Beranda blog Halaman 153

BUMDes “Ikhlas Beramal”

Oleh Mohd Haramen

MENGUNJUNGI dan berbagi cerita dengan para pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Provinsi Jambi, banyak sekali cerita-cerita dan keluh kesah mereka. Ada yang bercerita setelah di SK-kan, tak diberi-beri modal. Ada juga yang bercerita, diberi modal yang sedikit, akibatnya keuntungan yang diraihpun tidak maksimal. Dan yang paling miris adalah cerita, bahwa mereka belum pernah gajian, meskipun BUMDes sudah lama dibentuk.

Untuk cerita yang terakhir inilah yang sering kali ditemui setiap kali kunjungan ke lapangan. Membayangkan mengurus sebuah badan usaha dan tidak digaji, alangkah sedihnya. Tapi, itulah realitas yang dialami kebanyakan pengurus BUMDes yang ada di desa-desa di Provinsi Jambi.

Kalau dalam teori bisnis memang wajar-wajar saja mereka belum gajian. Karena usaha yang mereka jalankan belum menghasilkan keuntungan. Kalau mereka gaji-an tentu nilai kerugian akan membengkak. Ini akan menggerus  sejumlah modal yang disalurkan oleh pemerintah desa. Modal yang disertakan itu  tentunya tidak boleh habis, dan kalau habis harus diganti. Karena dana tersebut adalah uang negara.

Makanya, setiap kali bertemu dengan para pengurus BUMDes, saya  menyebutkan bahwa pengurus BUMDes itu adalah pengusaha, bukan pekerja. Kalau pengusaha dia menciptakan gaji, kalau pekerja dia menerima gaji. Jadi, kalau ingin jadi pengurus BUMDes, bermentallah seperti pengusaha.  Pengusaha tidak pernah minta digaji, tapi pengusaha menciptakan gaji untuk dirinya dan juga orang lain.

Untuk menciptakan gaji ini  tentunya, pengurus BUMDes tidak bisa tanpa didukung aparatur desa, terutama kepala desa. Seluruh potensi  belanja desa harus didukung untuk dikelola BUMDes. Kepala desa sebagai ex officio Komisaris BUMDes juga harus punya komitmen untuk memajukan BUMDes.

Mayoritas yang menjadi kendala  pengurus BUMDes untuk menciptakan gaji ini adalah modal dan dukungan pemerintah desa. Ada pemerintah desa yang terkesan setengah hati untuk memajukan BUMDes. Potensi belanja desa yang miliaran dalam setahun, tidak dibelanjakan lewat BUMDes dengan berbagai alibi. Modal yang dikucurkan juga kadang sangat sedikit. Bagaimana mungkin dengan modal yang kecil akan dapat keuntungan yang besar ? Selain itu, terkadang juga aset-aset desa yang bernilai ekonomi tidak diserahkan pengelolaannya ke BUMDes. Akhirnya, BUMDes  tidak bisa maju dan berkembang. Jangankan memberikan PADes, memberikan gaji untuk dirinya sendiri pun tidak bisa.

Kedepan, kedigdayaan BUMDes ini akan diuji. Memasuki tahun ke enam pemberlakuan UU No 6 Tahun 2014 tentang desa, BUMDes diharapkan bisa menjadi motor penggerak ekonomi desa. Selain itu juga sebagai stabilator harga di wilayah pedesaan. Untuk itu, dukungan semua pihakpun sangat diharapkan. Baik itu dari sisi manajemen, kualitas SDM hingga permodalan. BUMDes tidak akan maju, tanpa ada dukungan semua pihak, termasuk pemerintah daerah. Melalui BUMDes, kita mewujudkan desa Surga di Provinsi Jambi. Dan tentunya harapan kedepan, tidak ada lagi istilah jadi pengurus BUMDes harus ikhlas beramal.

(Penulis adalah Tenaga Ahli Pengelolaan Keuangan Desa dan Pengembangan Ekonomi Lokal Kemendes PDT RI untuk Provinsi Jambi)

 

Sofyan Ali : Soal Pembangunan Ujung Jabung Tak Ada Kata Mundur

Pemerintah Pusat dan Pemda Diminta Serius Mendukung

JAMBI – Lama terbengkalai, kini pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung bakal digenjot kembali. Berbagai langkah telah diambil oleh Anggota DPR RI yang berasal dari Jambi.  Salah satunya oleh Anggota DPR RI/MPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Sofyan Ali SH.

