Beranda blog Halaman 25

Resmi Diluncurkan, Gaya Unik dan Fashionable New Honda Scoopy Siap Jadi Tren Baru di Jambi

0

JAMBI, berjambi.com – PT Sinar Sentosa Primatama (Sinsen) Main Dealer sepeda motor Honda di Provinsi Jambi secara resmi meluncurkan skutik yang memadukan desain unik dan gaya fashionable, New Honda Scoopy. Skutik ikonik ini hadir dengan konsep “Totally Unique” yang memberikan kombinasi sempurna antara desain unik, teknologi canggih dan gaya fashionable, menjadikannya pilihan bagi generasi muda yang ingin tampil beda.

Regional Public Launching New Honda Scoopy yang digelar pada Sabtu, 14 Desember 2024 di Teras Mendalo Jambi berlangsung meriah dengan dihadiri puluhan bikers komunitas Honda dan konsumen setia.

Acara ini semakin semarak dengan berbagai aktivitas menarik, seperti penampilan band yang enerjik, cosplay exhibition yang memukau, product exhibition yang menampilkan produk-produk Honda, serta komunitas gathering yang menjadi ajang interaksi para pecinta sepeda motor Honda. Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati promo spesial dan mencoba langsung performa New Honda Scoopy melalui sesi test ride yang memperlihatkan kecanggihan fitur-fitur terbaru dari sepeda motor Honda ini.

General Manager Marketing Sinsen Andrew Attan mengatakan Honda Scoopy telah menjadi salah satu model skutik terfavorit di Indonesia sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2010. Setelah lima kali mengalami pengembangan untuk mengikuti perkembangan tren, model terbaru ini hadir dengan desain yang semakin ikonik dan fitur-fitur canggih yang mendukung gaya hidup modern. Dengan mengusung konsep Totally Unique, New Honda Scoopy kini lebih dari sekadar kendaraan, tetapi menjadi bagian dari ekspresi gaya hidup penggunanya.

New Honda Scoopy dilengkapi dengan berbagai inovasi yang membuatnya semakin menarik. Console box kini hadir dengan kapasitas lebih besar, mencapai 4 liter (naik 1,3 liter dari generasi sebelumnya) sehingga pengguna dapat membawa lebih banyak barang dengan mudah. Desain jok juga mendapatkan pembaruan dengan sentuhan warna dan jahitan baru yang membuat skutik ini semakin bergaya dengan warna coklat pada varian Stylish dan kombinasi hitam-abu pada varian Prestige.

“Desain terbaru pada tata cahaya selain menggunakan teknologi LED Crystal Block pada lampu depan, juga mengalami pembaruan pada desain lampu belakang yang semakin total dengan tampilan unik dan bergaya pada New Honda Scoopy. Untuk meningkatkan keamanan pengendara saat menggeser atau mendorong kendaraan, model ini juga dilengkapi pegangan belakang yang fungsional dengan desain terbaru yang stylish” ujar Andrew.

Dari sisi keamanan, New Honda Scoopy tetap mempertahankan Honda Smart Key System pada tipe Smart Key yang terintegrasi dengan Answer Back System dan Antitheft Alarm, memberikan rasa aman serta kemudahan bagi penggunanya. Panel meter digitalnya dirancang modern dengan informasi yang lebih lengkap, seperti speedometer digital, penunjuk waktu digital, konsumsi bahan bakar rata-rata, real time, tripmeter, indikator Smart Key dan indikator baterai (khusus untuk tipe Smart Key), serta tampilan baru indikator ECO sebagai panduan berkendara efisien. Fitur lainnya adalah Multi-Function Hook yang bermanfaat untuk menggantungkan barang bawaan secara praktis dengan desain yang dapat dilipat saat tidak digunakan. Semua ini dirancang untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi pengendara.

Pada sisi performa kendaraan, New Honda Scoopy hadir dengan mesin yang lebih responsif pada putaran awal hingga menengah untuk memenuhi kebutuhan berkendara dengan mobilitas tinggi. Menggunakan mesin 110cc SOHC dengan sistem pembakaran injeksi PGM-FI yang tergabung dalam rangkaian teknologi eSP (enhanced Smart Power). Berbekal mesin tersebut, model ini mampu menghasilkan tenaga 6,6kW @ 7.500 rpm dengan torsi tertinggi di 9,2 Nm @ 6.000 rpm namun tetap irit dengan konsumsi bahan bakar 59 Km/L. Mesin ini juga memastikan hasil pembakaran yang ramah lingkungan dengan standar emisi Euro 3.

Fitur unggulan lainnya yang dipertahankan pada Honda Scoopy termasuk desain pijakan kaki untuk pembonceng yang terintegrasi dengan bodi, memudahkan pengendara membonceng dengan tetap nyaman dan stylish. Model ini juga mengaplikasikan desain velg terbaru 5 palang yang memberikan nuansa retro serta ban tubeless 12-inch yang fashionable untuk kenyamanan dan rasa aman pengendara.

“New Honda Scoopy bukan hanya alat transportasi, tetapi juga bagian dari gaya hidup yang ekspresif dan memikat. Dengan desain yang unik, fitur-fitur unggulan dan performa unggulan, New Honda Scoopy siap menjadi trendsetter di kelasnya. Segera kunjungi dealer resmi Honda terdekat dan rasakan pengalaman berkendara yang Totally Unique” tutup Andrew.

New Honda Scoopy tersedia dalam 4 varian dengan 8 pilihan warna yang atraktif, memastikan setiap pengendara dapat memilih sesuai gaya dan preferensi mereka. Varian Energetic hadir dengan warna Energetic Silver dan Energetic Red, sementara varian Fashion tersedia dalam warna Fashion Blue dan Fashion Brown. Kedua varian ini dipasarkan dengan harga On the Road Jambi Rp 21.200.000,-.

Untuk pengguna yang menginginkan fitur lebih canggih, varian Stylish dan Prestige dilengkapi dengan Honda Smart Key. Varian Stylish tersedia dalam warna Stylish Red dan Stylish Green, sedangkan Prestige hadir dengan warna Prestige White dan Prestige Black. Keduanya dijual dengan harga On the Road Jambi Rp 22.010.000,-.

Efektivitas Program BOS dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di Jambi

0

Penulis: Siti Jamilah Samaz dan Mega Wati

Pendidikan memiliki peranan penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk mendukung kegiatan tersebut. BOS adalah salah satu kebijakan penting yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia untuk mendukung pembiayaan pendidikan di tingkat dasar dan menengah.

