Kuala Tungkal – Haul Syekh Abdul Qodir Al-Jailani di Tanjung Jabung Barat bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga ajang wisata religi yang menyatukan silaturahmi lintas daerah sambil menggeliatkan perekonomian masyarakat. Acara ini, yang dirangkai dengan peringatan Milad Majelis Ta'lim Al Hidayah ke-46, dihadiri ribuan jamaah dari berbagai penjuru Sumatera hingga Jawa, menjadi bukti betapa kuatnya ikatan spiritual di tengah kehidupan modern. Bupati Tanjung Jabung Barat, Drs. H. Anwar Sadat, M.Ag., menekankan bahwa momentum seperti ini selaras dengan visi "Berkah Madani" pemerintah daerah, di mana nilai-nilai keislaman dijadikan pondasi pembangunan sosial, budaya, dan ekonomi.
Pada Kamis, 2 Oktober 2025, suasana di Pondok Pesantren Al-Baqiyatush Shalihat, Kuala Tungkal, dipenuhi lantunan dzikir dan shalawat yang menggema sejak pagi buta. Ribuan jamaah, mengenakan pakaian sorban dan mukena berwarna-warni, berdesak-desakan di halaman pesantren yang luas. Ada yang datang dari pelosok Kabupaten Tanjung Jabung Barat sendiri, tapi tak sedikit pula yang melintasi perbatasan provinsi—dari Bungo dan Merangin di Jambi, Indragiri Hilir di Riau, hingga daerah-daerah di Jawa Timur seperti Jember. Antusiasme ini, kata Bupati Anwar Sadat, mencerminkan semangat ukhuwah islamiyah yang tak terbatas oleh jarak atau batas wilayah. "Ini adalah bukti bahwa Islam kita di sini penuh dengan kebersamaan. Jamaah dari jauh datang bukan hanya untuk beribadah, tapi juga untuk saling berbagi cerita dan doa," ungkapnya saat menyampaikan sambutan di tengah acara.
Bagi Bupati Anwar Sadat, haul ini lebih dari sekadar peringatan tahunan atas wafatnya Sultanul Aulia Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, ulama sufi besar abad ke-12 yang dikenal sebagai pendiri tarekat Qadiriyah. Acara ini telah menjadi agenda tetap dalam kalender pemerintah daerah, sengaja diposisikan sebagai pilar utama pengembangan wisata religi. Di Tanjung Jabung Barat, yang kaya akan potensi alam seperti mangrove dan pantai, wisata religi seperti ini menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran jika pemerintah daerah terus mendorongnya sebagai bagian dari strategi "Berkah Madani", yang mengintegrasikan spiritualitas dengan kemajuan ekonomi. "Kegiatan haul ini seperti rangkaian wisata religi yang menyegarkan jiwa. Di sini, kita tidak hanya mendengar pembacaan manaqib dan mauidzah hasanah, tapi juga menggali nasihat para guru untuk diaplikasikan dalam rutinitas harian. Ini momen muhasabah yang pas di era yang serba cepat ini," tambahnya dengan nada hangat, seolah mengajak hadirin untuk merenung lebih dalam.
Manfaatnya tak berhenti di ranah spiritual. Bupati Anwar Sadat menyoroti dampak ekonomi yang langsung dirasakan warga setempat. Saat ribuan jamaah berdatangan, roda perekonomian pun ikut berputar kencang. Pedagang kaki lima di sekitar pesantren kebanjiran pembeli yang haus akan hidangan khas seperti gulai ikan patin atau kue tradisional berbahan kelapa. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan kain songket atau kerajinan tangan bambu tak ketinggalan meraup untung. Bahkan, sopir ojek dan angkutan umum lokal pun sibuk melayani tamu dari luar kota. "Bayangkan saja, satu acara seperti ini bisa menyuntikkan ratusan juta rupiah ke kantong masyarakat. Dari tiket transportasi hingga penginapan sederhana, semuanya bergerak. Ini berkah nyata yang datang dari kegiatan yang penuh barokah," katanya, sambil tersenyum melihat keramaian di sekitar lokasi.
Acara inti haul kali ini semakin istimewa dengan penyampaian Al-Mauizhatul Hasanah oleh Al-Mukarram Tuan Guru Dr. KH. Abdullah Syamsul Arifin, M.Hi., yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Arifin di Bangsalsari, Jember. Ceramahnya yang penuh hikmah, berfokus pada tema penguatan iman di tengah tantangan zaman, membuat hadirin terpaku. "Syekh Abdul Qodir mengajarkan kita untuk menjaga hati agar tetap bersih, seperti air sungai yang mengalir jernih. Di era digital ini, mari kita kembali ke akar, ke silaturahmi yang tulus," demikian salah satu potongan pesannya yang langsung diapresiasi dengan tepuk tangan meriah.
Pungkas Bupati Anwar Sadat, "Haul ini adalah momentum emas untuk meningkatkan iman, mempererat persaudaraan, dan memberi berkah bagi perekonomian kita semua. Mari kita jaga agar tradisi ini terus hidup, sebagai warisan yang membanggakan." Dengan semangat itu, acara pun ditutup dengan doa bersama, meninggalkan jejak kehangatan yang akan dirindukan hingga haul tahun depan.