Beranda blog Halaman 148

Halalbilhalal Virtual, Gus Menteri Ingatkan Pendamping Desa Tuntaskan BLT Dana Desa

JAKARTA – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar melakukan Halalbilhalal dengan pendamping desa secara virtual di Jakarta, Rabu (27/5).

Dalam Halalbilhalal tersebut, Gus Menteri, sapaannya, mengingatkan pendamping desa untuk terus membantu desa dalam melakukan penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.

Gus Menteri mengajak pendamping desa semakin bekerja keras agar BLT Dana Desa dapat segera tersalurkan seluruhnya.

“BLT Dana Desa akan kita kejar terus hingga 100 persen tersalurkan. Dengan kerja keras kita, sudah ada 4,9 juta warga terdampak covid-19 sudah bisa menikmati dan mengurangi beban ekonominya,” ujar mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini.

Menurutnya, BLT Dana Desa merupakan bagian penting dari ikhtiar kemanusiaan terkait dampak ekonomi akibat wabah covid-19. Yang mana dalam BLT Dana Desa ini, setiap KPM (Keluarga Penerima Manfaat) akan mendapatkan Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan yakni Bulan April, Mei, dan Juni.

“Dalam momentum yang luar biasa ini, ayo kita teruskan tugas yang menunggu. Kita selesaikan segala urusan yang berkaitan dengan kemanusiaan,” ujar Pria Kelahiran Jombang ini.

Di samping itu, Gus Menteri juga mengajak pendamping desa untuk berdiskusi dan memberikan masukan terkait prioritas penggunaan dana desa tahun 2021.

Ia ingin, prioritas penggunaan dana desa disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan-permasalahan yang terjadi di desa.

“Desa-desa di Papua tidak mungkin disamakan dengan desa-desa di Semarang, desa-desa di NTT (Nusa Tenggara Timur) tidak mungkin disamakan dengan desa-desa di Jawa Timur misalnya. Makanya butuh terobosan-terobosan dan rembuk dari teman-teman pendamping desa juga,” ujarnya.

Selain itu, ia juga mengajak pendamping desa untuk terus melakukan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) masing-masing. Ia menegaskan, bahwa seluruh pendamping desa harus berdaya dan memiliki kapasitas yang mumpuni.

“Saya minta kepada pendamping desa, ayo kita tingkatkan kapasitas kita masing-masing untuk menyongsong masa depan Indonesia,” ujar mantan Ketua DPRD Jombang ini. ( Novri/Kemendes PDTT)

Di Jambi, 817 Desa Sudah Salur BLT DD

JAMBI – Dari 1399 Desa se Provinsi Jambi, sampai hari ini sudah 817 desa yang sudah menyalurkan Bantuan Langsung Tunai dari Dana Desa (BLT DD). Bahkan beberapa desa di antaranya telah melakukan penyaluran BLT Tahap II. Koordinator Program Provinsi Jambi, Edi Endra SP mengatakan, sebelum lebaran seluruh BLT DD tersalur semua.

”Insyaalah, seluruh desa akan tersalur semua,” ujarnya.

Dirinya mengatakan, sebanyak 78 desa akan melakukan penyaluran hari ini. Selebihnya, 68 desa akan melakukan penyaluran besok. ””Sampai saat ini yang terdata sudah 81.035 KK penerima BLT,” sebutnya.

Dia berharap dana BLT ini bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dan bisa meringankan beban masyarakat desa. (arm)

Saatnya Pers Diberi Insentif Ekonomi

Sudah Saatnya Pers Diberi Insentif Ekonomi
Jakarta- Pemberian insentif ekonomi untuk menopang daya hidup pers yang terdampak Pandemi Covid-19, sekarang saatnya segera dilakukan oleh negara.
Pemberian insentif ini bukan hanya untuk kepentingan pers itu sendiri, melainkan supaya pers kuat menjadi sarana komunikasi dalam menanggulangi penyebaran Covid-19 yang hingga kini masih menjadi ancaman utama kesehatan manusia.
Demikian antara lain poin penting yang mengemuka dalam konferensi pers yang diselenggarakan oleh Dewan Pers bersama asosiasi perusahaan pers dan pekerja pers Indonesia bertajuk “Selamatkan Warga, UMKM, Dunia Usaha, dan Pers Indonesia!”, hari Kamis (14/5) pukul 13.00- 14.30 WIB melalui link Zoom.
“Setelah kampanye bersama ini, kita akan melakukan pendekatan pada kementerian-kementerian yang berwenang dalam pemberian insentif ekonomi bagi pers,” kata Anggota Dewan Pers Dr Agus Sudibyo yang memimpin jalannya konferensi pers.
Konferensi pers bersama ini dihadiri Ahmad Djauhar dan Arif Zulkifli, kedua anggota Dewan Pers yang turut menjadi nara sumber, dan perwakilan-perwakilan organisasi pers antara lain Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Firdaus, Ketua Harian Serikat Perusahaan Pers Pusat H Januar P Ruswita, Sekjen Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Mirza Zulhadi, Ketua Forum Pemimpin Redaksi Kemal Gani, Asmono Wikan Sekjen SPS Pusat Asmono Wikan, Ketua AJI Abdul Manan, dan dua editor senior Harian Kompas, Rikard Bagun dan Ninuk Mardiana Pambudy.
Menurut Ketua Umum SMSI Firdaus, pada kenyataannya saatnya ini perusahaan pers perlu mendapat insentif ekonomi dari negara. “Sebagian besar perusahaan pers dari 672 media online yang menjadi anggota SMSI sudah terdampak Pandemi Covid-19. Tidak ada pertumbuhan. Semua jalan di tempat, tidak bisa kemana-mana,” kata Firdaus.
Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan SMSI Pusat, M Nasir yang mengikuti konferensi pers itu menambahkan, dampak pandemi Covid-19 membuat semua program pendidikan dan pelatihan di lingkungan SMSI terhenti, karena terutama menyangkut situasi dan pengadaan dana. “Kerja sama dengan berbagai pihak di bidang pendidikan dan pelatihan untuk anggota SMSI praktis tidak bisa dilaksanakan,” kata Nasir yang berharap keadaan ekonomi kita segera pulih.

