16/2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. “Regulasi ini tegas perintahkan pemerintah, BUMN, dan BUMD utamakan produk *TKDN* dan *PDN*. Yang paling krusial, prioritas barang bersertifikat TKDN—artinya, kita harus beli yang buatan anak bangsa dulu, bukan impor murah yang banjiri pasar. Ini wujud komitmen pusat untuk tata kelola pengadaan yang adaptif, ikuti perkembangan teknologi seperti e-katalog versi-6, dan praktik modern yang transparan,” jelasnya. Ia hubungkan langsung dengan arahan Presiden saat sarasehan ekonomi di Gedung Mandiri April lalu: “Presiden tekankan, kemandirian ekonomi dimulai dari pengadaan sehari-hari. Di Tanjab Barat, ini berarti kesempatan emas bagi pelaku usaha lokal. Bayangkan, proyek jalan desa kita bisa pakai semen dari pabrik Jambi, atau alat kesehatan Puskesmas dari produsen nasional—bukan lagi bergantung China atau Vietnam.”

Peserta bimtek, yang jumlahnya sekitar 150 orang dari berbagai OPD dan kecamatan, tampak antusias. Sumardi dari BPKP, sebagai narasumber utama, siap paparkan modul-modul praktis: mulai dari audit berbasis risiko hingga simulasi tender elektronik yang wajib pakai Katalog E-Proc versi-6. Inspektur Encep Jarkasih, yang dampingi Bupati, tambahkan catatan: “Tahun ini, kami sudah deteksi 20% efisiensi anggaran lewat pengawasan ketat. Bimtek ini bakal tingkatkan itu jadi 30%, dengan fokus cegah penyimpangan seperti mark-up atau kolusi.” Diskusi interaktif pun direncanakan, di mana camat dari daerah terpencil seperti Seberang Ilir bisa tanya soal tantangan pengadaan di pelosok—misalnya, bagaimana verifikasi TKDN untuk alat berat yang sulit didapat di Jambi.

Bupati Anwar Sadat tak lupa tekankan harapannya. “Semoga bimtek ini bukan cuma tambah ilmu di kertas, tapi ubah perilaku kita di lapangan. Pelaku pengadaan harus bebas dari penyimpangan, paham substansi *Perpres 46/2025*, dan optimalkan katalog versi-6 untuk kualitas pengadaan lebih baik. Ini juga dukung visi Tanjab Barat *Berkah Madani*: pemerintahan bersih, ekonomi bergerak, dan rakyat sejahtera,” tutupnya, disambut aplaus panjang. Acara berlanjut dengan sesi pertama: workshop soal integrasi TKDN di platform LKPP, yang langsung praktikkan peserta via laptop. Di sela-sela, obrolan ringan muncul—seorang kepala OPD cerita pengalaman tender gagal gara-gara sertifikat TKDN palsu, sementara camat lain bagiin tips kolaborasi dengan koperasi desa untuk suplai PDN.

Secara keseluruhan, kegiatan ini jadi momentum krusial bagi Tanjung Jabung Barat, yang anggaran pengadaannya capai Rp 500 miliar per tahun. Dengan regulasi baru, daerah ini berpotensi hemat hingga 15% biaya impor sambil ciptakan lapangan kerja baru—seperti pabrik komponen migas di Tungkal Ilir yang kini bisa tender proyek BUMD. Di tengah isu korupsi pengadaan yang sering ramai di media nasional, inisiatif Bupati Anwar Sadat ini patut diapresiasi: bukan cuma teori, tapi aksi nyata untuk pemerintahan yang akuntabel. Narasumber Sumardi janji follow-up: “BPKP siap audit lanjutan enam bulan ke depan, pastikan implementasi Perpres ini tak mandek.” Saat peserta bubar siang itu, semangat baru terasa—siap terapkan ilmu untuk tender akhir tahun yang lebih adil dan pro-lokal. Ini langkah kecil yang bisa bawa Tanjab Barat ke level tata kelola terbaik di Jambi, mengingatkan bahwa pengadaan yang benar bukan beban, tapi peluang emas untuk bangun daerah dari bawah.

Tanjab Barat Raih Prestasi Penurunan Stunting 7%: Target 6,65% di 2025 Jadi Fokus Sinergi Lembaga

Kuala Tungkal – Kabupaten Tanjung Jabung Barat berhasil tekan angka prevalensi *stunting* menjadi 7 persen pada 2024, dan kini menatap target ambisius penurunan lebih lanjut ke 6,65 persen di 2025 sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029. Prestasi ini jadi angin segar dalam *percepatan pencegahan stunting*, yang terus digalakan pemerintah daerah melalui kolaborasi lintas sektor. Bupati Drs. H. Anwar Sadat M.Ag., didampingi Wakil Bupati Dr. H. Katamso S.A., S.E., M.E., secara resmi membuka acara *Publikasi Data Stunting 2025* di Ruang Pola Kantor Bupati pada Kamis (25/9). Acara ini bukan sekadar ritual tahunan, tapi panggilan aksi untuk seluruh elemen masyarakat, agar generasi emas Tanjab Barat tumbuh sehat dan bebas dari ancaman malnutrisi yang bisa hambat masa depan anak-anak.