Bersama dengan rekannya di Komisi V, Sofyan Ali SH sekitar tanggal 5 Januari 2020 lalu, sudah melihat dari dekat kondisi pelabuhan Ujung Jabung. Dan ternyata, pembangunan pelabuhan ini sudah lama mandeg. Padahal, mulai dibangun tahun 2011.

Lalu, pada paripurna HUT Provinsi Jambi 6 Januari 2020, Sofyan Ali SH bersama anggota DPR RI dapil Jambi yang duduk di Komisi V juga ikut menandatangi kesepakatan dengan Pemerintah Provinsi Jambi untuk membangun kembali pelabuhan Ujung Jabung.

Dan baru-baru ini, pada Jum’at, 17 Januari 2020, Sofyan Ali ikut rapat koordinasi (Rakor) terkait pembangunan fasilitas pelabuhan laut di Provinsi Jambi dengan Direktorat Kepelabuhan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut bertempat di BW Luxury Hotel.

Pada rapat tersebut, dengan lantang Sofyan yang juga Ketua DPW PKB Provinsi Jambi meminta semua pihak untuk serius mendukung pembangunan pelabuhan Ujung Jabung itu.

Menurut Sofyan yang juga mantan aktivis mahasiswa itu, tak  ada istilah mundur untuk pembangunan pelabuhan Ujung Jabung.

“Daerah lain bisa kok masak Jambi tidak bisa, kita lihat di daerah Bintan kalau kita mau lihat berapa jumlah penduduk disana, tapi dana pusat mengalir triliunan ke sana, sedangkan Jambi yang mempunyai jumlah penduduk jauh di atas Bintan persentasenya anggaran yang turun dari pemerintah pusat sangat kecil,’’ tegas dengan nada serius.

Jadi katanya, kalau ditarik dari sisi garis pemerintahan dimana letak keadilan anggaran. Oleh karena itu lanjutnya, pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung harus serius didorong. ‘’Pemda harus menopang Ujung Jabung. Ujung Jabung tidak bisa ditinggalkan, pembangunan Ujung Jabung harus didorong, “ ujar tokoh muda Nahdatul Ulama ini.

Hal senada juga disampaikan anggota DPR RI dari Komisi V, Hasan Basri Agus (HBA). Dikatakannya,  para pihak tidak boleh mundur dalam proses pembangunan pelabuhan Ujung Jabung tersebut.

“Ujung Jabung akan kita lanjutkan, kita pengen Jambi besar,’’ tegas mantan Gubernur Jambi ini.

Dia sendiri membenarkan apa yang disampaikan oleh Sofyan Ali. Dia menyebutkan, kalau berkunjung ke daerah lain, banyak anggaran yang digelontorkan, tapi anggaran untuk Jambi sangat kecil.

SERIUS : Anggota DPR RI/MPR RI, Sofyan Ali SH (dua dari kiri,red) saat Rakor Bersama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, di BW Luxury Hotel baru-baru ini

‘’Kita sudah ada MoU, soal kapan selesai bukan soal, tapi harus dilanjutkan. Kita bertiga (Sofyan Ali, H. Bakri, Hasan Basri Agus, red) sudah sepakat tidak akan mundur lagi tentang kelanjutan pembangunan Ujung Jabung,” terangnya.

Dalam rapat yang melibatkan pemkab Muarojambi, Tanjab Barat, dan Tanjab Timur ini, ternyata diketahui, pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung terkendala hibah lahan dari 12 hektare yang dibutuhkan saat ini baru terealisasi seluas 6 ha yang sudah dibuatkan sertifikat. Namun sebagian lagi masih berbentuk sporadik.  Dan dari perwakilan Pemprov Jambi dan kabupaten siap membantu sepenuhnya pembangunan kembali Pelabuhan Samudra, salah satunya akan membangun jalan sepanjang 42 KM. Bahkan Pemprov Jambi sudah menggelontorkan sekitar 200 Miliar untuk pembangunan pelabuhan. Terakhir tahun 2019, Pemprov Jambi menggelontorkan dana 30 Miliar untuk pembebasan lahan. Bahkan untuk tahun 2020 ini kembali dianggarkan untuk pembebasan lahan. Tidak hanya itu, Pemprov Jambi sudah memeprsiapkan sekitar 4.200 hektar lahan untuk pengembangan kawasan ekonomi.

