Beranda blog Halaman 154

BUMDes di Desa Delima, Tanjabar Raup Untung Ratusan Juta

JAMBI – Badan usaha milik desa (BUMDes) di Provinsi Jambi saat ini sudah berjumlah 1113 unit dari 1399 desa se Provinsi Jambi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 789 dalam kondisi aktif, sedangkan 324 unit tidak aktif. Dari sejumlah BUMDes yang aktif tersebut, BUMDes Karya Bersama di Desa Delima, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjungjabung Barat (Tanjabar) terbilang sukses.
BUMDes yang sudah berdiri sejak tahun 2015 tersebut, kini berhasil meraup keuntungan ratusan juta rupiah. Hasil usaha pada tahun 2018 telah mencapai Rp 690 juta lebih. Dari angka tersebut, ia mampu menyumbang pendapatan desa sebesar 30 persen atau lebih dari Rp138 juta. Sedangkan ditahun 2019 lalu, BUMDes berhasil menyumbang ke PADes sebanyak Rp. 145 juta dari laba bersih sekitar Rp. 550 juta-an.
‘’Laba ini disumbangkan dari berbagai unit usaha seperti minimarket maupun air isi ulang, serta sektor produksi dengan pupuk kompos, budi daya ikan lele maupun pembuatan mesin cacah kelapa sawit sebagai komoditas,’’ terang Direktur BUMDes Karya Bersama, Zufita SPd- gadis yang masih berusia 25 tahun itu.

BUMDes Mart salah satu unit usaha BUMDes Karya Bersama

Dikatakannya, dalam mengelola BUMDes ini bukan tanpa kendala. Diawal pembentukan 2015, pengurus sempat ada yang mengundurkan diri. Selanjutnya yang tersisa berjibaku memajukan BUMDes. Lalu memulai usaha lele, dan juga sempat rugi.
‘’Tapi itu menjadi pelajaran berharga bagi kami dan membuat kami bangkit,’’ terang jebolan FKIP Unja Prodi Fisika ini.
Berkat usaha BUMDes ini jugalah katanya, desa Delima berhasil mengurangi pengangguran. Dari semua unit usaha yang dijalankan, tahun 2017, BUMDes sudah mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 80 orang. Sehingga pada tahun 2018, penyerapan tenaga kerja meningkat menjadi 151 orang.

Ibu-ibu warga desa Delima yang bekerja di unit usaha BUMDes bidang pertanian

‘’Kini jumlah karyawan yang bekerja di BUMDes bertambah banyak dengan dibukanya dua unit usaha BUMDes Mart pada bulan Januari 2019 yang menyerap 7 tenaga kerja dengan keuntungan sebesar Rp. 2,8 juta tahun ini,’’ terangnya.
Dari unit usaha pupuk kompos sendiri, para pekerja harian mendapat gaji mulai dari Rp 80.000 sampai Rp 100.000 per hari, tergantung jenis pekerjaan. Jika dalam satu bulan mereka bekerja secara penuh, maka penghasilan warga berkisar antara Rp 2,4 juta sampai Rp3 juta per bulan. Kini desa Delima yang merupakan pemekaran wilayah dari Desa Purwodadi itu sudah tak lagi menjadi desa tertinggal seperti sebelumnya. Semuanya berkat usaha BUMDes yang dijalankan di desa tersebut. Bahkan tak tanggung-tanggung, BUMDes desa ini pernah berhasil meraih prestasi menjadi salah satu BUMDes terbaik tingkat Nasional pada tahun 2018. Semoga banyak BUMDes di Jambi yang mengikutinya.

“Saya berterima kasih ke pak Kades, Sekdes, aparatur desa dan masyarakat serta PT WKS yang membantu pengembangan BUMDes ini. Berkat dukungan merekalah kita bisa besar” tukasnya. (arm)

Karyawan BUMDes bidang usaha pupuk kompos

 

REALISASI DAN FUNGSI:MENELAAH POTENSI ZAKAT DI INDONESIA

Oleh: Dr. H.M.UMAR YUSUF.M.HI*

Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia ternyata memiliki potensi zakat terbesar pula. Berdasarkan hasil penelitian IPB yang bekerjasama dengan BAZNAS Indonesia memiliki potensi 217 triliun dari hasil pengumpulan zakat setiap tahunnya. Hasil riset ini tentu mencengangkan.