Suasana di Ruang Pola pagi itu terasa penuh harap, meski topiknya serius. Meja bundar dipenuhi data grafis berwarna-warni, sementara layar proyektor menampilkan peta sebaran stunting di 13 kecamatan Tanjab Barat. Bupati Anwar Sadat, dengan gaya bicaranya yang sederhana tapi menyentuh, langsung menekankan urgensi *sinergi lembaga*. “Stunting bukan urusan satu dinas atau dua orang aja. Ini perang melawan kemiskinan terselubung yang butuh tangan semua pihak—dari orang tua di desa terpencil hingga perusahaan besar di kota. Kalau kita gerak bareng, cepat dan tepat, target 6,65 persen tahun ini pasti kita capai,” tegasnya, disambut anggukan setuju dari hadirin yang memadati ruangan. Ia ingatkan, di balik angka itu ada cerita nyata: bayi di Muara Sabak yang kini bisa lari kencang berkat suplementasi gizi, atau balita di Seberang Ilir yang lolos dari garis wasting karena intervensi dini Puskesmas.

Lebih lanjut, Bupati Anwar Sadat soroti komitmen penguatan koordinasi dengan *stakeholder* luas, termasuk pelaku usaha. “Kami tak bisa sendirian. Perusahaan migas di sini, misalnya, bisa bantu program makan siang bergizi di sekolah. Dengan kolaborasi terarah, kita optimis selesaikan isu stunting ini, biar anak-anak Tanjab Barat jadi generasi sehat yang siap kompetisi global,” ujarnya. Ini selaras dengan semangat nasional menuju *zero stunting* 2029, di mana Jambi targetkan penurunan seragam di semua kabupaten. Tanjab Barat, yang kini peringkat kedua terbaik di provinsi berkat capaian 7 persen tahun lalu, jadi contoh inspiratif. Data dari Agustus 2025, yang dipaparkan Kepala Dinas Kesehatan Zaharuddin SKM, ungkap fakta telanjang: stunting tersebar tak merata, dengan angka tertinggi di daerah pesisir seperti Jambi atau Ogan Ilir, di mana akses pangan segar masih terbatas. Paparan itu juga sentuh isu wasting (gizi kurang hingga buruk) dan underweight (berat badan kurang), yang jadi alarm dini untuk alokasi anggaran lebih tepat—mulai dari posyandu mobile hingga kampanye ASI eksklusif.

Narasi acara makin kaya dengan masukan dari narasumber undangan. Ade Irawansyah dari Bappeda Provinsi Jambi puji Tanjab Barat sebagai kabupaten pionir yang publikasikan data stunting 2025 lebih awal. “Ini langkah maju. Kami dukung teknis, dari mapping hotspot stunting hingga integrasi data ke RPJMD provinsi,” katanya. Sementara Feri T. Sihotang dari Dinas Kesehatan Provinsi tekankan strategi terpadu: “Fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan, dengan intervensi sanitasi dan pendidikan gizi. Tanjab Barat sudah di jalur benar, tapi butuh akselerasi di akar rumput.” Sesi tanya jawab lintas sektor pun hidup: seorang perwakilan UMKM tanya soal keterlibatan swasta dalam distribusi suplemen, dijawa Bupati dengan rencana MoU cepat. Diskusi ini perkuat *aksi konvergensi pencegahan stunting*, di mana dinas kesehatan, pendidikan, dan pertanian janji saling back-up—misalnya, sekolah tanam sayur organik untuk kurangi underweight.

Puncak emosional acara adalah penyerahan piagam penghargaan kepada Puskesmas berprestasi. Bupati Anwar Sadat, Wabup Katamso, Sekretaris Daerah, dan Forkopimda—termasuk Kapolres Tanjab Barat dan Pasiter Kodim 0419/Tanjab—langsung bagikan penghargaan ke tim medis di lapangan yang andil besar capai 7 persen. “Kalian pahlawan tanpa tanda jasa. Dari pengukuran tinggi badan rutin hingga konseling ibu hamil, kontribusi kalian ubah nasib ratusan balita,” kata Bupati, sambil peluk kepala Puskesmas terbaik dari Kecamatan Tungkal Ilir. Momen ini bikin mata berkaca: salah satu perawat cerita, “Tahun lalu, kami selamatkan 50 anak dari stunting berat lewat program timbangan mingguan. Ini buah sinergi dengan PKK desa.”

Hadirin yang datang tak main-main: dari Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesra, Asisten Perekonomian, Kepala Bappeda, Dinas P3AP2KB, Lingkungan Hidup, Kominfo, hingga perwakilan Dinas Pendidikan, PMD, Pengadilan Agama, dan insan pers. Mereka wakili komitmen luas, dari birokrasi hingga masyarakat sipil. Acara tutup dengan doa bersama, tapi pesannya abadi: *penurunan stunting* Tanjab Barat bukan akhir, tapi start lomba lari panjang. Di tengah tantangan seperti banjir musiman yang ganggu pangan atau migrasi pekerja yang tinggalkan anak rawan, inisiatif ini patut diapresiasi. Bupati Anwar Sadat tutup: “Masa depan Tanjab Barat ada di tangan anak-anak kita. Mari jaga mereka sehat, biar *Berkah Madani* kita tak cuma mimpi.”

Prestasi ini juga jadi pelajaran bagi daerah lain di Jambi, yang prevalensinya masih di atas 10 persen rata-rata. Dengan data terbuka seperti ini, Tanjab Barat buka jalan transparansi: alokasi Rp 50 miliar di APBD 2025 khusus stunting, dari bantuan telur ayam kampung hingga toilet keluarga. Siapa tahu, tahun depan target 6,65 persen tercapai, dan Tanjab Barat jadi juara nasional. Ini cerita sukses tentang bagaimana satu data bisa selamatkan seribu nyawa—dan hati.