Dirjend Perhubungan Laut Agus H.P meminta kepada jajaran Pemrov Jambi dan kabupaten untuk mendukung sepenuhnya, dengan mepersiapkan semua dokumen, legalitas, dan berkas lainnya. “Misalnya yang dibutuhkan lahan siapkan lahan, yang dibutuhkan sertifikat siapkan semua, jadi kita tinggal enak berjuang sama-sama, jadi kalau kita mati-matian dan anggota dewan yang berjuang sendiri di pusat tapi tidak didukung dari daerah percuma,” kata Agus kepada peserta rakor.

Dirjend juga sepakat untuk memperjuangkan kelanjutan pembangunan Pelabuhan Ujung Jabung. “Saya datang untuk mendukung. Jadi siapkan semua berkas dan kebutuhan yang ada, kami dukung full. Ayo pemda harus dukung, matang perencanaan, ” pungkasnya. (mcsa)

KOMITMEN : Anggota DPR RI/MPR RI Sofyan Ali bersama Hasan Basri Agus (HBA) saat meninjau kondisi pelabuhan Ujung Jabung

Prodi Ekonomi Syariah STAI Ahsanta Ikuti Gathering Galeri Investasi

0

JAMBI – Program Studi Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ahsanta Jambi mengikuti kegiatan Gathering Galeri Investasi Provinsi Jambi 2020. Kegiatan ini digelar oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Swisbell Hotel Jambi, Kamis (16/1). Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala PT BEI Perwakilan Jambi, Fasha Fauziah dan para Ketua Galeri Investasi dari sejumlah perguruan tinggi se Provinsi Jambi.

Fasha dalam sambutannya menyebutkan bahwa saat ini di Jambi sudah 12 galeri investasi. Dan ini mengalami perkembangan dari tahun 2018 yang hanya 10 galeri.

”Dua galeri investasi yang lahir tahun 2019 yakni galeri investasi di Politeknik Jambi dan STAI Ahsanta Jambi,” tuturnya.

SUKSES : Peserta Galeri Investasi (GI ) Gathering Provinsi Jambi 2020 yang di Swissbell Hotel Jambi.

Dirinya menyebutkan, selama 2019 PT BEI telah menyelenggarakan kompetisi 10 Days Challenge dan Galeri Investasi BEI Award. Untuk Galeri investasi yang diberikan penghargaan ini katanya yakni yang memiliki investor terbanyak, transaksi tertinggi, kegiatan terinteraktif, dan Program Inovasi terbaik.

”Saya berharap tahun 2020 ini ada galeri investasi yang mendapat penghargaan tersebut,” tegasnya.

Sekretaris Prodi Ekonomi Syariah, Salmia SE ME menyebutkan, satu-satunya kampus Islam swasta yang memiliki Galeri Investasi Syariah hanya STAI Ahsanta Jambi. Dirinya berharap, keberadaan galeri investasi ini selain bisa tempat belajar mahasiswa STAI Ahsanta, juga meningkatkan pengetahuan mahasiswa terkait dengan investasi syariah.

”Kan sekarang ada macam-macam investasi, jangan sampai kita terjebak kepada investasi bodong,” tukas alumni Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini. (arm)

Refleksi 6 Tahun UU Desa, Di Jambi Sebanyak 1113 BUMDes Berdiri

Oleh Mohd Haramen

HARI ini tanggal 15 Januari 2020,  tepat enam tahun lalu Undang – Undang No 6 Tahun 2014 tentang desa di sahkan oleh DPR RI.  Dengan pemberlakuan UU Desa tersebut memberikan legitimasi kewenangan kepada desa dalam mengatur wilayahnya sendiri dan tetap memegang dasar negara UU Dasar 1945. Seiring pemberlakukan UU Desa ini, tahun 2015 mulailah digulirkan bantuan langsung keuangan negara melalui Dana Desa. Dimana dana desa ini dianggarkan lewat Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) lalu disalurkan ke Rekening Keuangan Daerah lalu masuk ke rekening desa.

