Bupati Anwar Sadat Percepat Huluisasi dan Hilirisasi Kelapa di Tanjung Jabung Barat Bersama RoeKI

Bupati Anwar Sadat Percepat Huluisasi dan Hilirisasi Kelapa di Tanjung Jabung Barat Bersama RoeKI
Kuala Tungkal – Huluisasi dan hilirisasi kelapa menjadi sorotan utama saat Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., menerima audiensi dari Roemah Kelapa Indonesia (RoeKI), organisasi nasional yang gencar mendorong inovasi di sektor perkebunan ini. Pertemuan di ruang rapat Bupati pada Jumat, 3 Oktober 2025, tak hanya membahas strategi jangka pendek, tapi juga visi besar untuk mengubah kelapa—komoditas unggulan daerah—dari barang mentah bernilai rendah menjadi industri terpadu yang menguntungkan petani dan UMKM lokal. Dengan luas lahan kelapa mencapai lebih dari 50 ribu hektare, Tanjung Jabung Barat sebagai produsen terbesar keempat di Indonesia punya peluang emas untuk naik kelas, sejalan dengan peta jalan hilirisasi nasional 2025-2045. Bayangkan ribuan petani di pinggiran sungai Batanghari atau di antara hamparan sawah gambut yang selama ini hanya menjual kelapa utuh dengan harga murah meriah. Kini, angin segar datang lewat kolaborasi ini. Bupati Anwar Sadat, yang dikenal dekat dengan isu pertanian, menyambut hangat tim RoeKI yang dipimpin Direktur Hubungan Pemerintah dan Kerjasama Udhoro Kasih Anggoro, serta Ketua Bidang Pemasaran Dewan Kelapa Indonesia Galih Batara Muda. Hadir pula Putra dan Liza Syahmirman dari RoeKI, yang membawa data dan ide segar untuk mengintegrasikan rantai pasok dari hulu ke hilir. "Kita tak boleh lagi puas dengan ekspor mentah. Hilirisasi ini kunci untuk tambah nilai jual hingga seribu persen, mulai dari air kelapa jadi minuman fungsional, tempurung untuk arang aktif, hingga serabut untuk tali rami," kata Bupati Anwar Sadat dengan semangat, seperti dilansir dari situs resmi Pemkab Tanjung Jabung Barat. RoeKI sendiri bukan pemain baru di panggung nasional. Didirikan untuk memberdayakan petani dan pelaku industri, organisasi ini telah menjalin jaringan luas, termasuk MoU dengan IPB University sejak Februari 2025, serta kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri dan perusahaan seperti PT SASA Inti. Fokus mereka? Meningkatkan kapasitas melalui pelatihan, digitalisasi perdagangan, dan pengembangan bibit unggul. Di Tanjung Jabung Barat, yang menyumbang produksi kelapa kedua terbesar di Jambi setelah Tanjung Jabung Timur, tantangan utama adalah dominasi produk mentah. Data BPS menunjukkan, dari 95 ribu ton produksi tahunan, sebagian besar masih diekspor tanpa pengolahan, membuat petani rentan terhadap fluktuasi harga global—seperti anjloknya harga kelapa pada 2022 yang pernah bikin petani megap-megap. Makanya, pertemuan ini langsung ke pokok bahasan: langkah strategis lima tahun ke depan. Dimulai dari studi kelayakan pabrik pengolahan, penguatan kelembagaan koperasi petani, hingga revisi regulasi daerah untuk dukung investasi. "Kita butuh revitalisasi lahan gambut yang ramah lingkungan, pelatihan UMKM bikin produk turunan seperti minyak kelapa murni atau sabun organik, plus platform digital untuk jual langsung ke pasar ekspor," tambah Udhoro Kasih Anggoro, yang optimis kolaborasi ini bisa ciptakan ribuan lapangan kerja. Bupati Anwar Sadat menambahkan, ini selaras dengan program nasional Menteri Pertanian yang baru saja dirapatkan di September 2025, di mana Tanjung Jabung Barat diundang sebagai model pilot hilirisasi. Manfaatnya tak main-main. Industri kelapa yang terintegrasi bisa jadi tulang punggung ekonomi daerah, kontribusi hingga 20% terhadap PDRB Tanjung Jabung Barat yang kini bergantung pada pertanian dan perikanan. Bagi petani seperti Pak Joko dari Kecamatan Seberang Kota, yang menggarap 2 hektare lahan, harapan naik: pendapatan keluarga bisa melonjak dari Rp 5 juta per bulan jadi dua kali lipat lewat produk olahan. "Dulu kelapa cuma dijual Rp 3.000 per butir, sekarang kalau diolah jadi virgin coconut oil, bisa Rp 50.000 per liter," ceritanya. Tak hanya itu, hilirisasi ini dukung ketahanan pangan nasional, karena kelapa punya potensi multifungsi—dari makanan hingga bahan baku farmasi. Audiensi ini dihadiri pejabat kunci seperti Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Kepala Dinas Koperasi, Industri Kecil Menengah dan Perdagangan (Koperindag), Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMTSP), Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kabag Kerjasama, Kabag Sumber Daya Alam (SDA), serta Kabag Ekonomi Sekretariat Daerah. Mereka sepakat bentuk tim percepatan, dengan target pabrik mini hilirisasi beroperasi akhir 2026. Optimisme Bupati Anwar Sadat menular. "Dengan dukungan RoeKI dan mitra nasional, Tanjung Jabung Barat siap jadi pusat kelapa dunia. Ini bukan mimpi, tapi rencana nyata untuk kesejahteraan petani dan bangsa," tutupnya. Langkah ini, di tengah target hilirisasi nasional yang ambisius, bisa jadi contoh bagi daerah lain. Siapa tahu, kelapa dari Jambi nanti jadi bintang di rak-rak supermarket global.