Tujuannya adalah untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan dasar. Melalui program ini, dana operasional disalurkan langsung ke sekolah-sekolah untuk memenuhi berbagai kebutuhan pendidikan. Secara teoritis, program ini mendukung konsep equity in education, yang menekankan pentingnya alokasi sumber daya pendidikan secara adil untuk semua kelompok masyarakat (UNESCO, 2019).

Dana BOS telah memberikan kontribusi nyata terhadap penurunan angka putus sekolah. Adapun jumlah dana yang diluncurkan pemerintah kepada setiap siswa di Jambi sebagai berikut: Rp800.000,00 untuk siswa SD, Rp1.300.000 untuk siswa SMP, dan Rp3.300.000 untuk siswa SMA (pip.kemendikbud.2024). Dana tersebut mampu mempertahankan siswa dari keluarga tidak mampu untuk tetap bersekolah (Wahid et al.2021). Dana ini sering kali digunakan untuk meringankan biaya seperti seragam, buku, dan kegiatan ekstrakurikuler, sehingga mengurangi hambatan finansial bagi orang tua siswa. Selain itu, manfaat lain dari BOS adalah peningkatan kualitas fasilitas dan proses pembelajaran. Kartikasari (2022) mencatat bahwa sekolah dengan kepala sekolah yang terlatih dalam manajemen keuangan cenderung lebih efektif menggunakan dana BOS untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, seperti pengadaan alat peraga dan buku pelajaran.
Meski manfaatnya besar, program BOS masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah ketidakmerataan distribusi dana.

Rasyid dan Purnama (2023) menunjukkan bahwa pendekatan alokasi berbasis jumlah siswa sering kali tidak relevan bagi sekolah kecil di daerah terpencil. Sekolah-sekolah ini sering kali menerima dana yang tidak mencukupi kebutuhan mereka, sementara sekolah besar di perkotaan mendapatkan alokasi yang lebih besar dari kebutuhan sebenarnya.

Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana juga menjadi perhatian. Husna et al. (2023) menemukan bahwa kurangnya sistem pengawasan dan pelaporan yang efektif membuka peluang penyalahgunaan dana.

Namun, penerapan sistem digital berbasis teknologi untuk pelaporan keuangan telah terbukti meningkatkan akuntabilitas dan mendorong kepercayaan publik terhadap program BOS.

Bagaimana kita memastikan efektivitas BOS di Jambi? tentu ada beberapa langkah strategis yang perlu diambil untuk memastikan efektivitas BOS di Jambi. Pertama, pengelolaan dana harus berbasis kebutuhan lokal, bukan hanya jumlah siswa, agar sekolah-sekolah kecil di daerah terpencil mendapatkan alokasi yang memadai. Kedua, pemerintah harus menyediakan pelatihan manajemen keuangan secara menyeluruh bagi kepala sekolah dan bendahara untuk memastikan penggunaan dana yang optimal. Ketiga, implementasi sistem digital untuk transparansi pengelolaan dana perlu diperluas (Husna et al. 2023).

Setelah menelaah berbagai sudut pandang, penulis berkesimpulan bahwa Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan akses dan mutu pendidikan di Jambi, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu, dengan alokasi dana yang digunakan untuk meringankan biaya pendidikan.

Namun efektivitasnya masih menghadapi tantangan, seperti ketidakmerataan distribusi dana dan kurangnya akuntabilitas pengelolaan. Adapun cara mengatasi hal tersebut yaitu sekolah harus dilatih dalam manajemen keuangan, diterapkan pengelolaan berbasis kebutuhan lokal, dan menggunakan sistem digital untuk memastikan bahwa dana digunakan dengan benar.

(Penulis adalah mahasiswa prodi Tadris Matematika Semester 5 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi).

Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Profil Pancasila di Tingkat SMP

0

Nama Penulis : Hikmatul `Arifah, Fitri Lastari, dan Siti Julaehah.

Pendidikan merupakan salah satu fondasi yang berperan penting dalam memperkuat pembangunan Nasional, terutama dalam membina karakter generasi muda serta dapat menentukan kualitas sumber daya manusia yang beriringan dengan perkembangan zaman dan teknologi (Pancasila et al., 2021).

Berdasarkan hal tersebut, pemerintah di Indonesia telah melakukan berbagai upaya secara terus menerus agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Terutama dalam pengembangan kurikulum menjadi lebih efektif dan efisien yang dapat diterapkan pada setiap jenjang pendidikan sesuai dengan kebutuhannya.

Pada saat ini, kurikulum yang dikembangkan berbagai sekolah adalah Kurikulum Merdeka, dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam. Kurikulum ini dilaksanakan dengan menyesuaikan minat serta bakat pada diri masing-masing siswa, yang kemudian diseimbangkan dengan sumber daya satuan pendidik (Masita et al., 2024).

Pengimplementasian Kurikulum Merdeka diawali dengan survei secara elektronik yang dilakukan oleh dinas pendidikan, dengan beberapa model dan variasi yang dapat digunakan oleh masing-masing sekolah yakni; Mandiri Berbagi, Mandiri Berubah, dan Mandiri Belajar. Pilihan terhadap ketiga model tersebut diserahkan kepada sekolah berdasarkan kebutuhan yang menjadi potensi-potensi yang dimiliki serta kesiapan dari sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka.

Pilihan pertama memiliki tingkat paling tinggi pada implementasi kurikulum merdeka (Nari et al., 2022). Merdeka berbagi merupakan program dari kurikulum merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajarnya dan berkomitmen untuk berbagi praktik-praktik baiknya kepada seluruh pendidikan lainnya atau dengan kata lain ingin membagikan ilmunya kepada sekolah lain. (Istiqomah & Haryanto, 2023).

Kurikulum Merdeka dikenal dengan kurikulum terbaru yang diperkenalkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2021 (Apriana et al., 2024). Pada Kurikulum Merdeka ini, ada sebuah projek dengan pengembangan pada karakter pelajar pancasila yang umumnya dikenal dengan nama P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). P5 merupakan kerangka kompetensi yang harus dimiliki setiap siswa di Indonesia. P5 mencakup memiliki iman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berperilaku baik, mandiri, berpikir secara kritis, inovatif, dan saling membantu. P5 ini menjadi acuan utama pengembangan kurikulum di Indonesia.