Pola penyalurannya ini diatur dengan seperangkat regulasi dari Kementerian Keuangan RI dengan leading sektornya Kementerian Desa dan PDTT. Untuk tahun 2020 ini, penyaluran dana desa ini dilakukan dengan tiga tahapan. Mulai tahap pertama 40 persen, lalu kedua 40 persen dan ketiga 20 persen. Untuk tahap pertama mulai dicairkan bulan Januari dan paling lambat Juni. Sedangkan tahap kedua mulai dicairkan Maret dan paling lambat Agustus. Sedangkan tahap ketiga yakni bulan Juli paling cepat dengan syarat realisasi belanja tahap II 90 persen dan keluarannya minimal 75 persen dan juga menyertakan laporan penanganan stunting.

Saat ini syahwat untuk pembangunan desa demikian tinggi. Karena sistem penganggaran yang bersifat bottom up. Dimulai dari penyusunan RKP hingga penetapan APBDes lewat musyawarah di desa. Sehingga desa bisa merencanakan pembangunan sesuai dengan aspirasi warganya.

Di Provinsi Jambi, sejak tahun 2015 hingga sekarang, sudah banyak sekali capaian realisasi pembangunan yang bersumber dari dana desa. Dibidang infrastruktur saat ini sudah ada 4,9 KM jalan desa yang terbangun. Selain itu, ada 32,8 ribu meter jembatan, 185 unit pasar desa, 4.456 PAUD, 218 Polindes, 509 Posyandu dan banyak lagi infrastruktur lain, termasuk irigasi, turab dan sebagainya.

Dibidang ekonomi sendiri, saat ini dari 1399 desa di provinsi Jambi, sudah terbentuk 1033 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Bahkan saat ini sudah ada BUMDes yang bisa menghasilkan laba hingga ratusan juta rupiah yakni di Desa Delima, Kabupaten Tanjungjabung Barat. Dari BUMDes ini kedepan diharapkan bisa memandirikan desa lewat Pendapatan Asli Desa (PADes) yang dihasilkan. Selain itu, juga diharapkan bisa mengurangi angka kemiskinan, dan penganguran.

Berkat sentuhan dingin Kementerian Desa dan PDTT, pembangunan di desa telah menunjukan hasil yang cukup positif. Desa saat ini terus membangun dan berbenah dalam persiapan menyambut perubahan zaman.  Memasuki tahun keenam ini, Kementerian Desa berusaha mewujudkan desa surga dimana-mana. Semoga saja lewat pendampingan desa yang berkelanjutan, kemandirian desa segera terwujud.

(Penulis adalah Tenaga Ahli Madya Pengelolaan Keuangan Desa dan Pengembangan Ekonomi Lokal Kemendes PDT RI untuk Provinsi Jambi)

Mimpi Industri Sawit Jambi

Oleh Mohd Haramen

DUA hari yang lalu, saya bertemu dengan petani sawit di kabupaten Tanjungjabung Barat, sebut saja namanya Tarto. Pria paru baya ini mengaku saat ini harga sawit melambung tinggi, tapi sayang buah yang dihasilkan minim. Bahkan katanya, harga saat ini sudah diatas Rp. 2000-an per Kg Tandan Buah Segar (TBS). Saat sawit harganya murah katanya, buahnya banyak. Tapi sebaliknya, saat ini harga tinggi, tapi buah sedikit. Kondisi ini katanya, membuat pendapatan petani tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Situasi seperti ini tentunya terus berlangsung, selama industri kelapa sawit tidak dikembangkan di Provinsi Jambi. Meski provinsi ini memiliki 1,8 juta hektare sawit, tapi pemerintah daerah belum ada yang mengembangkan industri hilirnya. Padahal, seharusnya usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak, harus dikelola oleh pemerintah lewat BUMD misalnya. Sehingga Jambi tidak mengekspor  CPO, tapi sudah ekspor industri turunannya seperti minyak sayur, Mentega, Shampoo  dan lain-lain.  Dengan demikian harga sawit juga semakin meningkat.