Fungsi Strategis Pers
Pentingnya media pers memperoleh insentif ekonomi dan posisinya yang strategis dalam penanggulangan Covid-19, ditegaskan dalam konferensi pers tersebut.
Dijelaskan, keberhasilan menanggulangi pandemi Covid-19 ditentukan oleh keberhasilan dalam menangani komunikasi. Sebaliknya, pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa kegagalan menangani pandemi Covid-19 juga banyak disebabkan oleh kecenderungan meremehkan aspek-aspek komunikasi publik terkait dengan situasi krisis yang sedang terjadi.
Dalam konteks ini, media massa telah bersikap profesional menjalankan fungsinya. Masyarakat membutuhkan informasi terkini soal pandemi Covid-19 berikut analisis terpercaya yang dapat dijadikan sebagai pijakan untuk menilai situasi dan memutuskan tindakan antisipatif.
“Tanpa bermaksud mengabaikan kelemahan yang ada, ruang pemberitaan media massa pers lah yang menyajikan informasi dan analisis tersebut,” demikian bunyi siaran pers yang diterima SMSI.
Dijelaskan pula bahwa pers juga berperan menjembatani proses komunikasi dan arus informasi, sehingga masyarakat terhindar dari simpang-siur tentang skala penyebaran virus, maupun wacana yang asimetris tentang tingkat kegentingan situasi.
Industri Media adalah satu dari sedikit sektor yang tetap harus bekerja dalam situasi krisis belakangan ini. Sektor media tidak boleh berhenti menjalankan fungsi-fungsi komunikatif dan informatif.
Namun, seperti diketahui bersama, pandemi Covid-19 melahirkan krisis ekonomi yang serius. Berbagai sektor industri di Tanah Air menghadapi masa-masa yang suram. Tanpa terkecuali, krisis ini juga memukul industri media nasional.
Bayang-bayang pemutusan hubungan kerja untuk karyawan perusahaan media menjadi semakin nyata, ketika industri media nasional dihadapkan pada perfoma bisnis yang menurun secara drastis, sebagaimana juga terjadi pada sektor lain secara bersamaan.
“Dalam konteks inilah, kami menganggap penting dan mendesak dilakukannya tindakan konkret oleh Negara untuk membantu industri media, para wartawan, dan seluruh pekerja media yang terdampak oleh krisis akibat pandemi Covid-19 ini,” kata Ketua Harian Serikat Perusahaan Pers Pusat H Januar P Ruswita yang selanjutnya membacakan aspirasi bersama.

Aspirasi Bersama
Kami—Asosiasi Perusahaan Media dan Asosiasi Profesi Media—dengan ini mendorong pemerintah untuk menaikkan stimulus di luar stimulus ekonomi sebesar Rp405 triliun yang sudah diputuskan pemerintah. Untuk menyelamatkan daya hidup pers nasional yang sedang menghadapi krisis ekonomi serius akibat pandemi Covid-19, kami menyampaikan aspirasi  sebagai berikut ini. Aspirasi ini kami ajukan sebatas dalam konteks periode pandemi Covid-19:

1. Mendorong Negara untuk tetap mengalokasikan dana sosialisasi kebijakan, program, atau kampanye penanggulangan Covid-19, baik di tingkat pusat maupun daerah untuk perusahaan pers.
2. Mendorong Negara untuk memberikan subsidi harga kertas bagi perusahaan pers cetak sebesar 20% dari harga per kilogram komoditas tersebut.
3. Mendorong Negara memberikan subsidi biaya listrik untuk perusahaan pers sebesar 30% dari tagihan per bulan pada periode Mei – Desember 2020.
4. Mendorong Negara memberikan kredit berbunga rendah dan berjangka panjang melalui Bank BUMN untuk perusahaan pers.
5. Mendorong Negara menangguhkan kewajiban karyawan dan perusahaan pers untuk membayar iuran BPJS ketenagakerjaan selama masa pandemi Covid-19, tanpa mengurangi manfaat yang seharusnya diperoleh karyawan.
6. Mendorong pemerintah menanggung kewajiban karyawan dan perusahaan pers untuk membayar iuran BPJS Kesehatan selama masa pandemi Covid-19.
7. Mendorong negara memaksimalkan pemungutan pajak pendapatan dari perusahaan platform global yang beroperasi di Indonesia seperti antara lain Google, Facebook, YouTube, Twitter, Instagram, Microsoft, dll. Komponen atau hasil pemungutan pajak pendapatan ini penting untuk menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat dan setara, serta layak dialokasikan untuk mengembangkan dan menyelamatkan institusi jurnalisme di negeri ini. (***)