P5 merupakan suatu usaha peningkatan kualitas pendidikan yang tergolong ke dalam kegiatan kokurikuler berbasis proyek, dengan menggunakan pendekatan pada pembentukan karakter siswa dan dirancang dengan tujuan untuk menguatkan pencapaian kompetensi dasar serta pembentukan karakter. Kegiatan ini dilaksanakan dengan cara yang fleksibel, baik pada aspek waktu maupun pada aspek kegiatan. Kita ketahui bahwa kegiatan P5 pada kurikulum merdeka merupakan gambaran dari gagasan Ki Hajar Dewantara yang menyebutkan bahwa “Hal penting dalam pendidikan bukanlah tentang pembelajaran akademik seperti biasa di kelas, tetapi mempelajari hal lain di luar kelas juga penting. Oleh karena itu, pembelajaran di luar kelas bertujuan agar siswa tidak hanya mendapatkan ilmu tetapi juga dapat menerapkannya” (Masita et al., 2024).

P5 bertujuan untuk memperkuat kompetensi dan karakter siswa sesuai dengan profil pancasila. Dengan demikian, belajar dari lingkungan sekitar, budaya, perubahan sosial akan dapat meningkatkan kepercayaan diri, menumbuhkan kreativitas dan rasa peduli terhadap sekitar (Annisa Intan Maharani et al., 2023). Pendidikan diharapkan dapat mendukung siswa dalam mengasah potensi yang dimiliki agar menjadi anggota masyarakat yang sehat, terdidik, kompeten, inovatif, mandiri, demokratis, bertanggung jawab, serta bertawakal dan berperilaku baik.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi pendidik untuk dapat memahami prinsip-prinsip dari P5, antaranya; 1) Holistik, mengacu pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa, 2) Kontekstual, menyesuaikan dengan keunikan dan keberagaman yang ada di lingkungan pendidikan dan masyarakat sekitarnya, 3) Berpusat pada peserta didik, mendorong siswa berperan aktif dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter, dan 4) Eksploratif, mengeksplorasi nilai-nilai pancasila dalam mengembangkan keingintahuan, kreativitas, dan inisiatif mereka (Siudarmi, 2024).

Dengan demikian, penulis dapat menyimpulkan bahwa kurikulum dapat mempengaruhi kecepatan maupun kelambatan laju pendidikan. Hal tersebut dilihat dari metode yang digunakan seorang guru pada proses belajar mengajar. Dalam memenuhi kebutuhan siswanya guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai profil pancasila ke dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan-kegiatan sekolah.

Guru memiliki tanggung jawab dalam pembelajaran secara akademik maupun pembentukan karakter siswa, baik dalam bentuk moral maupun etika kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perlunya kerjasama antara guru dan siswa dalam pengembangan karakter guna mewujudkan pembangunan nasional dengan berdasarkan prinsip-prinsip dari P5.

(Penulis adalah mahasiswa prodi Tadris Matematika Semester 5 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi).

Kebijakan Full Day School pada SLTA Sederajat, Apakah dapat Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia?

0

Penulis: Asih Anggraini, Nurhasanah, Regina Tiara Sukma

Full day school adalah salah satu kebijakan pada pendidikan di Indonesia. Kebijakan ini diusulkan oleh bapak Muhadjir Effendy beliau adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau mengusulkan kebijakan full day school ini pada tahun 2016 dan sudah terealisasikan sampai saat ini. Pada implementasinya, full day school dilakukan mulai dari pukul 07.00 hingga 15.00 WIB. Akan tetapi, belum seluruh sekolah yang melaksanakan kebijakan full day school di Provinsi Jambi.

Dalam sebuah program maupun kebijakan tentu saja banyak faktor yang muncul baik faktor pendorong maupun faktor penghambat, begitu juga dengan kebijakan full day school. Pada Perpres Nomor 87 Tahun 2017 ada empat hal yang menjadi faktor pendorong kebijakan ini, namun apabila empat hal tersebut tidak terpenuhi maka akan menjadi faktor penghambat terealisasinya kebijakan ini.

Faktor pendorong pada kebijakan full day school bermanfaat untuk kemajuan kebijakan tersebut. Sedangkan faktor penghambatnya bisa dijadikan pelajaran dan dicari solusi sehingga kebijakan yang ada akan lebih sempurna. Terdapat empat hal yang perlu dipenuhi sekolah agar bisa mengimplementasikan kebijakan tersebut, yang tercantum Peraturan presiden Nomor 87 Tahun 2017 yaitu: terpenuhinya pendidik dan tenaga pendidik, adanya sarana dan prasarana di sekolah, menerapkan budaya pengetahuan lokal, dan menerima persepsi tokoh masyarakat maupun tokoh agama di luar Komite Sekolah.
Berdasarkan Peraturan tersebut sudah jelas bahwa ada empat faktor yang harus dipenuhi dalam menerapkan kebijakan tersebut.

Setelah diimplementasikannya kebijakan full day school ini tentu kita bisa melihat bagaimana kelebihan dan juga kekurangan dari kebijakan tersebut. Adapun kelebihan dari kebijakan ini menurut Mamnun (2019), yaitu (1) berkurangnya pengaruh buruk dari kegiatan diluar sekolah, karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar dan kegiatan positif, (2) Pengembangan minat dan bakat siswa, (3) Pengembangan kreativitas guru, (3) Kegiatan siswa dapat terkontrol dengan baik, (4) Siswa dididik oleh tenaga kependidikan yang terverifikasi profesional.

Sedangkan kekurangan dari kebijakan ini menurut Menurut Netti et al (2023:113), yaitu (1) Karena terlalu lama menghabiskan waktu di sekolah dapat menghadirkan rasa jenuh, terutama bagi siswa yang kurang bersosialisasi (2) Perlu adanya monitoring secara berkala (3) Kebutuhan jajan dan biaya makan peserta didik meningkat (4) Kurangnya pengontrolan jajan peserta didik berdampak buruk bagi nutrisi tubuh peserta didik.

Berdasarkan analisis terhadap penerapan kebijakan full day school penulis menyimpulkan bahwa kebijakan ini dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Namun, keberhasilan penerapannya sangat bergantung pada faktor-faktor seperti: meningkatkan kualitas sarana prasarana sekolah, memberikan pelatihan bagi guru, serta melibatkan aktivitas orang tua dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebijakan full day school memiliki kelebihan dan kekurangan. Sehingga penting untuk melakukan evaluasi secara berkala terhadap kekurangan pada kebijakan ini, agar dapat dilakukan penyesuaian yang diperlukan.