Untuk mengembangkan industri sawit ini, jika pemerintah  daerah mau, sebenarnya tidak begitu sulit. Bisa lewat BUMD yang tentunya permodalannya didanai  APBD. Karena industri turunan kelapa sawit ini sepertinya belum banyak dilirik oleh pelaku usaha swasta.

Selain itu juga, pemerintah daerah bisa mendorong desa-desa yang memiliki potensi sawit untuk mendirikan industri turunan kelapa sawit dalam skala kecil lewat BUMDesnya. Mengingat, saat ini sudah berdiri 1113 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Provinsi Jambi. Kalau dibiarkan terus menerus ekspor CPO, harga bisa dipermainkan oleh pengusaha yang berusaha mengeruk keuntungan dalam jumlah besar.  Akhirnya petani sawit juga akan menderita.  Padahal  ada  sekitar  212 833 orang masyarakat Jambi yang menggantungkan hidupnya dari sawit ini.

Harus diakui dan semuanya mungkin tahu bahwa Value addid yang dihasilkan dari ekspor CPO sangatlah kecil, jika dibandingkan dengan barang jadi. Berbeda jika industri turunan CPO ini dikembangkan didesa-desa. Paling tidak, untuk mencukupi kebutuhan minyak goreng, warga desa tidak perlu lagi untuk berbelanja ke kota. Sampai saat ini memang problem ini sepertinya belum  terpecahkan. Padahal daerah ini memiliki potensi sawit yang cukup besar. Bahkan saat ini menjadi primadona di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini.

Wacana untuk mengembangkan industri sawit sebenarnya sudah ada sejak belasan tahun yang lalu. Hanya sampai kini belum juga terwujud. Pihak swastapun hanya  tertarik mengembangkan kebun kelapa sawit saja. Sedangkan untuk industri turunannya tidak dikembangkan. Jika pihak swasta enggan, maka pilihannya adalah mendorong BUMD atau BUMDes yang saat ini sudah ada didesa-desa membuat industri sawit.  Semoga usaha ini bisa tercapai, untuk kemajuan Jambi kedepan.

(Penulis adalah  warga Muaro Jambi)

Terkesima dengan Sabyan, Sedih Pada Jambi

Oleh Mohd Haramen

Alunan suara Nissah Sabyan saat rangkaian acara penutupan peringatan HUT Provinsi Jambi ke 63 Sabtu (9/1) sungguh syahdu. Lagu terbaru yang direlease Sabyan menjadi lagu pembuka saat tampil dipanggung kehormatan yang disaksikan ribuan pasang mata malam itu. Terlebih saat Sabyan menyanyikan lagu Man Ana dengan meminta para penonton menghidupkan flash handphone masing-masing. Semua mata terkesima.

Sabyan memang sungguh memukau pada acara yang mengambil tema Rumah Keberagaman tersebut. Pelantun sholawat dari kalangan millenial ini berhasil menghipnotis ribuan pasang mata untuk tak beranjak dari lapangan Kantor Gubernur Jambi malam itu.

Memang harus diakui, hiburan yang disajikan itu hanya luapan kegembiraan sesaat ditengah pertumbuhan ekonomi Jambi yang belum menggembirakan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, ekonomi Provinsi Jambi triwulan III Tahun 2019 tumbuh sebesar 4,31 persen (y-on-y). Sementara ekonomi nasional tumbuh 5,1 persen. Artinya pertumbuhan ini dibawah pertumbuhan nasional.

Belum lagi jika berbicara jumlah penggangguran di Provinsi Jambi masih ada 64,67 ribu masyarakat yang mengganggur. Jika dibandingkan dengan tahun 2018, angka pengangguran ini memang turun 2,79 ribu orang atau sekitar 3,62 persen, tapi penurunan ini masih kecil. Terlebih diwilayah pedesaan, yang hanya turun 0,49 poin atau sekitar 3,52 persen.  Mengingat, di tingkat nasional pengangguran turun sebesar 5,01 persen.

Demikian juga dengan persentase penduduk miskin atau penduduk yang pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan di Provinsi Jambi pada Maret 2019 mencapai 7,60 persen dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 274,32 ribu orang. Dimana jumlah penduduk miskin di wilayah perkotaan sebanyak 1,4 ribu orang dan pedesaan sebanyak 159,24 ribu orang.