Apa yang Dilakukan BUMDesa di Tengah Pandemic Covid19

Oleh : Susilawati*

SEJAK akhir tahun 2019, wabah virus corona atau Pandemi koronavirus 2019–2020 atau dikenal sebagai pandemi COVID-19 adalah peristiwa menyebarnya penyakit koronavirus 2019 (bahasa Inggris: coronavirus disease 2019, disingkat COVID-19) di seluruh dunia. Penyakit ini disebabkan oleh koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2. Wabah COVID-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020.

Hingga 28 Maret 2020, lebih dari 620.000 kasus COVID-19 telah dilaporkan di lebih dari 190 negara dan teritori, yang mengakibatkan lebih dari 28.800 kematian dan 137.000 kesembuhan.

Virus SARS-CoV-2 diduga menyebar di antara orang-orang terutama melalui percikan pernapasan (droplet) yang dihasilkan selama batuk. Percikan ini juga dapat dihasilkan dari bersin dan pernapasan normal.

Selain itu, virus dapat menyebar akibat menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh wajah seseorang. Penyakit COVID-19 paling menular saat orang yang menderitanya memiliki gejala, meskipun penyebaran mungkin saja terjadi sebelum gejala muncul. Periode waktu antara paparan virus dan munculnya gejala biasanya sekitar lima hari, tetapi dapat berkisar dari dua hingga empat belas hari.

Gejala umum di antaranya demam, batuk, dan sesak napas. Komplikasi dapat berupa pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut. Tidak ada vaksin atau pengobatan antivirus khusus untuk penyakit ini. Pengobatan primer yang diberikan berupa terapi simtomatik dan suportif. Langkah-langkah pencegahan yang direkomendasikan di antaranya mencuci tangan, menutup mulut saat batuk, menjaga jarak dari orang lain, serta pemantauan dan isolasi diri untuk orang yang mencurigai bahwa mereka terinfeksi.
Para sahabat Pendamping Desa di tengah wabah COVID-19 melakukan pendataan terhadap Bumdesa yang terdampak :

Dari data di atas COVID-19 juga berdampak pada usaha yang di jalankan Badan Usaha Milik Desa (BUMDESA) mulai dari penurunan omzet ataupun pengurangan jumlah tenaga kerja,serta adanya penutupan sementara unit usaha. Di setiap provinsi yang telah memiliki BUmdesa hampir setengahnya mengalami dampak dari COVID-19.

Sesuai yang tertuang dalam permendesa no 4 tahun 2015 tentang pendirian,pengurusan dan pengelolaan dan pembubaran Badan Usaha Milik desa terdapat beberapa bidang usaha yang bisa di lakukan oleh Bumdesa yaitu bidang bisnis social, bisnis rental, bisnis perantara, bisnis perdagangan, bisnis keuangan dan bisnis bersama. Dan semua bidang ini mengalami dampak dari COVID-19. Seperti bidang bisnis rental yaitu usaha penyewaan alat pelaminan dan pesta karena adanya Covid-19 BUMDesa tidak bisa lagi menjalankan usaha karena adanya himbauan pemerintah tidak boleh adanya kegiatan yang mengumplkan orang banyak.

Sedang untuk bisnis keuangan seperti simpan pinjam ataupun bumdesa yang bekerjasama denga himpunan bank negara karena masnyarakat yang terlibat dalam simpan pinjam kesulitan dalam mengembalikan pinjaman yang diberikan karena pendapatan mereka menurun sementara nilai pinjaman berkisar Rp 1 juta sampai Rp 3 juta dan peminjam adalah masyarakat yang kegiatannya seperti menjual gorengan, toko kelontong ataupun usaha sarapan pagi dan kerjasama dengan himpunan bank negara itu biasanya di manfaatkan masyarakt dalam melakukan transaksi pengiriman uang utntuk kelaurga yang jauh atau pembayaran tagihan cicilan kredit tetapi karena COVID-19 mereka juga terhambat dalam melakukan pembayaran.

Dari dampak ini perangkat desa dan pengurus BUmdesa sepakat untuk memberi keringanan dalam pembayaran cicilan dengan cara warga hanya membayar semampunya saja dari nilai yang telah di tetapkan dan ini sangat membantu. Dari semua bidang usaha ini ada usaha bersama seperti usaha wisata desa karena usaha ini harus tutup tanpa kecuali dan ini bukan hanya berdampak pada wisatanya saja tetapi juga pada kegiatan penunjangnya seperti jasa kuliner di sekitar wisata, homestay yang memanfaatkan rumah warga dan tentunya jasa parkir. Sementara wisata ini harus tetap terjaga kelangsungannya yang tentunya membutuhkan biaya opersional semetara pemasukan tidak ada.