Jika kita bandingkan dengan potensi zakat di beberapa negara Islam tentunya potensi kita jauh lebih besar. Pada tahun 2000 dan 2002, potensi zakat di Jordania, Kuwait dan Mesir sangat kecil. bahkan dapat diabaikan karena sangat tidak signifikan.
Selanjutnya, potensi zakat Arab Saudi mencapai 0,4 persen-0,6 persen dari total GDP mereka. Khusus untuk Pakistan, potensi zakat mencapai 0.3 persen dari GDP, dan Yaman memiliki potensi hingga 0,4. Jika dilihat sekilas, nampak bahwa potensi zakat masih sangat kecil. Sedangkan potensi zakat Indonesia mencapai Rp19 triliun atau 0,95 persen.
Jika kita menggunakan asumsi bahwa potensi zakat adalah sama dengan 2,5 persen, menemukan bahwa potensi zakat Turki mencapai angka 5,7 miliar dolar AS. Sedangkan potensi zakat Uni Emirat Arab dan Malaysia masing-masing sebesar 2,4 miliar dolar AS dan 2,7 miliar dolar AS. Total potensi zakat seluruh negara-negara Islam minus Brunei Darussalam adalah sebesar 50 miliar dolar AS. Dari sisi realisasi, secara umum dana zakat yang berhasil dihimpun oleh masing-masing negara masih sangat kecil.
Indonesia sebagai contoh, hanya mampu menghimpun 800 miliar rupiah pada tahun 2006 lalu, atau 0,045 persen. Malaysia pun pada tahun yang sama hanya mampu mengumpulkan 600 ringgit, atau sekitar 0,16 persen. Dari data riset ini menunjukkan betapa Indonesia masih unggul dari hasil pengumpulan diantara negara-negara besar Islam di dunia.
Meskipun Indonesia memiliki potensi zakat hingga 217 trilun pertahunnya, namun faktanya pada tahun 2010 BAZNAS hanya mampu mengumpulkan sekitar 1,5 triliun saja dan meningkat pada tahun 2012 hingga 1,7 triliun meskipun telah diprediksikan mencapai 2 triliun, namun hasil itu belum mencapai target. Perolehan hasil zakat yang diperoleh 1,7 triliun itu jika benar-benar dikelola dengan baik dan tepat sasaran pasti akan mampu mengentaskan kemiskinan, paling mengurangi. Sejumlah riset telah membuktikan pengaruh zakat dalam perekonomian, terutama terkait dengan upaya pengentasan kemiskinan.
Kita bisa melihat program zakat di Pakistan mampu menurunkan kesenjangan kemiskinan dari 11,2 persen menjadi 8 persen. Begitupula peran zakat dalam mengurangi angka kemiskinan dan kesenjangan pendapatan di Malaysia. Dengan mengambil sampel negara bagian Selangor. Hal Ini menunjukkan bahwa pengelolaan zakat yang baik dan terencana mampu mengentaskan kemiskinan, paling tidak menguranginya. Kita bisa melihat sejarah pada masa kejayaan Umayyah pada masa kekhalifahan Harun al-Rasyid dimana khalifah sulit sekali mencari mustahiq(penerima zakat) lantaran sulit mencari orang yang miskin. Kas negara diperoleh dari uang zakat.
Pertanyaannya, apakah lembaga amil zakat yang dikelola oleh pemerintah benar-benar memiliki program pengentasan kemiskinan yang tepat sasaran? Apakah zakat yang diberikan hanya dalam bentuk mata uang ataukah dikelola lebih produktif.
Saya berpendapat alangkah lebih efektifnya sekiranya dana zakat itu dipergunakan sebagai (1) Social Guarantee: masyarakat miskin diberikan jaminan kesehatan untuk berobat atau mendapatkan pelayanan pendidikan; (2) Social Safety, dana zakat juga dipergunakan untuk membantu korban bencana alam, kebakaran, banjir dan lain-lain. (3) Social Insurance, zakat memberi ruang harapan bagi masa depan terutama kelompok faqir miskin akan kesejahteraannya di hari tuanya. Kalau kelompok kaya bisa merencanakan masa depan karena adanya kekayaan yang ada ditangannya, bagaimana dengan kaum miskin akan harapan masa depannya.
Apakah hal itu mungkin? Ya, mungkin saja! Tidak usah dulu dana zakat yang berjumlah 1,7 triliun itu, jika infak yang digali bisa mencapai 10 persen saja, maka potensi dana yang dapat dihimpun akan mencapai angka 200 miliar dolar AS, setara dengan total asset yang dimiliki oleh IMF. Wow..! (bersambung)

*Dosen UIN STS Jambi dan Prodi Ekonomi Syariah STAI Ahsanta Jambi

Bahas Investasi Syariah, Prodi Ekonomi Syariah STAI Ahsanta Seminar Nasional

0

JAMBI – Dalam rangka membahas tentang peluang investasi syariah, Prodi Ekonomi Syariah STAI Ahsanta Jambi menggelar seminar nasional pada hari Jum’at (13/12) kemarin. Kegiatan ini menghadirkan pembicara dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bursa Efek Indonesia dan PT Phintraco Securitas. Hadir membuka acara tersebut Wakil Walikota Jambi, Dr dr H Maulana MKM.