Sedangkan kalau dilihat dari indeks Kebahagiaan Provinsi Jambi berdasarkan hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) sebesar 70,45 pada skala 0-100.  Indeks kebahagiaan ini dibawah  Indeks kebahagiaan Indonesia yakni 70,69 .

Sehingga jika dilihat dari angka-angka di atas, artinya masih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan seluruh elemen masyarakat, terutama pemerintah provinsi Jambi. Pekerjaan rumah ini tentu PR bersama untuk mewujudkan masyarakat Jambi yang baldatun thoybatun warabbun ghofur. Semoga saja terwujud, bukan hanya sekadar mimpi.

(Penulis adalah warga Muarojambi)

 

Mendes PDT RI Bantu Korban Longsor

JAKARTA – Siang Rabu, 8 Januari 2020 tadi Menteri Desa PDTT bpk H A Halim Iskandar, M Pd meninjau Lokasi Bencana Banjir dan Tanah Longsor. Dalam kegiatan ini, Mendes didampingi Stafsus Iman Aim Ahmad , Dirjen PDTU, Direktur Sarpras beserta Wabup Lebak, Kapolres Lebak, Kadis PMD Lebak, Camat, Apdesi Lebak dan seluruh TPP (Tenaga Pendamping Profesional) se Kabupaten Lebak Banten.

Selain itu juga mengunjungi Posko Pendamping Desa sekaligus meminta informasi terkait bencana dan meminta agar pendamping desa menjadi Garda terdepan dalam membantu para korban.

Bantuan kemanusian diberikan langsung oleh Bapak Menteri Desa PDTT untuk korban Banjir Bandang dan Tanah Longsor di desa Calungbungur Kec. Sajira Kab. Lebak.

Belum Setahun Berdiri, BUMDes Bersama Betara Sudah Untung Puluhan Juta

JAMBI – Kemajuan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) terkadang tidak ditentukan oleh usia. Buktinya, Bumdes Bersama Betara. Meski baru berdiri Agustus 2019 lalu, tapi pada tahun ini sudah bisa memberikan kontribusi  ke Pendapatan Asli Desa (PADes) sebesar Rp 13.035.678 dengan laba Rp. 37.244.795. Jumlah kontribusi ini dibagikan sesuai dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga BUMDes.

”Alhamdulillah kita sudah bisa memberikan kontribusi ke PADes,” terang Direktur Bub3rta, Suroso SPt baru-baru ini.

Dikatakannya, usaha yang dijalankan yakni layanan pembiayaan bunga ringan ke

JUAL BELI : Direktur BUMDes Bersama Betara, Suroso SPt saat serah terima barang dengan masyarakat yang membutuhkan layanan

pada masyarakat. Dimana BUMDes berusaha memberikan layanan penjualan barang kebutuhan sehari-hari kepada masyarakat dengan sistem kredit.  Masyarakatpun  bisa menghubungi BUMDes Bersama Betara ini bagi yang membutuhkan baik itu handphone, lemari es, televisi dan lain-lain.

”Berkat usaha tersebut, kini kami pengurus yang terdiri dari lima orang sudah bisa gajian hingga Rp. 3 juta-an,” ujarnya.

Kedepan BUMDes ini akan mengembangkan usaha wisata. Mengingat, salah satu desa di Kecamatan Betara ada yang memiliki potensi air panas. ”Kedepan insyaallah kita akan mengelola itu,” sebutnya.

Seperti diketahui BUMDes bersama ini didirikan atas dasar Musyawarah Antar Desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa Bersama. Peserta Musyawarah Antar Desa adalah delegasi yang ditunjuk dengan oleh masing2 desa, disetujui dalam Musyawarah Desa dan ditetapkan dalam Peraturan Kepala Desa. Musyawarah Desa yang dilakukan masing-masing desa adalah musyawarah desa pendirian BUMADesa yg mencakup pembahasan setidaknya persetujuan atas latar belakang dan analisis mengapa membuat BUMA Desa, pokok pikiran, dan delegasi dalam Badan Musyawarah Antar Desa. (arm)

ENERGI : Para pengurus BUMDes Bersama Betara

Sumbang PADes Puluhan Juta, BUMDes Tajam Gelar Seribu Tenda Sejuta Cinta

MUARO JAMBI  – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tanjung Lanjut (Tajam) Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muarojambi bekerjasama duta wisata Provinsi Jambi akan menggelar kegiatan seribu tenda sejuta cinta. Kegiatan ini akan mengikutsertakan para mahasiswa dan siswa SMA.