Upaya apa saja yang dilakukan oleh pemerintah desa dan pengurus BUmdesa?????
Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh BUmdesa dalam hadapi COVID-19 dan Salah satu penangan COVID-19 adalah dengan cara beriam diri dirumah maka apa yang harus dilakukan??

Maka strategi pertama adalah Bumdesa harus focus pada pelayanan jasa antar seperi jasa layanan antar kebutuhan masayarakat akan sembako,pakaian dan kebutuhan lainnya seperti bibit tanaman.

Strategi kedua adalah di karenakan situasi keadaan maka ada baiknya Bumdesa mampu beradaptasi terhadap kebutuhan produk dan jasa. Jika BUMDesa bekerjasama dengan pihak ketiga, terutama menyangkut dengan bahan baku produksi ataupun pemasaran produk maka adakan negosiasi ulang sehingga antara kedua belah pihak tidak meras dirugikan.

Strategi ketiga mengganti bentuk produk awal menjadi bentuk lain seperti jika bumdesa dengan unit usaha penyedia ikan air tawar/ikan laut jika asih ada konsumen yang membutuhkan kesegaran ikan maka tetap di lanjutkan tetapi jika stok ikan masih banyak tetapi sepi peminat maka ikan tersebut bisa di keringkan.

Artinya BUMDesa harus tetap kreatif dalam kondisi seperti ini sehingga potensi desa masih termanafaatkan dengan baik dan strategi lainnya adalah menunda pengembangan usaha baru sampai pendemi COVID-19 ini berlalu.

Strategi terakhir adalah memanfaatkan Dunia Digital yaitu melalukan pengenal produk dan jasa yang di bumdesa melalui ONLINE dan memanfaatkan beberapa aplikasi penjualan yang di sediakan, hal ini juga sudah di lakukan oleh Kementrian Desa, PDT dan Transmigrasi dengan memberi peluang kepada Bumdesa untuk bergabung dengan Media penjualan seperti Shopee dan Tokopedia.

Hal lain yang bisa dilakukan BUmdesa tentunya dituntut adanya kreatifitas dari pengurus ataupun karyawan Bumdesa sehingga bisa meminimalkan resiko kerugian, d antaranya adalah berusaha memanfaatkan kondisi saat ini seperti beralih membuat masker dan handzanitiser, masker yang di buat bisa di jual ataupun di beli oleh pemerintah desa dan di berikan secara gratis kepada masyarkat desa, begitu juga denga handzaniter. Seperti yang dilakukan oleh Bumdesa Karya Madani sejahtera desa Slorok – Garum – Blitar membuat Masker sebanyak 1500 lembar dan Handsanitizer 40Liter, sementara Bumdesa Marga karya desa Marga Mulya sakti – Muko Muko membuat 70 Liter Handsanitizer.

Selain itu BUMDesa dengan unit usaha pengadaan sembako bisa menjadi tempat penerima BLT untuk berbelaja ke Bumdesa sehingga masyrakat tidak lagi mengeluarkan biaya transportasi untuk belanja bahkan BUmdesa bisa memberi pelayanan berupa pengiriman langsung ke rumah warga sesuai pesanan.

Pendemi ini adalah bencana yang menerpa semua lini, tetapi jangan sampai kita terbawa arus dan membiarkan COVID-19 menghabiskan semuanya tetapai jadikan masa ini untuk mempersiapkan bisnis dan tim untuk lebih baik lagi sehingga ketika masa kembali normal maka Bumdesa siap untuk berlayar kembali.

*Penulis adalah TAU Tata Kelola Bumdesa-Bumadesa TPP PUSAT P3MD

Sofyan Ali Distribusikan Sembako Muhaimin ke Seluruh DPC PKB Kabupaten/Kota

0

KOTA JAMBI – Setelah sebelumnya menyalurkan bantuan berupa sembako kepada masyarakat Kota Jambi untuk membantu warga menyambut bulan suci Ramadan 1441 Hijriah, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Jambi Sofyan Ali kembali menyalurkan bantuan berupa sembako. Bantuan sembako kali ini diserahkan Sofyan Ali untuk masyarakat Provinsi Jambi, yang terdampak virus corona (covid-19).

Bantuan sekitar 5000 paket sembako ini berasal dari Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar yang mulai didistribusikan Sofyan Ali kepada 11 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kabupaten/Kota.

Bantuan sembako dibungkus dalam kardus bertuliskan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Gus Ami) dan logo PKB. Sembako tersebut diserahkan Sofyan Ali di Rumah Aspirasi Sofyan Ali Buluran Kenali untuk disalurkan kepada masyarakat yang berhak menerimanya. “Ketua Umum, Gus Muhaimin Iskandar membagikan paket sembako di seluruh Indonesia termasuk Provinsi Jambi. Alhamdulillah Provinsi Jambi kebagian 5 ribu paket,” kata Ketua DPW PKB Provinsi Jambi usai menyerahkan bantuan sembako kepada 11 DPC PKB Kabupaten/Kota, Selasa (12/05).