BEDAH : Seminar Nasional Investasi Syariah yang digelar oleh Prodi Ekonomi Syariah STAI Ahsanta Jambi dihadiri oleh Wakil Walikota Jambi, Dr dr H Maulana MKM

Dalam sambutannya, Maulana mengharapkan kegiatan ini dapat bermanfaatkan bagi masyarakat, khususnya mahasiswa STAI Ahsanta Jambi. ”Terlebih ini membahas tentang investasi syariah. Saya berterima kasih juga kepada Prodi Ekonomi Syariah yang telah melaksanakan kegiatan ini,” tuturnya.

Sementara itu, dari pihak BEJ, Riena menyampaikan bahwa investasi itu sangat penting. Mengingat, kita akan menghadapi hari tua. ”Bayangkan kalau hari tua kita tanpa investasi, jadi belajarlah berinvestasi dari hari ini,” tegasnya.

Sedangkan dari PT Phintraco Securitas, Ivan menyampaikan untuk berinvestasi di saham syariah ada dua pilihan. Bisa dilakukan dengan cara trading, dan bisa juga dengan investasi. ”Kalau trading artinya menjual dan membeli, dan kalau investasi, kita beli saham untuk jangka waktu yang lama,” terangnya. (arm)

Wakil Walikota Jambi Dr dr H Maulana MKM meninjau Galeri Investasi Syariah didampingi pihak OJK dan PT Phintraco Securitas

Galeri Investasi Syariah Ketiga di Jambi, Kini Hadir di STAI Ahsanta

JAMBI – Siang tadi (11/12) sekitar pukul 13.30 WIB Wajah para dosen STAI Ahsanta Jambi terlihat sumbringah. Mereka berseliweran hilir mudik memasuki ruang Galeri Investasi Syariah STAI Ahsanta Jambi. Sementara kursi kursi yang berada di ruangan tersebut mulai diisi satu persatu oleh para mahasiswa STAI. ”Mana para mahasiswanya pak,” tanya salah seorang staf dari Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jambi. ”Itu mbak,” ungkap  dosen yang menunjuk mahasiswa yang sudah duduk di kursi.

Wakil Ketua I STAI Ahsanta, Saidina Usman, didampingi Ketua LPM, Fahmi Rohim, bersama PT Phintraco Sekuritas, Ivan Chandra, Manager PT BEI, Kriswitaluri, dan pihak OJK Provinsi Jambi, Septarini Geminastitie meninjau simulasi bursa efek

Kesibukan siang tadi di kampus STAI Ahsanta Jambi memang cukup tinggi. Maklum, ada acara cukup penting yang dihadiri secara langsung oleh Manager PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kriswitaluri. Selain itu juga, hadir Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Jambi yang diwakili Septarini Geminastitie, Head of Business Development PT Phintraco Sekuritas Jakarta, Ivan Chandra P, Kepala BEI Perwakilan Jambi, Fasha Fauziah dan Ketua STAI Ahsanta Jambi Dr dr Hj Nadiyah Maulana SPoG yang diwakili Wakil Ketua I STAI Ahsanta Jambi, Saidina Usman El Quraesy MFill. Acara yang cukup monomental itu yakni peresmian Galeri Investasi Syariah yang ketiga di Jambi, setelah UIN STS Jambi dan IAIN Kerinci.
Peresmian Galeri Investasi Syariah ini diawali dengan pengguntingan pita oleh Manager PT BEI, Kriswitaluri bersama  Direktur Utama PT Phintraco Sekuritas diwakili Ivan, dan Ketua STAI Ahsanta Jambi diwakili Saidina Usman.  Lalu acara dilanjutkan dengan rangkaian seremonial lainnya, dimulai dengan pembacaan ummul qur’an oleh ustadz Zulfajri, pembacaan Kalam Ilahi oleh Mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah STAI Ahsanta, Serly Oktavia,  lalu sambutan-sambutan yang dimulai dengan sambutan Ketua STAI Ahsanta Jambi. Dalam hal ini diwakili oleh Wakil Ketua I, Saidina Usman.

Pada sambutannya,  Usman mengharapkan keberadaan galeri investasi syariah (GIS) ini bisa dimanfaatkan semua civitas akademika. Dan GIS ini merupakan wahana tempat belajar dan berinvestasi bagi para mahasiswa STAI khususnya, dan masyarakat umumnya.