SEJUK : Duta Wisata Provinsi Jambi saat menikmati indahnya alam Danau Tangkas

”Sekitar Februari nanti insyaallah kita akan menggelar kegiatan ini,” ungkap Kepala Desa Tanjung Lanjut, Edi Sugito saat ditemui disela-sela silaturrahmi dengan anggota DPR RI, Sofyan Ali SH, kemarin.

Disebutkannya, kegiatan di desa Tanjung Lanjut tersebut dalam rangka meningkatkan kunjungan ke wisata ke Danau Tangkas yang berada di desa nya. Dirinya berharap, dengan adanya kegiatan tersebut jumlah kunjungan wisata ke sana bertambah meningkat.

”Hari ini ada beberapa wahana yang kita tawarkan, diantaranya bebek-bebekan, spead boat dan perahu dayung. Kedepan wahana ini akan kita tambah dengan rumah pohon, kemudian penyewaan tenda,” tutur datuk Kades yang masih muda ini.

Dirinya mengatakan, selain unit usaha wisata, BUMDes Tajam juga memiliki unit usaha perkebunan sawit. Dan kedepan berencana akan mengembangkan perkebunan sawit dengan bekerjasama dengan masyarakat atau model plasma.

”Hanya saja untuk usaha ini kita masih terkendala modal. Karena ada sekitar 300 hektare lahan warga yang bisa kita kembangkan,” ucapnya.

Ditanya terkait sumbangsih BUMDes ke PADes, dirinya menyebutkan tahun lalu sekitar Rp. 26 juta-an. Sedangkan tahun ini juga masih dikisaran itu. ”Kita harapkan kedepan BUMDes ini semakin maju dan berkembang lagi,” tukasnya. (arm)

 

 

BUMDes PKM di Tebo Sukses Bebaskan Petani dari Jerat Tengkulak

JAMBI – Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Desa Bukit Pamuatan, Kecamatan Serai Serumpun, Kabupaten Tebo,  sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Sejak berdiri tahun 2017, BUMDes Pamuatan Karya Mandiri (PKM) sudah menjalankan berbagai usaha yang sesuai dengan potensi desa. Diantaranya, bergerak dalam usaha pembelian Tanda Buah Segar (TBS) Sawit dan Karet. Unit usaha ini walaupun belum maksimal, tapi sudah bisa membebaskan petani dari jerat tengkulak.

”Ada puluhan petani yang sudah mulai menjual sawit maupun karetnya ke BUMDes,” terang Direktur BUMDes PKM, Abdullah SIP pagi ini.

KERAJINAN : Usaha tenun yang merupakan kerajinan masyarakat desa Bukit Pamuatan yang dipasarkan oleh BUMDes

Dirinya mengatakan, lewat BUMDes harga TBS dan karet bisa di atas tengkulak. Meski terkadang juga sama dengan tengkulak. Tapi, paling tidak saat ini usaha tersebut sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa.

”Alhamdulillah, usaha kami direspons positif,” imbuhnya.

Selain usaha pembelian TBS dan sawit, BUMDes ini juga memiliki usaha penjualan gas elpiji, budidaya lele dan peternakan sapi bali dan kambing. Dia berharap dari berbagai usaha ini bisa menghasilkan laba yang banyak untuk memberikan kontribusi ke PADes.

”Karena saat ini kami masih break event point. Makanya kami mau merampingkan unit usaha, kemungkinan besar untuk jual beli gas kami ganti dengan jual beli bahan bangunan material. Saya lihat dari Tahun 2017 sampai dengan sekarang, desa masih tetap bangun tapi belanja diluar Bumdes,” tukasnya.

Untuk promosi sendiri, BUMDes ini ikut berbagai kegiatan yang dilaksanakan pemerintah. Salah satunya kegiatan pameran pembangunan yang dilaksanakan dalam rangka HUT Provinsi Jambi saat ini. ”Semoga bermanfaat untuk BUMDes kedepan,” ujarnya. (arm)

 

Kebun semangka yang merupakan unit usaha BUMDes PKM