Dijelaskan Sofyan Ali, bahwa dalam satu paket tersebut terdiri dari 10 kg beras, 2 kg minyak goreng serta 2 kg gula pasir. “Mudah-mudahan ini dapat meringankan beban masyarakat Sumsel di tengah suasana Covid-19,” harapnya.

Masih dikatakan Sofyan, bahwa pembagian sembako ini akan diberikan kepada masyarakat yang terdampak covid-19. Dalam kesempatan ini, Sofyan Ali yang kini sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PKB tersebut mengajak warga yang memiliki rezeki berlebih untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. “Faktanya mereka membutuhkan bantuan untuk sekadar bisa makan. Mereka sangat merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Terutama saat diberlakukan sosial distancing ini,” terang Sofyan Ali.
Seperti saat penyerahan sembako pada awal puasa lalu, Sofyan Ali pun berharap dengan pemberian sembako dari Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar ini paling tidak bisa meringankan beban masyarakat apalagi saat ini menghadapi Lebaran Idul Fitri. “Saya pribadi berharap dengan pemberian sembako ini, paling tidak bisa meringankan beban masyarakat. Saya pikir sekarang ini momen yang tepat untuk membantu mereka apalagi sebentar lagi mau Lebaran Idul Fitri,” terang generasi muda Nahdiyin ini.

Sofyan Ali pun tidak lupa berpesan kepada masyarakat untuk untuk selalu patuh terhadap imbauan pemerintah soal pencegahan Covid-19, karena penyerabaran virus covid-19 ini kian bertambah termasuk di Provinsi Jambi. “Semakin hari penderita virus ini terus bertambah. Oleh sebab itu, kita berharap masyarakat mengikuti imbauan pemerintah, sehingga penyebarannya tidak meluas,” pungkasnya. (mcsa)

Penyerahan Sembako Muhaimin Iskandar oleh Ketua DPW Provinsi Jambi, Sofyan Ali SH kemarin

Kemendes PDTT Bentuk Relawan Desa Lawan Covid-19 dengan Semangat Gotong Royong

JAKARTA – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, menyampaikan bahwa Dana Desa digunakan untuk jaring pengaman sosial bidang kesehatan dan ketahanan ekonomi.

“Yang bidang kesehatan dalam bentuk Desa Tanggap Covid-19, di dalamnya mengatur pembentukan relawan Desa lawan Covid-19 dengan semangat gotong royong,” ujar Mendes PDTT saat memberikan keterangan pers bersama Menko PMK dan Mensos RI, Jumat (8/5).

Kemudian yang jaring pengaman sosial ketahanan ekonomi, menurut Abdul Halim, dalam bentuk Padat Karya Tunai Desa dan dikeluarkan dalam bentuk SE nomor 8 tahun 2020 serta SE nomor 11 tahun 2020.

“Perjalanan berikutnya, Bapak Presiden sebagai wujud komitmen perhatian beliau terhadap rakyat, maka Dana Desa diperintahkan untuk direalokasi untuk digunakan Bantuan Langsung Tunai,” imbuh Mendes PDTT.

Karena bentuknya realokasi, lanjut Mendes PDTT, dan Permen-Permen yang lama belum mengatur tentang Bantuan langsung Tunai maka Kementerian Desa melakukan revisi Permendes nomor 11 menjadi Permendes nomor 6 tahun 2020.

Terkait dengan BLT Dana Desa, menurut Abdul Halim, sasarannya adalah warga miskin yang kehilangan mata pencaharian karena Covid-19 dan belum mendapat apapun dari kebijakan pemerintah.

“Jadi belum dapat PKH, belum dapat Bantuan pangan Non Tunai dan segala bentuk kebijakan jaring pengaman sosial yang ada. Itu sasaran BLT Desa,” jelas Mendes PDTT.

Ditambahkan di sana, lanjut Mendes PDTT, adalah keluarga yang memiliki keluarga rentan sakit menahun atau sakit kronis.

“Kenapa ini dimasukkan? Karena kedekatan antara Covid-19 dengan penyakit-penyakit menahun, seperti darah tinggi, gagal ginjal, jantung, dan seterusnya.

Itulah makanya di dalam indikator dimasukkan sebagai salah satu faktor penerima,” jelas Abdul Halim.

Menurut Mendes PDTT, yang melakukan pendataan adalah relawan Desa Lawan Covid-19 yang sudah dibentuk oleh Kepala Desa dan diketuai langsung oleh Kepala Desa.

Basis pendataannya, menurut Abdul Halim, adalah RT/Rukun Tetangga, masing-masing RT diupayakan minimal di data oleh 3 orang relawan desa.

“Kenapa 3 orang? Karena ini pendataan baru, meskipun merujuk pada DTKS tetapi yang didata adalah mereka keluarga miskin akibat kehilangan mata pencaharian, maka dibutuhkan pendefinisian miskin,” ungkap Mendes PDTT.

Pendefinisian miskin, menurut Mendes PDTT, kalau dipikir indikator terlalu rumit tidak akan bisa ketemu, maka indikatornya adalah mereka yang miskin akibat kehilangan mata pencaharian.