MoU yang dilaksanakan antara STAI Ahsanta Jambi, PT BEI Indonesia, dan PT Phintraco Securitas

”Soal kehalal-an berinvestasi di bursa saham, itu sudah jelas dengan kata-kata Syariahnya. Dan ini tentu sudah melalui kajian akademis dan tidak diragukan lagi. Saya kira, GIS  ini bukan hanya untuk belajar mahasiswa, tetapi juga untuk para dosen disini, bagaimana cara berinvestasi di bursa saham,” ucap alumni UTM Malaysia ini.
Disamping itu lanjutnya, kampus ini memiliki prospek perkembangan kedepan yang cukup baik. Meski baru 9 tahun berdiri, STAI Ahsanta Jambi tidak berapa lama lagi akan beralih status menjadi Institut Agama Islam Muhammad Azim. Dan dari banyak STAI yang ada di Jambi katanya, STAI Ahsanta mendapat kesempatan berubah status menjadi IAI Muhammad Azim. Dan perkembangan proses alih status tersebut lanjutnya, sudah sampai ke Sekjen Kementerian Agama RI. ”Dibawah binaan bapak Wakil Walikota Jambi, bapak Maulana, kampus ini akan terus berkembang kedepannya, bahkan akan menjadi universitas. Keberadaan GIS ini tentu akan menunjang searah dengan perkembangan kampus kedepan,” ucap putra Merangin yang juga Ketua PW Lazis NU Provinsi Jambi ini.
Sementara itu, Ivan dari PT Phintraco Securitas menyampaikan, untuk berinvestasi dan memiliki saham hari ini sangat mudah dan murah. Seseorang yang ingin menabung saham cukup merogoh kocek Rp. 100.000 rupiah. ”Bayangkan kalau kita ingin memiliki saham Garuda, 1 lot cukup modal kisaran Rp. 40.000 – 50.000 rupiah. Jika kita selama ini hanya menikmati pelayanan pesawat Garuda, dengan modal yang demikian, kita sudah bisa mempunyai kepemilikan atas saham Garuda,” terangnya.
Sedangkan Manager PT BEI, Kriswitaluri menyampaikan berinvestasi sangatlah penting untuk hari tua. Saat ini lanjutnya, berinvestasi tidak sesulit dulu. Jika dulu untuk berinvestasi di bursa saham butuh uang Rp. 25 juta. Tetapi hari ini, dengan modal Rp. 100.000, semua orang bisa berinvestasi di pasar modal.
”Dan jumlah 1 lot pun semakin berkurang. Dulu 1 lot sebanyak 500 saham, sekarang hanya 100 lembar saham. Makanya, jika mau berinvestasi saham di perusahaan Garuda misalnya sudah cukup murah,” terangnya.
Keberadaan galeri investasi ini lanjutnya, diharapkan bisa meningkatkan jumlah investor di pasar saham di Indonesia, khususnya yang berasal dari Jambi. Selama ini lanjutnya, banyak orang asing yang berinvestasi di bursa saham Indonesia. ”Masak kita jadi penonton saja, dan lebih dari 70 persen saham yang diperdagangkan di Bursa Efek adalah saham syariah,” tandasnya. Pada peresmian Galeri Investasi Syariah ini juga dilakukan MoU antara STAI Ahsanta dan PT BEI serta PT Phintraco Securitas. Dan acara diakhiri dengan do’a.  (arm)

Tukar Cendramata antara STAI Ahsanta Jambi dan PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta

Masyarakat Datuk Nan Duo Batang Asai Nikmati Manfaat Dana Desa

SUPERVISI : Babinkamtibmas Desa Datuk Nan Duo Kecamatan Batang Asai, meninjau pembangunan kegiatam DD 2019, P2DK dan Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) Jambi

SAROLANGUN – Digulirkannya dana desa (DD) hingga ke Desa Datuk Nan Duo Kecamatan Batang Asai Sarolangun dirasakan positifnya di masyarakat.

Sinwan warga domisili RT 11 Desa Datuk Naan Duo, mengatakan, selama ada alokasi dana desa berdampak bagi peningkatan perekonomian masyarakat.

Selain tersedianya lapangan kerja dari pelaksanaan pembangunan yang menyerap tenaga kerja lokal, hasil pembangunan terutama akses infrastruktur dalam rangka peningkatan ekonomi terpenuhi.

“Tersedia sarana olahraga, sebagai upaya hidup sehat kedepan dapat lebih baik lagi,” ujarnya.

Menurutnya, terpenuhinya sarana penyediaan penunjang aktivitas masyarakat tidak terlepas dari respons Pemerintah Desa dalam merealisasikan dana desa. “Kini kita masyarakat tidak direpotkan lagi, akses jalan ke kebun lambat laun terpenuhi, penerang jalan sudah ada. Dan fasilitas olah raga telah dibangun,” katanya.

Kades Datuk Nan Duo Sihopni, mengaku, beberapa pekerjaan pembangun infrastruktur, yang selama ini belum tertutupi telah berangsur angsur dipenuhi. Meskipun ada yang masih menjadi pekerjaan rumah dan akan dirampungkan.