(Penulis adalah mahasiswa prodi Tadris Matematika Semester 5 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi).

Peran Sekolah dalam Menghadapi Pergaulan Bebas di Lingkungan Pendidikan SMA

0

Penulis : Della Arindi, Qonita Talita Sakhi,Athifatur Roihana Bari’ah

Apakah kalian bertanya-tanya mengapa pergaulan bebas menjadi ancaman yang begitu nyata bagi remaja, terutama siswa SMA? masa remaja adalah fase pencarian jati diri, penuh dengan rasa ingin tahu yang besar, tetapi sering kali minim pertimbangan matang.

Di tengah pengaruh buruk media sosial, lingkungan yang permisif, dan tekanan kelompok sebaya. Sekolah memiliki tugas penting menjadi tameng yang melindungi sekaligus membimbing siswa agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

Contoh pergaulan bebas dikalangan remaja saat ini hubungan asmara tanpa batasan, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, keterlibatan dalam tawuran atau kekerasan, kecanduan media sosial dan ponografi, kabur dari rumah atau sekolah (Kurniawan, 2019).

Remaja adalah masa yang penuh potensi sekaligus rentan terhadap pengaruh lingkungan. Pendidikan harus menjadi garda terdepan dalam membimbing mereka,” tulis Hurlock dalam bukunya developmental psychology: A Life-Span approach.

Pentingnya peran sekolah sebagai institusi pendidikan yang bertanggung jawab tidak hanya hal akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa agar mampu menghadapi tantangan seperti pergaulan bebas.

Menurut sebuah studi dalam jurnal Youth and Society, salah satu komponen utama yang meningkatkan kemungkinan remaja terlibat dalam pergaulan bebas adalah kurangnya kontrol atas lingkungan keluarga dan sekolah mereka. Dalam situasi ini, sekolah menjadi institusi penting untuk mencegah dan mengatasi perilaku menyimpang tersebut.

Pelajar sekarang menghadapi masalah pergaulan bebas karena mereka mulai dianggap gaul dan hanya mencari kesenangan. Kebudayaan modern mulai bergeser secara bertahap seiring perkembangan zaman, dan norma-norma yang berlaku seolah-olah memudar.

Akibatnya, pacaran dianggap normal dan hamil diluar nikah sudah marak. Berpelukan, berpegangan, berdua-duaan, merokok, dan minum keras semuannya sudah biasa, dan kaum laki-laki menggunakan miras untuk mempererat silaturahmi, padahal itulah yang akan menjadi dasar dari pergaulan bebas.

Masuknya era modernisasi keluarga, yang pada dasarnya bertanggung jawab untuk membentuk perkembangan,kepribadian,dan mengontrol anak-anak untuk memberikan batasan-batasan dalam menjalani kehidupan sosial,mulai semakin terkikis.

Ketidaksadaran orang tua tentang pentingnya aturan bagi remaja menyebabkan remaja merasa bebas untuk menerima informasi apa pun yang mereka dapatkan, yang mengarah pada gaya hidup bebas seperti, berpacaran, merokok, mabuk-mabukan, dan lain sebagainya (Fendri et al, 2020) ditambah lagi dengan kurangnya kesadaran pada diri anak yang yang membuat anak semakin tidak mengerti cara mengontrol diri.

Mencegah pesatnya perkembangan, penyimpangan perilaku seksual disarankan agar setiap anggota keluarga ayah dan ibu berusaha semaksimal mungkin untuk membangun keluarga yang harmonis, terutama ketika memiliki anak remaja, dan ketika mereka berada di usia puber.

Peran sekolah juga sangat penting dalam menghadapi pergaulan bebas pada anak remaja khususnya anak SMA. Dimulai dari Pendidikan karakter yang relevan, sekolah dapat mengintegrasikan nilai-nilai moral etika ke dalam kurikulum melalui Pelajaran seperti agama, Pendidikan kewarganegaraan, atau program khusus tentang kesehatan reproduksi, misalnya sekolah dapat mengadakan seminar tentang bahaya pergaulan bebas dengan melibatkan pakar psikologi atau kesehatan.

Penguatan hubungan guru dan siswa, guru memiliki peran penting sebagai pendamping dan panutan. Dalam bukunya Teacher Leardering and Behavior, Leithwood menekankan bahwa hubungan positif antara guru dan siswa, yang pada akhirnya membantu mereka menjahui perilaku negatif. Guru yang peduli dapat mendeteksi tanda-tanda awal siswa yang mulai terpengaruh pergaulan bebas dan memberikan bimbingan yang diperlukan.

Sekolah dapat menyediakan berbagai kegiatan ekstrakulikuler seperti olahraga, seni atau organisasi siswa, mengisi waktu luang mereka dengan hal-hal yang bermanfaat agar kegiatan ekstrakulikuler mampu menyalurkan energi positif. Studi dalam jurnal Education and urban society menunjukan bahwa keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakulikuler secara signifikan mengurangi resiko mereka terlibat dalam perilaku menyimpang. Konseling dan pendekatan psikologis, sekolah harus menyediakan konselor yang kompeten untuk membantu siswa mengatasi masalah pribadi atau tekanan sosial dengan bimbingan yang tepat, siswa dapat memahami konsekuensi dari tindakan mereka dan membangun strategi untuk menghadapi tekanan dari lingkungan.

Peran sekolah dalam pergaulan bebas di lingkungan SMA sangatlah krusial, dengan pendekatan holistik yang melibatkan pendidikan karakter, pendampingan guru dan konselor, kegiatan edukatif, penerapan aturan yang tegas serta kolaborasi dengan orang tua dan komunikasi, sekolah dapat menjadi benteng yang kokoh dalam membimbing siswa untuk menjalani masa remaja dengan bijak, membentuk generasi bermoral juga menciptakan pendidikan yang sehat dan kondusif.

(Penulis adalah mahasiswa prodi Tadris Matematika Semester 5 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi)

Apakah Peran Program KIP bisa Menjadi Jembatan Emas dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan?

0

Penulis : Geby Aulia Putri Arbella, Dede Dwi Priyanti, Okta Novita Sari

“Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” .
Ini slogan yang digaungkan Ki Hajar Dewantara mengenai pentingnya pendidikan. Menurutnya, pendidikan bertujuan mengembangan kepribadian, pikiran, dan kesehatan anak. Baik itu secara mental maupun fisik.