“Pendataan dilakukan oleh tiga orang supaya ada kesepahaman antar lebih dari satu orang bahwa keluarga itu miskin,” tandas Abdul Halim.

Kalau sudah disepakati oleh tiga orang pendata, sambung Mendes PDTT, dimana 3 orang pendata itu adalah warga RT itu pasti sangat paham tentang karakteristik warga di RT itu.

Tahapan terkait dengan pendataan, menurut Abdul Halim, dimulai dari tingkat RT oleh relawan Desa lawan Covid-19 dibawa ke forum yang namanya musdesus/musyawarah desa khusus untuk melakukan verifikasi dan validasi.

“Ini penting supaya tidak ada pihak-pihak yang merasa tidak diajak di dalam membahas dan memutuskan siapa sih yang berhak menerima BLT desa. Setelah disepakati di musdesus barulah ditetapkan oleh Kepala Desa,” ujarnya.

Ini juga, sambung Mendes PDTT, dalam upaya memberikan ruang bagi kepala desa supaya tidak menjadi tumpuan kesalahan ketika ada pendataan- pendataan yang kurang akurat.

Setelah di tingkat desa selesai, Mendes PDTT sampaikan maka data tadi dibawa ke kabupaten agar terjadi sinkronisasi, sehingga harapannya adalah dengan dilakukan sinkronisasi di kabupaten, (maka) tidak ada lagi yang namanya overlapping.

“Karena apapun yang dalam konteks bantuan sosial atau bantuan langsung tunai itu kuncinya 2, yang pertama adalah kecukupan, yang kedua ketepatan sasaran. Dua hal ini tidak boleh ditinggalkan, insyaallah kalau dua hal ini terpenuhi, selesai.

Tidak akan ada masalah.

Cukup barangnya yang akan diberikan, kemudian tepat sasaran,” tambah Abdul Halim.

Untuk ketercukupan, sambung Mendes PDTT, itu salah satu syaratnya adalah ketepatan sasaran.

Ia mengingatkan agar jangan sampai ada keluarga yang menerima lebih dari satu kebijakan.

“Itulah makanya sejak awal di dalam konteks BLT Desa harus mereka yang belum mendapatkan PKH, belum mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai dan bahkan kalau perlu tidak overlapping dengan Kartu Prakerja.

Supaya apa, supaya dana yang ada di APBD juga bisa teralokasikan pada sasaran yang tepat,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Mendes PDTT juga mengharapkan kepada seluruh kepala daerah untuk melakukan percepatan di dalam sinkronisasi data yang sudah disetor oleh desa supaya terjadi percepatan di dalam penyaluran BLT Desa.

“Karena duitnya ada di desa, penanggung jawab penyaluran BLT desa adalah kepala desa, tetapi untuk kepentingan ketepatan sasaran/tidak terjadi overlapping maka diperlukan sinkronisasi dan pengesahan oleh kepala daerah,” terang Abdul Halim.

Oleh karena itu, Ia berharap dukungan dari kepala daerah, bupati dan wali kota, agar data-data yang sudah masuk yang sudah sekian puluh ribu masuk segera diselesaikan dan Desa bisa segera menyalurkan BLT dana desa.

Progres kondisi hari ini, Mendes PDTT sampaikan bahwa secara makro terkait dengan desa yang sudah membentuk relawan itu ada 53.783 desa atau 72% dengan jumlah relawan 1.505.419 orang.

Kemudian, lanjut Mendes PDTT, desa yang telah melakukan pendataan pendatang itu ada 39.199 dan ini mengalami penurunan atau stuck karena ada larangan mudik.

“Ini sangat direspons positif oleh Kepala Desa, oleh relawan Desa, larangan mudik itu karena meringankan beban para relawan desa. Sudah ada 39.199 desa yang sudah menyiapkan pos jaga gerbang desa,” jelasnya.

Terkait dengan BLT desa, Mendes PDTT sampaikan bahwa desa yang sudah melakukan pendataan ada 27.062 desa, sedangkan yang sudah mengalokasikan untuk BLT Desa ada 24.309, dan yang sudah cair per Jumat (8/5), Pukul 11 siang, data terbaru ada 10.000 desa di 80 kabupaten/kota.

“Insyaallah mudah-mudahan janji para kepala daerah setelah kita lakukan, karena pekerjaan kita hari ini adalah melakukan pengawalan sehingga setiap hari ada yang berkomunikasi dengan bupati, ada yang berkomunikasi dengan DPM/ Dinas Pemberdayaan Masyarakat, ada yang berkomunikasi dengan gubernur,” katanya.