“Tugas kita hanya merealisasikan saja, sesuai ketepatan yang diusulkan di musdes, dan sifatnya kebutuhan mendesak Itu yang kita dahulukan,” katanya.

“Misal usulan masyarakat agar dibangun lapangan voli. Target kita bagaimana lewat olah raga rutin, hidup seimbang dan sehat meningkat. Muara akhirnya kalau sehat, aktivitas perekonmian kan tidak terganggu,” katanya.

Ia merinci, tahun 2019 ini, anggaran Dana Desa (DD) Datuk Nan Duo, dilakokassikan untuk pembangunan Lapangan Bola Voli, Pos Kamling, Drainase, Pembukaan Jalan baru. “Dan gedung PAUD yang tengah dikerjakan,” pungkasnya.

Perempuan Tanpa Aset Tanah

Oleh : Elita Rahmi

Diskriminasi Aset Tanah menjadikan Perempuan Indonesia terpuruk, miskin dan terancam dari kehidupan sosial lainnya, mereka menjadi figure yang kurang diperhitungkan dalam strata masyarakat desa, tidak diikutkan dalam pengambilan keputuskan, karena dari segi ekonomi, pendidian dan akses tanah mereka terpendal dari struktur negara khususnya persoalan pendaftaran tanah, yang tidak peduli dengan akses tanah terhadap perempuan.
Perempuan tanpa Pekerjaan, Perempuan tanpa tanah dan perempuan tanpa akses Sumber daya Alam sinomin dengan perempuan miskin structural . Keadaan ini berlangsung lama, akibatnya Indonesia sulit keluar dari kemiskinan turun temurun yang selama ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) Bersama bangsa Indonesia.
Perempuan tanpa asset diawali dari sistim budaya kelaki-lakian (patriakhi) yang demikian kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia baik di pedesaan dan perkotaan. Perempuan Indonesia tanpa sadar dan mungkin dengan sengaja kurang peduli bahwa lemahnya akses perempuan terhadap Sumber Daya Alam termasuk Tanah menyebabkan, tingginya angka urban perempuan desa hijrah ke kota ,akibat kehilangan pekerjaan dan mata pencahariannya di desa. Desa di kampung halamannya dikuasai oleh laki-laki, baik itu suami maupun kemenakan, sehingga ketika terjadi malapetaka keluarga, perempuan desa terpaksa harus pergi ke kota untuk menjadi Wanita Tuna Susila (WTS) atau Tenaga Kerja Wanita ke luar Negeri (TKW) dan skill yang sangat terbatas.
Perempuan tanpa asset tanah juga disebabkan berubahnya tehnologi pertanian Indonesia dari yang sederhana, cangkul dan parang, arit diganti dengan mesin-mesin besar sehingga perempuan kehilangan akses, kesulitan ketika mengunakan mesin-mesin besar untuk mengolah tanah yang disewa atau gadai atau pinjam pakai tanah desa, atau tanah keluarga sehingga penggaguran perempuan desa meningkat tajam.
Perempuan tanpa asset tanah telah menjadi suatu mata rantai besar yang menyebabkan ekonomi negara terhambat, karena hilangnya kebutuhan primer manusia yakni papan atau rumah yang dibangun di atas tanah. menjadi penumpang gelap atas tanah yang ada,sehingga persoalan keadilan gender bidang pertanahan menempatkan perempuan Indonesia sulit keluar dari kemiskinan structural akibat kewajiban negara untuk membuka akses terhadap hak atas tanah bagi perempuan Indonesia belum menjadi agenda besar bagi Negara dan bangsa Indonesia.
Perempuan Tanpa Tanah
Fakta menunjukkan subyek tanah perempuan atau sertipikat tanah yang mengunakan nama perempuan baik sebagai istri atau sebagai anak atau sebagai anggota keluarga masih tergolong sangat minim, meskipun bagi rumah tangga ekonomi menengah ke bawah, suatu keluarga yang dapat membeli sebidang tanah, biasanya akibat kepandaian (skill) perempuan/istri/ibu yang dapat menyisipkan/menyimpang/ menabung dari kebutuhan keluarga yang serba diirit sang istri, artinya ketika membeli tanah yang diambil atau di buka adalah perhiasan istri baik itu kalung, cincin atau gelang yang dipakai atau yang disimpan sebagai aset keluarga, namun ketika tanah tersebut beralaskan hak atas tanah , maka yang dipakai sebagai subyek tanah hanya nama suaminya semata, bahkan nama istrinya nyaris tidak dicantumkan dalam sertipikat sebagai surat beharga keluarga, karena sertipikat dipastikan dapat dijadikananggunan diBank, sekaligus modal usaha. Perempuan tanpa tanah akan menjadi persoalan bagi bangsa dan Negara karena akan
berdampak pada konflik yang lebih besar berupa kehilangan akses ekonomi dan kehilanagan keberlangsungan hidup bila kelak terjadi perceraian atau perselisihan keluarga, bahkan untuk keluarga yang mempunyai anak, pada umumnya anak akan diasuh oleh ibunya, sehingga menuntut kebutuhan akan pendidikan, sandang, pangan, kesehatan , padahal ibunya tidak mendapatkan akses tanah atas hasil simpanan keluarga yang dijaga dan dipeliharanya sendiri, Perempuan tanpa tanah belum tersentuh dalam hukum pendaftraan tanah di Indonesia. Kewajiban Negara
Saatnya pemerintah membuka akses tanah bagi perempuan Indonesia, karena hanya dengan jalan tersebut kemiskinan perempuan akan terkikis bahkan akan hilang dari syukur juga dapat mengakses perlindungan anak, di mana nama anak-anaknya dapat dicantumkan dalam harta keluarga, karenanya hukum tanah di Indonesia adalah hukum yang sensitif atau hukum yang kolabotarif antara Hukum Perkawinan, Hukum Waris, Hukum Keluarga dan Hukum Gender, Hukum Perlindungan Anak, dengan demikian, melek akses tanah adalah menempatkan plus mewujudkan perempuan Indonesia dalam keadilan subtantif.
Kita pelototkan kebijakan pemerintah dalam menghimpun data base pendaftaran tanah Indonesia,agar tidak bersalahguna dan mengabaikan akses perempuan atas tanah yanag ada. Bukan waktunya lagi perempuan hanya menjadi penonton Negeri. Saatnya Negara, pemerintah dunia usaha dan masyarakat luas melek terhadap akses perempuan Indonesia atas tanah yang ada dan kita jaga keberlanjutan negeri ini dengan memanfaatkan tanah untuk sebesar-besarnya kemakmuran akyat melalui akses tanah untuk perempuan Indonesia sebagai kado hari Ibu yang jatuh tanggal 22 Desember 2019.Akses tanah perempuan Indonesia menuju keadilan keadilan gender. (Elita Rahmi adalah Pengajar Hukum Agraria dan Hukum Gender di Fakultas Hukum Universitas Jambi)