Menurut Natasya Febriyanti, pendidikan bertujuan membentuk perilaku individu. Agar selaras dengan nilai-nilai dimasyarakat (Baca : Natasya Febriyanti, 2021). Kualitas pendidikan sangatlah berpengaruh terhadap kemajuan suatu negara. Karena semakin baik pendidikan, maka semakin maju sebuah negara. Oleh karena itu, memperbaiki dan mengembangkan sistem pendidikan menjadi hal yang sangat penting. Agar bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Pendidikan yang berkualitas juga mampu meningkatkan daya saing negara. Baik itu di kancah dunia, maupun dalam rangka mempersiapkan generasi emas guna menghadapi tantangan di masa depan (Haerullah & Elihami, 2020).

Fakta yang terjadi saat ini masih banyak tantangan dalam memberikan akses pendidikan yang merata. Menurut data kementerian dalam negeri, jumlah penduduk Indonesia yang merasakan bangku perkuliahan hanya 6,52%. Salah satu penyebabnya yaitu faktor ekonomi. Oleh karena itu untuk mengatasi hal ini, pada masa pemerintahan bapak Susilo Bambang Yudhoyono meluncurkan program bidikmisi. Lalu disempurnakan pada masa pemerintahan bapak Ir. Joko Widodo dengan Program Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk jenjang perguruan tinggi.

Program ini ditujukan untuk membantu mahasiswa dari keluarga pra sejahtera agar bisa mengakses pendidikan yang layak. Melalui bantuan finansial secara langsung mahasiswa dapat memenuhi kebutuhan pendidikan mereka seperti biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), biaya transportasi, dan perlengkapan kuliah.
Program KIP telah memberikan dampak positif, terutama dalam menurunkan angka putus sekolah di jenjang perguruan tinggi.

Sebelum program ini ada, banyak anak tidak melanjutkan karena keterbatasan biaya. Dengan dibuatnya program bantuan KIP, maka akan lebih banyak anak yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi hingga selesai.

Hal ini memberikan mereka kesempatan lebih besar untuk menggapai cita-cita dan memperbaiki kehidupan di masa depan. KIP juga menjadi langkah penting untuk mengurangi kesenjangan pendidikan di Indonesia.
Akan tetapi, di balik pelaksanaannya program KIP ini juga menghadapi beberapa kendala administratif, seperti pendaftaran dan penyaluran dana yang memakan waktu lama.

Keterlambatan ini juga dapat menghambat mahasiswa mendapatkan bantuan tepat waktu. Selain itu, distribusi bantuan tidak selalu merata, terutama di wilayah terpencil. Pemantauan dan evaluasi yang kurang optimal juga menjadi tantangan besar. Sehingga terkadang bantuan tidak sepenuhnya digunakan untuk keperluan Pendidikan (Wahid Annisa, dkk.,2024).

Dari beberapa kendala yang ada, terdapat pula masalah teknis seperti penyalahgunaan program, pemalsuan atau penyalahgunaan kartu KIP oleh pihak yang tidak berhak. Hal ini tentu mengurangi efektivitas program dalam membantu mahasiswa yang benar-benar membutuhkan.

Untuk itu, penulis berharap pemerintah akan meningkatkan pengawasan, memperbaiki sistem administrasi, dan menindak tegas setiap pelanggaran yang ada. Dukungan dari masyarakat juga sangat penting untuk mengawasi pelaksanaan program ini agar yang mendapatkan bantuan sampai ke tangan yang membutuhkan.

Dengan upaya bersama, diharapkan program KIP bisa terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi anak di seluruh Indonesia.

(Penulis adalah mahasiswa prodi Tadris Matematika Semester 5 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi).

Kebijakan Assessment Nasional dalam Evaluasi Pembelajaran untuk Pemerataan Pendidikan

0

Penulis: M. Yanche Gustyandani, A. R Farhan Fuadi R, M. Nugraha Gusfiito

ASESMENT Nasional (AN) merupakan kebijakan evaluasi pembelajaran yang diterapkan pemerintah. Ini bertujuan mendorong dan memfasilitasi perbaikan kualitas pembelajaran. Kebijakan ini mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek, 2024). Asesmen Nasional mencakup tiga komponen utama, yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter, dan survei terkait lingkungan belajar (Albertus, 2021).

Kebijakan Asesmen Nasional mendorong pemerataan pendidikan dengan memetakan kualitas pembelajaran di seluruh wilayah. Ini mengidentifikasi kesenjangan, serta memberikan rekomendasi perbaikan berbasis data.

Pemerintah juga mendorong sekolah dan dinas pendidikan untuk berkonsentrasi pada peningkatan mutu pembelajaran, dari pada hanya mengejar nilai.

Program Asesmen ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun untuk menampilkan dan memetakan sistem, input, proses, dan output dari pendidikan.

Program Asesmen Nasional juga berguna untuk mengetahui sejauh mana keefektifan pembelajaran.  Dan pencapaian kurikulum yang telah terpenuhi oleh siswa di Indonesia, dengan rancangan yang telah di buat Kemendikbud.

Asesmen Nasional sendiri memiliki tujuan untuk menilai kemampuan dasar yang siswa miliki dari jenjang sekolah dasar hingga menengah (seperti literasi, numerik, dan juga karakteristik siswa itu sendiri). Selain itu, juga berguna menilai kualitas mutu sekolah (lingkungan disekolah yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya pembelajaran). Serta untuk meningkatkan sistem serta efektivitas dalam pendidikan dengan melihat data yang diperoleh guna perbaikan kebijakan pada pendidikan.

Menurut Waizah dan Herwani (2020), tujuan Asesmen Nasional adalah untuk menilai sejauh mana siswa menguasai kompetensi, mengukur keberhasilan proses pembelajaran, memastikan tindak lanjut dari hasil evaluasi. Ini guna memberikan akuntabilitas sekolah kepada orang tua dan masyarakat, serta mendukung perbaikan dalam kegiatan belajar dan mengajar.

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada tahun 2021, program Asesmen Nasional (AN) diperkenalkan sebagai pengganti Ujian Nasional (UN). Program AN dan UN ini merupakan evaluasi pendidikan yang bertujuan untuk menilai kualitas pendidikan di tingkat nasional. Namun, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya, yaitu AN tidak menilai pencapaian individu peserta didik secara langsung, melainkan melakukan evaluasi menyeluruh dan berkala untuk memetakan kondisi pendidikan.