Mendes PDTT, di akhir penjelasan, sampaikan telah membagi tugas untuk memastikan Dana Desa segera bisa cair ke yang berhak, dan berharap pada kepala daerah untuk percepatan di dalam pelaksanaan penyaluran BLT Desa. (Mc)

Perjuangkan Nasib Ojek Online, Sofyan Ali Berbicara Lantang di RDP Komisi V DPR RI

0

JAKARTA – Guna melindungi keselamatan penumpang dan pengemudi, anggota DPR RI/MPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Sofyan Ali SH meminta adanya Undang-undang tentang Ojek Online. Mengingat katanya, ojek online hari ini telah memberikan pekerjaan kepada jutaan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, perlu diatur oleh UU. Hal ini disampaikan Ketua DPW PKB Provinsi Jambi tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi V DPR RI dengan Perkumpulan Pengemudi Transportasi dan Jasa Daring Indonesia tadi siang.

”Dan banyak manfaat yang diperoleh, ketika ada UU tentang ojek online ini,” sebut tokoh muda Nadhatul Ulama ini.

Diantara manfaat yang diperoleh lanjutnya, yakni bisa diatur tentang pemasukan pajak pemerintah. Selain itu, ojek -ojek online di daerah, juga bisa mendapat perlindungan lewat peraturan d

Bantu Warga Sambut Ramadan, Sofyan Ali Salurkan Sembako

KOTA JAMBI – Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kembali menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat Jambi. Kali ini, Sofyan Ali menyalurkan bantuan berupa sembako kepada masyarakat Kota Jambi untuk membantu warga menyambut bulan suci Ramadan 1441 Hijriah. Pemberian sembako ini dilakukan di hari pertama puasa, bertempat di Rumah Aspirasi Sofyan Ali Jalan Lingkar Timur, Teluk Kenali, Kota Jambi, Jumat (24/4/2020).

Pemberian sembako dari anggota DPR RI komisi V ini dibagikan oleh kalangan muda Sofyan Ali di Rumah Aspirasi Sofyan Ali. Pada kesempatan ini, Sofyan Ali mengatakan, kegiatan penyaluran sembako tersebut sebagai bentuk kepedulian sesama umat muslim dalam menghadapi bulan suci Ramadan. “Ini bentuk perhatian kepada masyarakat yang terdampak ekonominya akibat pandemi covid-19 ini. Kita menyalurkan kepada menyasarakat sekitar, sehingga penyaluran tepat sasaran,” terang Sofyan Ali.

Ketua DPW PKB Provinsi Jambi ini mengatakan, khusus momentum kali ini sejumlah paket sembako yang disalurkan. “Saya pribadi berharap dengan pemberian sembako ini, paling tidak bisa meringankan beban masyarakat dalam menyambut Bulan Suci yang penuh berkah ini. Apalagi, saat ini kita ketahui dengan adanya covid-19 ini sangat berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Ya mudah-mudan terbantu lah,” terang generasi muda Nahdiyin ini.

Sofyan menambahkan, bantuan tersebut diberikan kepada warga yang membutuhkan seperti yang menganggur karena Covid-19, janda, termasuk masyarakat yang tidak bekerja. “Hari ini kita menyerahkan bantuan sembako kepada masyarakat yang secara langsung terdampak Covid-19. Mudah-mudahan bantuan ini bisa bermanfaat bagi yang menerima. Harapan kita Covid-19 segera berakhir, apalagi saat ini kita sudah memasuki Ramadan. Yang paling penting muadah-mudahan bisa menringankan beban mereka menyambut bulan suci ramadan. Kita ingin bergembira menyambutnya. Inilah yang bisa kita bantu,” katanya.

Pada kesempatan itu, Sofyan Ali juga turut mengajak seluruh masyarakat, untuk patuh terhadap imbauan pemerintah soal pencegahan Covid-19, sehingga penyebaran virus ini tidak meluas. “Semakin hari penderita virus ini terus bertambah. Oleh sebab itu, kita berharap masyarakat mengikuti imbauan pemerintah, sehingga penyebarannya tidak meluas. Kita sama-sama berdoa semoga virus covid-19 ini bisa cepat berakhir,” pungkasnya. (mcsa)

Proses penyaluran bantuan sembako dari Anggota DPR RI/MPR RI dari Fraksi PKB, Sofyan Ali SH di rumah aspirasi Jl Lintas Timur Sumatera, Penyengat Rendah, Telanaipura, Kota Jambi

 

Puasa Sehari Seperti Setahun

Oleh Mohd Haramen, SE,ME.Sy

SUDAH menjadi sifat manusia, kecil usaha, tapi ingin banyak memperoleh keuntungan. Ramadhan menawarkan hal-hal seperti itu. Sedikit beramal, tapi pahala berlimpah ruah. Hal ini seperti pahala puasa di hari kedua besok. Banyak hikmah yang terkandung didalamnya.

Dalam Kitab “Fadhâil Al-Asyhur Ats-Tsalâtsah”, disebutkan,  keutamaan hari ke-2 puasa Ramadhan adalah Allah SWT akan mencatat setiap ibadah orang yang berpuasa seperti berpuasa satu tahun.  Tentunya pahala ini  bisa dicapai jika ibadah puasa dilakukan dengan ikhlas lahir dan batin. Sehingga mendapat pahala yang besar, tidak hanya mendapat lapar dan dahaga saja.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Banyak orang menjalankan puasa, tapi hanya dapat lapar dan dahaga,’’.