Wakil Walikota Hadiri Maulid dan Seminar Nasional di STAI Ahsanta Jambi dan Akbid JMS

JAMBI – Wakil Walikota Jambi, Dr dr H Maulana MKM menghadiri kegiatan Maulid Nabi dan Seminar Nasional yang diselenggarakan BEM STAI Ahsanta Jambi bekerjasama dengan Akbid JMS Annisah, Jambi. Kegiatan yang diselenggarakan kemarin ini dimulai dengan Maulid Nabi SAW. Kemudian dilanjutkan dengan Seminar Nasional dengan tema Tantangan Literasi Keislaman di Era Industri 4.0.

Wakil Walikota Jambi mengajak civitas akademika untuk mencontoh akhlak Nabi SAW dan para sahabatnya. Dikatakannya, di zaman Rasulullah SAW ada sekelompok sahabat yang secara khusus belajar kepada Rasulullah yang disebut dengan akhlus suffah.

”Makanya didalam Islam, belajar itu sama dengan berjihad, bahkan pahalanya lebih besar dari berjihad di medan perang. Dan yang mengajari menjadi amal jariyah. Mengingat satu kalimat saja jika diajari ke mahasiswa, kemudian diamalkan mereka, maka amalnya akan terus mengalir sampai akhirat,” ucapnya.

Seminar Nasional Tantangan Literasi Keislaman di Era Industri 4.0

Kegiatan ini sendiri dihadiri Camat Jelutung, Lurah Kebun Handil, Ketua RT dan para dosen serta mahasiswa baik STAI Ahsanta Jambi maupun Akbid JMS. Sementara itu, pada Seminar Nasional Wakil Ketua III STAI Ahsanta Jambi, DR Maryadi menyampaikan bahwa saat ini belajar agama sangat mudah. Karena banyak sumber yang bertebaran di dunia maya. ”Hanya saja yang menjadi problem adalah kesulitan mencari guru yang betul-betul memahami Islam, sehingga tidak salah dalam pemahaman,” tegasnya.

Sedangkan Ketua Program Studi Doktor Hukum Islam Universitas Islam Indonesia, Dr Yusdani MAg menyampaikan bahwa di tengah era digital hari ini membuat orang terkadang salah mengambil narasumber belajar Islam. Oleh karena itu, saat ini berani tidak STAI Ahsanta Jambi membuat website yang isinya terkait ajaran Islam tapi bersumber dari guru-guru yang betul memahami Islam.