Selama proses ini, evaluasi pembelajaran menjadi fokus utama. Evaluasi ini mencakup penilaian terhadap metode pengajaran, ketercapaian kompetensi siswa, serta relevansi materi dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk mengembangkan dan memperbaiki strategi pembelajaran di masa mendatang.

Pelaksanaan evaluasi mengacu pada metode pengumpulan data secara berkala. Data ini kemudian dianalisis untuk menilai keefektifan pengajaran, seberapa baik pencapaian tujuan utama program pendidikan, dan hasil yang diharapkan.

Evaluasi dalam pendidikan juga berarti mengukur atau mengamati proses serta menilai dan menentukan nilainya dengan melihat perbandingan sesuai standar penilaian yang telah ditetapkan (Adom, Dickson, 2020). Asesmen Nasional ini membantu pemerintah dalam mengidentifikasi disparitas kualitas pendidikan di berbagai wilayah.

Hasil AN yang diperoleh tersebut digunakan pemerintah untuk mengevaluasi pembelajaran dan menentukan daerah-daerah yang memerlukan intervensi atau tindakan yang lebih lanjut dengan data AN yang dimiliki.

Dengan data dari AN, distribusi sumber daya pendidikan menjadi lebih merata. Pemerintah sekarang dapat meberikan fasilitas dan dukungan tambahan ke sekolah-sekolah yang membutuhkannya.

AN juga mendorong akuntabilitas pemerintah daerah dan tingkat sekolah. Akuntabilitas ini mendorong sekolah untuk bertanggungjawab atas hasil pendidikan yang dicapai dan terus melakukan perbaikan, akuntabilitas ini mendorong sekplah diseluruh Indonesia untuk meningkatkan pendidikan.

Hal ini sejalan dengan pernyataan yang disampaikan oleh Kemendikbudristek bahwa AN “memacu semua pihak untuk terus berinovasi dan berkolaborasi demi pendidikan yang lebih baik” (Kemendikbudristek, 2021).

Dengan demikian, penulis sampai pada kesimpulan bahwa program Asesmen Nasional ini sangat penting untuk mendukung pemerataan pendidikan di indonesia. Melalui identifikasi anomali, intervensi berbasis data, peningkatan proses pembelajaran, dan pembagian sumber daya yang merata, AN membantu membangun sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkualitas. Pemerintah, sekolah, guru, dan seluruh pemangku kepentingan harus memaksimalkan hasil AN, agar setiap anak di Indonesia mendapatkan peluang yang setara untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Melalui aktivitas program pelaksanaan Asesmen Nasional, diharapkan terciptanya sistem pendidikan yang inklusif, berkeadilan dan relevan dengan kebutuhan masa depan.

(Penulis adalah mahasiswa prodi Tadris Matematika Semester 5 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi).

Kebijakan Sistem Zonasi untuk Penerimaan Siswa Baru Disekolah

0

Penulis : Ratih Wijayanti, Meisy Puspita Sari

APAKAH kalian pernah mendengar tentang sistem zonasi yang diterapkan dalam Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)? Kebijakan ini dibuat dengan tujuan untuk memastikan kesetaraan dalam kesempatan akses pendidikan dan telah menjadi pembahasan yang menarik di kalangan masyarakat. Meski begitu, pelaksanaannya dihadapkan dengan berbagai tantangan yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan penting, seperti apakah penerapan sistem zonasi sungguh efektif dalam mencapai kesetaraan pendidikan?

Menurut Pasal 16, semua sekolah di daerah tersebut wajib menerima setidaknya 90% dari siswa baru yang berasal dari daerah sekitar. Ini adalah revisi dari peraturan No. 17 tahun 2017 tentang pendidikan dan kebudayaan, yang belum berhasil meningkatkan pendidikan di sekolah-sekolah nasional. Penerapan undang-undang ini telah memicu berbagai debat di kalangan masyarakat umum. Sebagai tanggapan terhadap situasi yang disebutkan di atas, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan peraturan baru untuk menegakkan Permendikbud No. 14 Tahun 2018, yang dianggap agak tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat umum. Kementerian Pendidikan juga menyarankan pemerintah daerah untuk mengintegrasikan kebijakan zonasi dalam Petunjuk Teknis (Juknis) penerimaan peserta didik baru (PPDB).

Sistem zonasi sekolah menerima siswa baru berdasarkan tempat tinggal mereka. Program ini memiliki sejumlah manfaat, seperti memastikan pemerataan akses dan kualitas pendidikan, menjalin hubungan antara lingkungan sekolah dan keluarga, mengurangi eksklusivitas serta diskriminasi, mendukung pemetaan kebutuhan serta distribusi guru, mendorong kreativitas pendidik, dan membantu pemerintah daerah dalam menyediakan bantuan pendidikan (Kemdikbud, 2024).

Berdasarkan Mahpudin pada 2020, kebijakan zonasi bertujuan menyusun pedoman penerimaan siswa baru untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah (SMP dan SMA). Pelaksanaan kebijakan ini di tingkat daerah dilakukan secara teknis dengan mempertimbangkan hasil musyawarah kerja kepala sekolah (MKKS).

Penerapan sistem zonasi menghadapi berbagai tantangan, salah satunya disebabkan oleh kurangnya sosialisasi yang melibatkan camat, lurah, kepala sekolah, dan masyarakat. Upaya sosialisasi ini belum sepenuhnya efektif menjangkau orang tua atau wali murid, sehingga banyak di antara mereka yang belum memahami konsep dan tujuan utama dari sistem zonasi. Ketersediaan operator daring masih kurang optimal, ditambah dengan keterbatasan kemampuan teknologi yang dimiliki oleh sebagian orang tua atau wali murid, yang menghambat mereka dalam memantau perkembangan proses evaluasi daring.

Sistem zonasi sendiri mempunyai dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif, memberikan manfaat kepada calon peserta didik yang tinggal dekat karena meskipun nilai ujiannya tidak tinggi, mereka tetap dapat diterima di sekolah terdekat. Pemerataan pendidikan menjadi lebih mudah tercapai melalui sistem zonasi pendidikan. Setiap orang dapat belajar di sekolah yang mereka pilih tanpa khawatir akan ditolak oleh calon siswa dengan keunggulan akademik atau non-akademik (Riski Tri Widyastuti, 2020).