Puasa seperti ini tentunya karena puasa hanya secara lahir saja, namun tidak berpuasa secara batin. Sehingga, dalam keadaan berpuasa masih membicarakan orang lain, masih berprasangka buruk, dan sebagainya. Hal ini seperti apa yang disampaikan oleh Imam Al Ghazali yang menyatakan ada tiga tingkatan orang yang berpuasa. Yakni puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintas dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.” Kita tinggal memilih tingkatan puasa seperti apakah kita.

Related: Paling Tidak Ada Empat Bacaan Sholat Yang Wajib Didengar Telinga Sendiri, Apakah Itu ?

Tak hanya pahala puasa saja yang berlimpah ruah. Tapi pahala tarawih juga sangat besar pada malam kedua ini. Diantaranya seperti yang diriwiyatkan oleh

Ali bin Abi Thalib bahwasanya beliau berkata: “Nabi Muhammad SAW, pernah ditanya tentang keutamaan shalat Tarawih di bulan Ramadhan. Kemudian beliau menjawab :

Keutamaan Shalat Tarawih Pada malam pertama, keluarlah dosa orang mukmin (yang melakukan sholat Tarawih) sebagaimana ibunya melahirkan ia didunia. Sedangkan Pada malam kedua, Orang yang melaksanakan Sholat Tarawih akan diampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.

Semoga kita menjaga amaliyah ramadhan kita, sehingga kita menggapai derajat takwa.

(Penulis adalah Sekretaris DPW Lazis NU Provinsi Jambi)

Ramadhan Tiba, Tarawih di Rumah Saja

Oleh : Mohd Haramen SE, ME.Sy

RAMADHAN tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika di tahun sebelumnya, orang berlomba-lomba untuk tarawih di masjid, I’tikaf, hingga buka dan sahur bersama. Berbeda dengan tahun ini, di tengah wabah Corona, ibadah Ramadhan pun dianjurkan dilaksanakan di rumah-rumah masing-masing. Mulai dari ibadah tarawih hingga Idul Fitri pun dianjurkan di rumah saja.

Sedih memang, suka cita sambut Ramadhan seakan menjadi sunyi. Tabu beduk setiap sahur pun mungkin tak terdengar lagi. Tapi itulah yang harus dijalani saat Ramadhan tahun ini. Apa yang dianjurkan oleh ulama untuk melaksanakan ibadah di rumah saja ini bukannya tak beralasan.  Banyak argumentasi yang menganjurkan ibadah di rumah itu lebih utama dibandingkan di masjid saat Corona seperti saat ini.

Diantaranya apa yang pernah disampaikan Pengasuh Pesantren Tegalrejo Magelang, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). Dirinya menyampaikan sholat di rumah bukan berarti takut kepada virus Corona. Namun justru dengan ikhtiar ini umat Islam menaati perintah Allah yang termaktub dalam QS Al-Baqarah: 195 yang artinya: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik,”.

Hal yang sama juga disampaikan Syech Ali Jaber. Dirinya menyampaikan Imam Syafi’i dalam kitab Al Umm menceritakan, dia pernah membolehkan seseorang tidak melaksanakan salat Jumat dan mengganti dengan salat Dzuhur hanya karena khwatir dicari-cari oleh penagih utang. Karena rasa takut yang bisa membuat orang tersebut tidak nyaman melaksanakan ibadah, maka dibolehkan mengganti dengan ibadah di rumah.

Tak hanya itu, Nabi Muhammad SAW pun berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahkan pernah memerintah kepada muadzin agar menginformasikan untuk meninggalkan salat berjamaah dan menggantinya dengan salat di rumah. Karena saat itu, di wilayah tersebut tengah dilanda hujan besar, sehingga membuat jamaah kesulitan datang ke masjid.

Dalam Kitab Al-Minhajul Qawim karya Ibnu Hajar Al-Haitami pun disebutkan, bahwa uzur yang dapat menggugurkan kewajiban mengikuti shalat Jumat dan kesunnahan menghadiri shalat jamaah termasuk shalat tarawih dan shalat idhul fitri, yaitu hujan yang dapat membasahi pakaian, salju, cuaca dingin baik siang maupun malam, sakit (berat) yang membuatnya sulit untuk mengikuti shalat Jumat dan shalat jamaah, dan kekhawatiran atas gangguan keselamatan jiwanya, kehormatan dirinya, atau harta bendanya.

Meskipun kita dianjurkan untuk beribadah di rumah, tapi tidak mengurangi arti dan makna Ramadhan itu sendiri. Justru dengan  stay at home saat seperti sekarang memberikan peluang bagi kita untuk bermujahadah dan menginstrospeksi diri, serta meningkatkan amaliyah Ramadhan. Mungkin dengan banyaknya waktu di rumah akan lebih banyak waktu membaca Qur’an dan mentadabburinya.  Juga akan banyak waktu kita melaksanakan ibadah lain yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selalu ada hikmah di balik musibah. Allah tidak akan membebani makhluknya diluar batas kemampuan kita.  Tetaplah bahagia menyambut bulan yang barokah ini.

(Penulis adalah Ketua DKW Laskar Santri Nusantara (LSN) Provinsi Jambi)