”Di era industri ini, orang demikian mudah mencari keilmuan Islam lewat media internet, cuma keabsahannya itu kan perlu dipertanyakan,” tegasnya.

Sedangkan Sekretaris Prodi Pendidikan Agama Islam UII, Supriyono  menyampaikan kegelisahan intelektual muslim hari ini adalah merebaknya sumber-sumber keilmuan Islam tapi tidak terkadang disampaikan tidak oleh yang berkompeten. Terkadang muncul ustadz dadakan yang tidak melalui proses belajar di pesantren. ”Ini saya kira tantangan literasi Keislaman di era milenial ini,” tukasnya. (arm)

Wakil Ketua III STAI Ahsanta Jambi, Dr Maryadi Syarif memberikan cenderamata ke Ketua Program Studi Doktor Hukum Islam UII, Dr Yusdani

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Sofyan Ali Tekankan Pentingnya Menjaga NKRI

JAMBI – Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan hasil kesepakatan para pendiri bangsa. Berkat persatuan dan kesatuannya negara ini menjadi kuat dan ini menjadi salah satu pilar dalam kehidupan berbangsa dan negara. Hal ini disampaikan anggota DPR RI/MPR RI Sofyan Ali SH saat acara sosialisasi 4 pilar kebangsaan di kawasan Telanaipura, Kota Jambi tadi siang (29/11).

”Empat pilar kebangsaan tersebut yakni, Pancasila, UU Dasar 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika,” tukas pria yang juga Ketua DPW PKB Provinsi Jambi ini.

Foto bersama dengan peserta sosialisasi yang juga dihadiri anggota DPRD Provinsi Jambi Juwanda, Mantan Ketua DPRD Kota Jambi, Zulkifli Shomad SH, mantan Kades Senaung, Sulaiman dan lain-lain

Dikatakannya, berkat adanya empat pilar tersebut, bangsa ini tidak terpecah belah. Banyak bangsa-bangsa lain sebutnya, terpecah.  Oleh karena itu, empat pilar ini harus dijaga di hati sanubari masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Jambi ini.

”Untuk menjamin kemajemukan dan keragaman berbagai suku bangsa, kita sudah dibekali dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika. Dimana kita memang berbeda-beda, dan perbedaan ini janganlah kita jadikan bekal untuk bermusuhan. Tapi, perbedaan inilah justru harus mempersatukan kita, dengan cara saling toleransi dan menutupi kekurangan kita,” terang pria yang juga anggota Komisi V DPR RI yang bermitra dengan Kementerian PU, Kemendes PDT RI, Kementerian Perhubungan dan lain-lain ini.

Kedepan lanjutnya, keragaman yang ada diantara masyarakat ini harus jadi modal dalam pembangunan bangsa ini. Karena bangsa ini adalah bangsa yang besar, terdiri dari berbagai suku, bahasa, warna kulit dan tentunya juga berbagai agama. Semangat kebersamaan sebagai warga negara harus terus dipupuk dan dilestarikan untuk pembangunan Indonesia kedepan yang lebih maju.

”Makanya di dalam agama ada hadist yang berbunyi, mencintai negara adalah sebagian dari Iman. Cintailah negara ini, dan bumi pertiwi ini, dan disinilah tempat kita bernaung, merangkak dari kecil hingga dewasa, dari dewasa hingga hari tua nanti,” ujar salah satu tokoh muda Nahdatul Ulama (NU) ini. (arm)

Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang disampaikan oleh anggota DPR RI/MPR RI, Sofyan Ali SH dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa

Buka Rakornas PID 2019, Menko PMK Singgung “4 C dan Teori Makan Bubur”

Menko PMK Prof Muhadjir Efendy menghadiri sekaligus membuka Rakornas PID tahun 2019 di Jakarta, Senin (25/11/2019).

JAKARTA- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Prof Muhadjir Effendy, didaulat membuka kegiatan Rapat Kerja Nasional Program Inovasi Desa yang digelar Kementerian Desa PDTT, Senin (25/11) di Jakarta. Kegiatan Rakornas PID berlangsung pada 24-27 November 2019.

Saat membuka Rakornas PID 2019, Menko PMK mengapresiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) yang memberikan perhatian signifikan terhadap pengembangan inovasi desa. Menurut Muhadjir, program inovasi desa atau PID, adalah terobosan baru yang dapat dilakukan untuk memajukan desa di seluruh Indonesia.

“Memang tidak mudah untuk membangun secara simultan, apalagi membangin seluruh desa di Indonesia. Tapi saya yakin, dengan adanya PID dan pemberian penghargaan terhadap karya-karya inovatif seperti ini, saya yakin proses diseminasi dan proses replikasi terhadap praktik-praktik baik desa segera terwujud,” ujarnya.