Dampak negatif bagi siswa dan pendidik, antara lain: beberapa guru mengeluh bahwa siswa memperoleh nilai yang terlalu tinggi di bawah KKM (terutama dalam mata pelajaran teori yang terlalu banyak), semakin banyak pelanggaran tata tertib seperti membolos, terlambat, berkelahi, tidak mengenakan atribut lengkap, dll, menjadi lebih sulit untuk membimbing siswa, munculnya pelanggaran baru yang belum pernah terjadi sebelumnya, peningkatan jumlah siswa yang timbulnya geng-geng negatif yang berasal dari institusi pendidikan sebelumnya, banyak perkelahian terjadi di luar sekolah karena pengetahuan tentang lingkungan sekitar dan kebiasaan buruk dibawa ke sekolah dari rumah (Sentot Setia Budi).

Menurut penulis, kebijakan sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dibuat dengan tujuan menjadikan akses pendidikan merata dan mengurangi perbedaan di antara sekolah. Secara garis besar, meskipun sistem zonasi memberikan berbagai keuntungan dalam mempromosikan kesetaraan pendidikan, tantangan dalam pelaksanaannya serta disparitas kualitas sekolah tetap menjadi fokus utama yang perlu diatasi oleh pemerintah.

Diperlukan langkah yang lebih baik dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan mengelola sistem zonasi agar kebijakan ini dapat memberikan manfaat yang optimal.

(Penulis adalah mahasiswa prodi Tadris Matematika Semester 5 UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi).

Peran Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Sekolah Dasar

0

Oleh : Yurakes Ernanda

Pendahuluan
Pendidikan memegang peranan penting dalam membangun peradaban bangsa. Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan Indonesia, mengemukakan bahwa pendidikan bertujuan untuk membimbing segala kekuatan kodrat anak. Agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat yang dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Dalam hal ini, pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian, karakter, dan pola pikir peserta didik.

Di tingkat sekolah dasar (SD), pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam membangun landasan awal intelektual, emosional, sosial, dan moral anak. Menurut Jean Piaget (1952), anak usia sekolah dasar berada pada tahap perkembangan konkret-operasional, di mana mereka belajar melalui pengalaman nyata dan mampu memahami hubungan sebab-akibat.

Tahap ini menjadi momen krusial dalam membentuk pola pikir yang kritis dan kreatif. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga memiliki dasar filosofis yang kuat.

Filsafat ilmu, sebagai kajian mendalam tentang ilmu pengetahuan, memberikan panduan bagaimana ilmu harus diajarkan, dipahami, dan diaplikasikan. Menurut Jujun S. Suriasumantri (2012), filsafat ilmu membantu pendidik memahami hakikat ilmu pengetahuan, metode pengajaran, dan tujuan dari proses belajar-mengajar. Dengan mengintegrasikan filsafat ilmu dalam pendidikan, guru dapat memastikan bahwa pembelajaran tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga aspek moral dan etika.

Namun, dalam praktiknya, pendidikan sering kali hanya berfokus pada pencapaian akademik, mengabaikan pengembangan karakter dan kemampuan berpikir kritis. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, terutama di era modern yang menuntut generasi muda untuk mampu berpikir kreatif, bekerja sama, dan memiliki integritas. Filsafat ilmu memberikan landasan bagi guru untuk merefleksikan praktik pengajaran mereka dan memastikan bahwa tujuan pendidikan tercapai secara holistik.

Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang secara khusus mengkaji ilmu pengetahuan, baik dari segi hakikat, proses, maupun tujuan penggunaannya. Secara umum, filsafat ilmu membahas pertanyaan mendasar seperti: Apa itu ilmu? Bagaimana ilmu diperoleh? Apa tujuan ilmu? Dan apa manfaat ilmu bagi kehidupan manusia? Kajian filsafat ilmu memberikan landasan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan penggunaannya dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan.

Menurut Jujun S. Suriasumantri (2012), filsafat ilmu adalah refleksi kritis terhadap cara manusia memahami ilmu. Filsafat ilmu menjelaskan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang berdasarkan prinsip-prinsip rasionalitas dan sistematika, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan kata lain, filsafat ilmu membantu kita untuk memahami mengapa ilmu dibutuhkan, bagaimana ilmu dikembangkan, dan bagaimana ilmu dapat diaplikasikan untuk kepentingan praktis.

Archie J. Bahm (1995) mendefinisikan filsafat ilmu sebagai studi tentang dasar, sifat, dan batas-batas ilmu pengetahuan. Ia menegaskan bahwa filsafat ilmu tidak hanya membahas validitas dan kebenaran dari suatu ilmu, tetapi juga menyoroti implikasi moral dan etis dari ilmu tersebut. Pandangan ini relevan untuk memastikan bahwa ilmu tidak hanya bermanfaat, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial.
Dalam kajian filsafat ilmu, terdapat tiga aspek utama yang menjadi fokus, yaitu:

1. Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat ilmu yang membahas hakikat keberadaan atau realitas dari suatu ilmu. Menurut Wibisono (2018), ontologi berfokus pada pertanyaan seperti: “Apa yang menjadi objek kajian ilmu?” Dalam konteks pendidikan, ontologi membantu memahami apa yang sebenarnya diajarkan kepada siswa dan apa nilai yang terkandung di dalamnya.

2. Epistemologi
Epistemologi adalah cabang filsafat ilmu yang membahas tentang bagaimana ilmu diperoleh. Menurut Sanusi Hasan (2007), epistemologi mencakup metode, teknik, dan prosedur yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Dalam pendidikan sekolah dasar, epistemologi berperan penting dalam menentukan metode pengajaran yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak.

3. Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat ilmu yang membahas manfaat dan nilai dari ilmu pengetahuan. Jujun S. Suriasumantri (2012) menyebutkan bahwa ilmu pengetahuan harus memiliki manfaat praktis dan nilai etis dalam kehidupan. Dalam pendidikan, aksiologi memastikan bahwa ilmu yang diajarkan kepada siswa tidak hanya berguna secara akademik, tetapi juga membentuk karakter dan moral mereka.
Dalam konteks pendidikan, filsafat ilmu tidak hanya mencakup transfer pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap kritis dan memahami nilai-nilai di balik ilmu yang diajarkan.

Peran Filsafat Ilmu dalam Pendidikan Sekolah Dasar

1. Membentuk Landasan Pemikiran Pendidikan
Filsafat ilmu membantu merumuskan tujuan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Di tingkat SD, pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik. Dengan filsafat ilmu, guru dapat memahami pentingnya pendekatan holistik dalam pendidikan yang melibatkan pengembangan intelektual, emosional, sosial, dan spiritual anak.