Dalam mempercepat pembangunan desa, Menko PMK mengatakan, diperlukan semangat yang digelorakan masing-masing desa melalui 4C. Dan 4 C ini menjadi kunci.

Yang pertama, kata Prof Muhadjir, mendorong tradisi critical thinking di masyarakat desa. Masyarakat dan perangkat desa yang berfikir kritis, maka dapat mengkritisi hambatan ataupun kejanggalan di desa masing-masing.

Kedua, creative and innovation. Karya inovatif tak mungkin tanpa didahului berfikir kreatif. Berfikir kreatif tak mungkin tanpa berfikir kritis.

Ketiga, communication skill. Karya kreatif dan inovasi hanya akan berhenti pada penemuannya saja, jika tidak dilanjutkan dengan deminasi, komunikasi, dan mereplikasi kepada pihak lainnya.

Dan yang keempat, collaboration. Dengan gotong royong dapat memberdayakan, meningkatkan, memodernisasi desa-desa di seluruh Indonesia.

Desa, lanjut Menko PMK, dapat dikatakan wilayah periferi atau pinggiran. Ibarat memakan bubur panas, jangan coba-coba hanya memakan bagian tengahnya saja. Karena harus mengambil yang pinggir.

“Intinya membangun desa, pada dasarnya menggunakan teori makan bubur. Dengan cara ini, maka wilayah pusat akan terselesaikan. Dan inilah tanggung jawab Kemendesa untuk membangun wilayah periferi tadi,”ujar Prof Muhadjir.

Menko PMK menegaskan bahwa Presiden Joko Widodo sering kali mengingatkan bahwa dalam membangun harus dengan cara baru. Tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama. Terobosan dan inovasi sangat diperlukan.

“Memang tidak mudah membangun Indonesia dari desa secara simultan. Tapi saya meyakini, melalui praktik inovasi desa akan mempercepat tercapainya amanah UU Desa yakni memajukan hingga memandirikan desa,”tandas Menko PMK. (suci/borni/icham)

Kemendesa Representasikan Komitmen Indonesia untuk Pencapaian SDGs 2030

Sekjen Kemendesa Anwar Sanusi dalam kunjungannya di Korea Selatan pada 20-22 November 2019.

JAKARTA – Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) menyampaikan komitmen Pemerintah Indonesia dalam Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Hal tersebut diutarakan oleh Sekretaris Jenderal kemendesa, PDTT, saat menyampaikan keynote speech-nya pada High Level Session Symposium on “Leveraging Public Governance to Accelerate the Achievement of the Sustainable Development Goals – Transformation, Innovation & Inclusion”, 20 – 22 November 2019, di Incheon, Korea Selatan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA).

Dalam kesempatan tersebut, Anwar memaparkan komitmen Pemerintah Indonesia dalam pencapaian SDGs tersebut dapat dilihat dalam telah disusunnya Roadmap SDGs Indonesia dan pengarusutamaan agenda-agenda 2030 dalam Rencana Pemnbangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2014 – 2019.

“Selain itu, Indonesia juga termasuk salah satu dari sejumlah negara yang telah melakukan Voluntary National Review, di mana laporan evaluasinya telah diterbitkan secara berkelanjutan,” ungkap Anwar lebih lanjut dalam keynote speech-nya.

“Salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah dengan dibentuknya Kementerian Desa, PDTT untuk memastikan terlaksananya pembangunan perdesaan sebagai salah satu focus pembnagunan nasional saat ini,” papar
Anwar lebih lanjut dalam speech-nya.

Selain menyampaikan keynote speech pada High Level Session symposium tersebut, Anwar juga diminta untuk menjadi salah satu pembicara pada Plenary Session IV – Inclusive Governance and Leaving No One Behind to Accelerate SDG Implementation simposium yang sama.

Di samping keynote speech dari Sekretaris Jenderal Kemendesa PDTT, High Level Session symposium UN DESA tersebut juga menghadirkan official remarks dari Menteri Dalam Negeri dan Keamanan Korea, Chin Young, Wakil Sekjen PBB untuk Urusan Sosial Ekonomi, Liu Zhenmin, serta welcome remarks dari Walikota Incheon Metropolitan City, Park Namchoon dan special address dari mantan Sekjen PBB, Ban Ki-moon.

Anwar berada di Korea Selatan, didampingi oleh Direktur Jenderal Pengembangan Daerah Tertentu, Rr. Aisyah Gamawati.

Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, adalah kumpulan 17 tujuan pembangunan global, yang dirancang sebagai suatu “cetak biru bagi pencapaian masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi semua orang”. Ini telah disepakati oleh para pemimpin dunia pada 25 September 2015 di Markas Besar PBB di New York. (rilis).