2. Mengembangkan Metode Pembelajaran yang Tepat
Filsafat ilmu memberikan panduan bagi guru untuk memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Misalnya, pada tahap perkembangan konkret-operasional (menurut teori Piaget), siswa SD lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman langsung dan kegiatan praktis. Filsafat ilmu membantu guru dalam memahami pentingnya pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dan pendekatan konstruktivis.

3. Meningkatkan Pemahaman tentang Hakikat Ilmu Pengetahuan
Di tingkat SD, siswa diperkenalkan pada berbagai disiplin ilmu seperti matematika, sains, dan bahasa. Filsafat ilmu membantu guru memahami hakikat dari masing-masing bidang ilmu tersebut sehingga dapat disampaikan dengan cara yang relevan dan mudah dipahami. Guru juga diajak untuk menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan terus berkembang.

4. Menanamkan Nilai-nilai Etis dalam Pembelajaran
Filsafat ilmu tidak hanya membahas pengetahuan secara teknis, tetapi juga menekankan pentingnya etika dalam penggunaan ilmu. Di SD, nilai-nilai seperti kejujuran, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab dapat diajarkan melalui pendekatan yang mengintegrasikan filsafat ilmu. Misalnya, ketika mengajarkan sains, guru dapat menekankan pentingnya tanggung jawab terhadap lingkungan.

5. Mendorong Pemikiran Kritis dan Kreativitas Siswa
Salah satu aspek penting dalam filsafat ilmu adalah mendorong sikap kritis terhadap fenomena dan informasi. Di SD, ini dapat diterapkan dengan memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya, mengeksplorasi, dan berpikir kreatif. Contohnya, guru dapat mengajak siswa berdiskusi tentang permasalahan sederhana di sekitar mereka, seperti cara mengurangi sampah di sekolah, sehingga membiasakan anak berpikir solutif sejak dini.

6. Memperkuat Kompetensi Guru
Guru di SD perlu memiliki pemahaman mendalam tentang konsep-konsep pendidikan yang mereka ajarkan. Dengan menerapkan filsafat ilmu, guru dapat merefleksikan praktik pengajaran mereka dan terus meningkatkan kompetensi profesional. Guru yang memiliki landasan filsafat ilmu yang baik akan lebih mampu menghadapi tantangan dalam mendidik siswa dengan berbagai latar belakang dan kemampuan.

Implementasi Filsafat Ilmu dalam Pendidikan SD

Untuk mengintegrasikan filsafat ilmu dalam pendidikan SD, beberapa langkah praktis dapat diambil :

Pengembangan Kurikulum Berbasis Nilai : Kurikulum harus dirancang untuk mencakup dimensi moral, etika, dan pemikiran kritis.

Pelatihan Guru : Guru perlu diberikan pelatihan tentang filsafat ilmu dan aplikasinya dalam pembelajaran.

Pendekatan Interdisipliner : Menghubungkan berbagai disiplin ilmu untuk memberikan gambaran yang lebih holistik kepada siswa.

Refleksi dan Evaluasi Pembelajaran: Guru dan siswa diajak untuk merenungkan proses pembelajaran, sehingga tercipta budaya belajar yang terus berkembang.

Kesimpulan
Filsafat ilmu memainkan peran penting dalam pendidikan sekolah dasar karena membantu membangun landasan berpikir kritis, etis, dan kreatif. Dengan memanfaatkan filsafat ilmu, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan bagi siswa.

Selain itu, filsafat ilmu juga mendorong pengembangan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hasil akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter anak sebagai individu yang utuh.

Dengan demikian, filsafat ilmu menjadi elemen kunci dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar.

(Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Kependidikan Universitas Jambi)

Ghazwan Zaid Arfa : Anak Jambi Juara 1 Bidang Sains di Australia

0

Sydney-Australia. Prestasi gemilang kembali terukir oleh putra-putri Indonesia di kancah internasional. Kali ini, Ghazwan Zaid Arfa (12 tahun), siswa asal Jambi, berhasil mengukir sejarah dengan meraih penghargaan bergengsi di Belmore Boys’ High School, Australia.

Dalam acara Presentation Ceremony Day yang diselenggarakan pada 10 Desember 2024, Zaid—sapaan akrabnya—dinobatkan sebagai juara pertama bidang sains. Prestasi ini semakin membanggakan mengingat Zaid baru saja dua bulan aktif bergabung di sekolah tersebut.

Acara tahunan yang dihadiri seluruh guru, orang tua siswa, dan undangan terhormat seperti anggota dewan Canterbury Sophie Cotsis ini menjadi momen istimewa bagi para siswa untuk mendapatkan pengakuan atas prestasi mereka di berbagai bidang, mulai dari musik, olahraga, teknologi, hingga sains.

“Ya senanglah Om, Zaid bersyukur banget mendapatkan penghargaan ini,” ungkap Zaid dengan senyum bahagia usai menerima penghargaan. Saat ini, dia mengikuti orangtuanya yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Sydney, Australia.

Tidak hanya menorehkan prestasi di bidang akademik, alumni Quhas School Jambi ini juga aktif dalam kegiatan non-akademis. Ghazwan tercatat sebagai siswa berprestasi dengan berbagai pencapaian, mulai dari Tahfiz Quran, fashion show, hingga aktif dalam beragam cabang olahraga seperti sepak bola, tenis, dan bela diri Kempo. Baru-baru ini anak sulung Bahren Nurdin ini juga terpilih sebagai salah satu pemain Elite Soccer Program (EFP) di sekolahnya. Ini adalah klub bola terbaik di sekolahnya yang beranggotakan siswa terpilih karena memiliki kemampuan sepak bola luar biasa.

Wella Sandria, ibunda Zaid, mengungkapkan rasa bangganya. “Kami sebagai orang tua hanya ingin mendukung anak-anak agar terus belajar dengan baik dan meridhoi cita-cita mereka Kami bersyukur dan mendo’akan mereka semoga selalu dalam penjagaan Allah. Aamiin”, katanya di sela mendampingi anak tercinta menerima penghargaan.

Meski telah meraih prestasi gemilang, Zaid tampak rendah hati. Ketika ditanya tentang target ke depan, dia hanya tersenyum dan menjawab, “Yang penting juara, Om!”—menunjukkan semangat dan kegembiraan yang menular.

Prestasi Ghazwan Zaid Arfa sekali lagi membuktikan bahwa anak-anak bangsa, khusunya ‘budak’ Jambi, selalu memiliki potensi luar biasa yang siap bersaing di kancah internasional.